Cinta Landak Tak Pernah Retak

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 07/05/2021

Landak jawa Hystrix javanica satwa langka yang dilindungi.

 

Periset landak di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Ir. Wartika Rosa Farida (kanan) di hutan Papua.

Bunyi kring… kring… terdengar ketika seekor landak jawa Hystrix javanica bergerak. Sumber suara dari rambut ekor yang berlubang bagai pipa. “Ekornya pendek ditutupi oleh rambut yang mengalami modifikasi menjadi duri yang dapat bergetar,” kata periset landak di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Ir. Wartika Rosa Farida. Suara itu sebagai sarana komunikasi antarsesama landak. Menurut Farida seekor landak dewasa memilik 30.000 duri.

Periset lain, Nurul Inayah, M.Sc. mengatakan, duri-duri landak itu terdiri atas empat jenis. Keempat macam duri itu adalah duri sejati berukuran besar di bagian dorsal, duri transisi—panjang dan agak lembut—terdapat di ekor dan dorsal, duri pipih, dan duri derak atau rattle quill. Duri derak itulah yang menimbulkan bunyi khas, gemerincing. Ketika terkejut atau terancam, duri-duri satwa anggota famili Hystricidae itu akan tegak sehingga seolah-olah ukuran tubuh landak membesar.

Inayah mengatakan, di bawah lapisan kulit terdapat otot-otot yang mampu menegakkan duri-duri itu. Duri landak mengandung air (89,93%), protein (93,66%), lemak (0,44%), fosfor (0,034%), kalsium (0,2%), magnesium (0,01%), dan sulfur (2,01%). Duri-duri tajam itu sekaligus sebagai mekanisme pertahanan diri landak dari ancaman predator. Inayah mengisahkan periset di Associazione Teriologica Italiana, Emiliano Mori, Ph.D, menggunakan anjing untuk memburu landak eropa Erinaceus europaeus. Setelah perburuan itu puluhan anjing milik Mori mati dan terluka parah akibat tertusuk duri landak. Selain itu duri landak yang tajam juga digunakan oleh betina untuk mengusir pejantan.

Periset landak di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Nurul Inayah, M.Sc.

Meski runcing dan tajam, hampir tidak pernah terjadi anak landak terluka ketika menyusu pada induknya. Begitu juga saat kopulasi atau kawin, tidak menyebabkan luka pada pasangan landak. Farida menjelaskan, mula-mula penjantan landak perlahan-lahan akan mendekati betina. Jika tidak terjadi penolakan, mereka bercumbu. “Namun, bercumbu tidak mutlak terjadi. Kadang proses bercumbu tidak dilakukan, langsung melakukan kopulasi,” kata doktor Bioteknologi alumnus Georg August Universitat, Goettingen, Jerman, itu.

 

Periset itu mengamati perilaku kopulasi pada landak raya Hystrix brachyura. Selain landak jawa dan landak raya, Indonesia memiliki landak butun H. crassispinis, landak sumatera H. sumatrae, dan landak ekor panjang Trichys fasciculata. Total jenderal ada lima spesies landak di Indonesia. Proses kopulasi dimulai dari pejantan landak secara bertahap mendekati betina. Farida mengisahkan, landak betina pada mulanya juga mengusir pejantan dengan menegakkan duri dan mengibaskan ekor.

 

Pejantan memang menghindar. Namun, hanya sesaat. Ia pantang menyerah dan mencoba mendekati ulang. “Proses itu terjadi berulang-ulang hingga landak betina mau menerima landak jantan,” kata Farida. Mereka berjalan bersama, bercumbu, dan betina mengangkat ekor sebagai tanda menerima jantan hingga terjadi kopulasi. Usai kopulasi pejantan dan betina mengibaskan ekor hingga terdengar suara gemerincing. Sejak bercumbu hingga selesai kopulasi berlangsung memerlukan waktu lima menit.

 

Meski satwa nokturnal (aktif pada malam hari), di penangkaran landak juga berkopulasi pada siang hari. Ibu landak bunting selama 112 hari sejak kopulasi. Seekor induk melahirkan rata-rata 1—2 anak. Ahli mamalia dari Pusat Penelitian Biologi, Prof. Ir. Ibnu Maryanto, Ph.D, mengatakan, pada umumnya jumlah puting susu pada mamalia berkorelasi dengan jumlah anak yang dilahirkan. Doktor Biologi alumnus Hokkaido University, Jepang, itu mengatakan, landak memiliki enam puting susu—masing-masing tiga di dada kiri dan kanan.

Mula-mula jantan mendekati betina kemudian pasangan landak berkopulasi.

Menurut Farida jika induk melahirkan tiga ekor, terjadi persaingan menyusu di antara mereka. Pada awal penangkaran, Farida mengamati pertumbuhan seekor anak agak terhambat sehinga akhirnya justru dimakan oleh induknya sendiri. Oleh karena itu, pada kasus berikutnya ia menggilir anak-anak itu untuk menