Citra Burung Gagak Pintar

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 14/05/2019

Di balik mitos yang menyeramkan, gagak ternyata memiliki kecerdasan tinggi.

 

Sekujur tubuh—termasuk paruh—berwarna hitam menyebabkan gagak identik dengan mitos-mitos yang menyeramkan. Masyarakat Inggris menganggap gagak Corvus sp. sebagai pertanda kehadiran seorang penyihir.

Gagak menggunakan berbagai cara untuk mencari makan agar bertahan hidup.

Suku Indian Cherokee di Benua Amerika juga menganggap kehadiran gagak sebagai pertanda bencana. Begitu juga dengan masyarakat Eropa yang menganggap gagak jelmaan Dewi Morrigan, yakni dewi yang selalu muncul saat perang dan kematian.

Masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, juga meyakini kehadiran gagak sebagai pertanda kematian. Bila ada gagak hinggap dan bersuara di suatu tempat, maka di sekitar tempat si gagak hinggap akan ada yang meninggal.

Di balik penampilannya dan juga mitos yang menyeramkan, hewan anggota famili Corvidae itu ternyata memiliki berbagai keistimewaan. Manusia belajar menguburkan jenazah dari gagak. Allah SWT justru menyanjung sang gagak dengan memberikan tugas mengajari manusia generasi pertama di bumi cara menguburkan mayat. Kisah itu diceritakan dalam Alquran Surat Almaidah ayat 31.

“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. (Qabil) berkata, ‘Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Maka, jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” Menurut ahli tafsir Alquran, Ibnu Katsir, ayat itu terkait dengan kisah dua anak Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil yang berseteru tentang persembahan kurban.

Surat Almaidah ayat 27 menyebutkan, “Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.’” Qabil pun membunuh Habil. Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah kehidupan manusia.

Oleh sebab itu, Qabil kebingungan apa yang harus dilakukan terhadap mayat saudaranya. Akhirnya Allah menyuruh burung gagak untuk memberikan contoh cara memperlakukan mayat dengan cara menguburnya.

Gagak sedang berusaha mengambil makanan di dalam lubang pipa besi yang sempit.

Seekor burung gagak datang kepada seekor gagak lainnya yang telah mati. Gagak itu menggali tanah, lalu menguruk gagak yang mati hingga tertimbun tanah. Qabil pun melihat kejadian itu, lalu menirunya. Menurut anggota staf pengajar Institute of Biological Science University of Malaya di Malaysia, Bibi Shaswani Zulbadri, M.Sc., kisah burung berkaitan dengan berbagai peristiwa penting dalam Alquran menunjukkan hewan itu memiliki kelebihan.

Shaswani menyebutkan dalam disertasinya yang berjudul Morphological and Histological Study of the Brain of Corvus splendens, burung gagak tergolong salah satu jenis burung yang memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya kecerdikan dalam mencari makanan. Hewan itu mampu mengatasi berbagai kendala saat mencari makan. Gagak menggunakan potongan roti sebagai umpan untuk mendapatkan ikan.

Ada juga laporan tentang kecerdasan gagak yang menaruh kacang di tengah jalan agar terlindas kendaraan. Begitu kulit kacangnya pecah terlindas, sang gagak lalu mengambil dan menyantapnya. Para peneliti seperti Christopher David Bird dan Nathan John Emery menguji kecerdasan gagak. Christopher David Bird dari Departemen Zoologi, University of Cambridge, dan Nathan John Emery, dari School of Biological and Chemical Sciences, Queen Mary University of London, keduanya di Inggris.

Gagak memiliki daya ingat yang kuat terhadap pasangan meski pernah terpisah jauh dan dalam jangka waktu lama hingga 3 tahun.

Mereka meniru kisah dalam fabel karya Aesop, budak dan penutur cerita yang hidup pada zaman Yunani kuno, yakni 620—564 sebelum masehi. Aesop menceritakan seekor gagak yang kehausan, lalu berusaha meminum air di dalam kendi, tapi tidak terjangkau paruhnya sehingga sulit mengambil air. Sang gagak lalu mengambil beberapa batu menggunakan paruhnya, lalu memasukkannya ke dalam kendi.

Akhirnya, ketinggian air dalam kendi terus naik sehingga bisa dijangkau oleh paruh sang gagak. David dan John meniru kisah itu. Christopher David Bird dan Nathan John Emery memberikan tantangan kepada 4 gagak Corvus frugilegus hasil tangkaran. Mereka menuangkan air pada sebuah tabung plastik yang tinggi dan ramping hingga ketinggian tertentu yang sulit dijangkau oleh gagak.

Selain itu mereka juga meletakkan seekor cacing di permukaan air. Keduanya lalu meletakkan masing-masing tabung itu di ruang terpisah. Selanjutnya David menguji masing-masing gagak dengan 3 jenis percobaan. Pada percobaan pertama masing-masing tabung diisi air dengan ketinggian berbeda-beda, tapi semuanya tidak terjangkau oleh paruh gagak. Selanjutnya David menyediakan 10 batu berbobot sama, yakni rata-rata 14 g per batu.

Pada percobaan kedua David mengisi tabung dengan ketinggian air sama. Namun, ia menyediakan batu berukuran berbeda, yakni 5 batu besar (14 g) dan 5 batu kecil (2 g). Jadi, untuk mencapai ketinggian yang terjangkau, gagak seharusnya memilih menggunakan seluruh batu besar. Adapun pada percobaan ketiga David menyediakan dua tabung. Salah satu tabung diisi air, satunya lagi serbuk kayu gergaji.

Hasil penelitian menunjukkan, pada percobaan pertama masing-masing gagak sukses menggunakan batu untuk menaikkan permukaan air. Mereka berhenti memasukkan batu saat cacing sudah terjangkau paruh. Pada percobaan kedua masing-masing gagak lebih banyak menggunakan batu besar untuk mencapai ketinggian yang diinginkan. David menyimpulkan, hasil itu menjadi bukti bahwa gagak mampu belajar kegunaan batu besar yang dapat menaikkan air lebih cepat.

Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani, M.Sc., kemampuan gagak menggunakan alat saat mencari makan membuktikan gagak sebagai burung cerdas.

Menurut David hasil itu menunjukkan kemampuan gagak dalam memilih dan memanfaatkan alat yang ada untuk menyelesaikan tugas secara efisien. Adapun dalam percobaan ketiga, masing-masing gagak ternyata lebih banyak memasukkan batu ke dalam tabung berisi air ketimbang tabung berisi serbuk gergaji. Itu menunjukkan gagak mampu belajar jika memasukkan batu ke dalam tabung berisi serbuk gergaji tidak dapat menambah ketinggian seperti halnya air.

Itulah sebabnya mereka berhenti mengisi tabung berisi serbuk gergaji dengan batu dan hanya fokus mengisi tabung berisi air. David menyimpulkan hasil penelitian itu menunjukkan bukti empiris jika kecerdasan gagak bukan sekadar kisah dalam dongeng seperti diceritakan dalam fabel karya Aesop. Hebatnya Aesop mengenal kecerdasan gagak itu sejak 2.000 tahun silam.

Menurut Shaswani dalam perspektif ilmu saraf, perilaku burung, seperti menggali tanah dan menimbunnya kembali, serta menggunakan alat untuk mencari makanan, berkaitan erat dengan struktur otak sang burung. Burung memiliki otak depan yang berperan dalam kemampuan kognitif, seperti mengidentifikasi tempat untuk menggali. Adapun otak tengah berperan dalam penglihatan yang baik dan otak belakang mengendalikan pergerakan terkontrol dan halus, seperti terbang dan menggali makanan.
Kemampuan hewan dalam melakukan hal-hal yang dianggap cerdik oleh manusia juga merupakan hasil dari berbagai aktivitas sirkuit neuron di dalam sistem saraf. Beberapa kemampuan bisa juga diperoleh dari hasil belajar dan hanya berupa insting. Pendapat serupa juga disampaikan staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani, M.Sc.

Menurut Yeni Aryati Mulyani kecerdasan dalam menggunakan alat adalah buah dari upaya gagak untuk bertahan hidup di alam liar. “Di alam liar mereka harus bisa mencari makan untuk bertahan hidup. Itulah sebabnya gagak menggunakan instingnya untuk mencari cara agar memperoleh makanan. Salah satunya dengan menggunakan alat bantu,” ujar doktor bidang ekologi burung lulusan University of Miami, Amerika Serikat, itu.

Gagak flores di habitatnya di kawasan hutan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Yeni mengatakan, kemampuan menggunakan alat bantu adalah salah satu indikator hewan yang memiliki kecerdasan tinggi. Gagak ternyata juga dikenal sebagai burung yang berdaya ingat hebat. Itu terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh Markus Boeckle dan Thomas Bugnyar, keduanya dari Department of Cognitive Biology dan Konrad Lorenz Research Station for Behaviour and Cognition, University of Vienna, Austria.




Dalam penelitian itu mereka meriset 16 burung gagak Corvus corax. Sembilan burung di antaranya sebelumnya dipelihara di Konrad Lorenz Research Station for Behaviour and Cognition sejak 2004. Adapun sisanya berasal dari kebun binatang dan milik pribadi. Pada saat burung-burung gagak itu mulai mencapai kematangan seksual, mereka lalu dibiarkan mencari pasangan untuk berkembang biak.

Selanjutnya Boeckle dan Bugnyar memisahkan masing-masing burung-burung itu dari kelompoknya dengan menempatkannya di kandang baru. Lokasi kandang baru itu terpisah minimal 18 km hingga terjauh 389 km. Mereka terpisah selama 8—36 bulan. Dalam percobaan itu Boeckle dan rekan memperdengarkan rekaman panggilan dari masing-masing burung.

Kelestarian hutan harus dijaga untuk menjaga kelestarian gagak di habitat aslinya di alam.

Hasil penelitian menunjukkan respons setiap gagak berbeda-beda terhadap suara rekaman panggilan. Respons mereka berbeda antara panggilan dari mantan anggota kelompok sebelumnya dan burung yang tidak dikenal sebelumya. Respons terhadap burung yang sudah saling mengenal pun berbeda, tergantung hubungan mereka sebelumnya. Respon antara sesama anggota kelompok dan respons terhadap gagak yang pernah menjadi pasangan juga berbeda.

Para peneliti menyimpulkan, gagak mampu mengenali satu sama lain berdasarkan hubungan yang pernah terjalin sebelumnya. Mereka tetap memiliki kemampuan itu meski terpisah jarak yang jauh dan dalam jangka waktu yang cukup lama, yakni mencapai 3 tahun. Itu menunjukkan gagak memiliki daya ingat yang sangat baik.

Sayangnya kini di tanah air kita sulit menjumpai gagak, apalagi di kawasan pemukiman. Padahal, keragaman spesies gagak di Indonesia tergolong tinggi. Pengamat burung asal Amerika Serikat, John McKinnon dan rekan, menyebutkan Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan habitat gagak hutan Corvus enca dan gagak kampung Corvus macrorhynchos. Khusus di Pulau Jawa juga hidup gagak rumah Corvus splendens. MacKinnon pernah menemukan spesies itu di Kepulauan Krakatau.

Brian J. Coats dan K. David Bishop dalam bukunya Panduan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea (Pulau Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara), menyebutkan gagak hutan dan gagak kampung juga ditemukan di kawasan Wallacea. Ia juga menemukan spesies-spesies gagak endemik, seperti gagak sulawesi Corvus typicus di Pulau Sulawesi, gagak flores Corvus florensis di Nusa Tenggara, gagak halmahera Corvus validus di Pulau Maluku, dan gagak orru Corvus orru di Pulau Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Trubus bersama tim dari Burung Indonesia mengunjungi habitat gagak flores di kawasan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Di Pulau Papua, Bruce M. Beehler dan rekan juga menemukan tiga spesies gagak, yaitu gagak kepala cokelat Corvus fuscicapillus, gagak orru, dan gagak kelabu Corvus tristis. Yeni Aryati menduga, salah satu penyebab gagak sulit ditemukan bisa jadi akibat mitos yang menyeramkan tentang gagak. “Mungkin kalau pun ditemukan, masyarakat langsung mengusirnya karena khawatir menjadi pertanda buruk,” tuturnya.

Gagak tergolong burung yang memiliki daya ingat kuat. “Jadi kalau mendapat perlakuan buruk di suatu tempat, gagak tidak akan kembali lagi ke tempat itu,” kata Yeni Aryati. Namun, ia berpendapat adanya mitos buruk tentang gagak di satu sisi berdampak positif bagi kelestarian gagak. Dengan begitu gagak tidak akan diburu masyarakat karena dianggap dapat membawa sial. “Ancaman serius justru di habitat aslinya di alam bila marak terjadi perusakan hutan,” kata Yeni Aryati.

Gagak Banggai “Hidup” Lagi

Dr. Mochamad Indrawan “menemukan kembali” gagak banggai setelah sempat dinyatakan punah lebih dari seabad silam.

Peneliti dari Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonenesia, Dr. Mochamad Indrawan, bersama Yunus Masala pernah “menemukan kembali” gagak banggai Corvus unicolor. Spesies itu sempat dinyatakan punah lebih dari seabad silam. Sebelumnya keberadaan gagak banggai hanya diketahui berdasarkan dua spesimen (hasil awetan) di Museum Sejarah Alam Amerika Serikat, di Kota New York.

Kedua spesimen itu berasal dari lokasi yang tidak diketahui di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Penduduk setempat menjualnya kepada pedagang dari Jerman, Menden, pada 1898. Sayangnya di Indonesia, di tempat asal burung ini tidak memiliki satu spesimen pun. Beberapa peneliti mancanegara, seperti dari Australia (pada 1980-an) dan Amerika Serikat (pada 2005), yang berhasil mencapai Banggai Kepulauan pun gagal menemukan burung itu di habitat aslinya.

Itulah sebabnya lembaga konservasi dunia The International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan gagak banggai sebagai spesies yang berstatus “kritis”. Pada 2006 IUCN sempat menggolongkan gagak banggai sebagai spesies yang “kemungkinan sudah punah”. Indrawan dan Masala akhirnya berhasil menemukan kembali gagak banggai di hutan tropis pegunungan Peleng ketika riset pada 2007—2008. (Imam Wiguna)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software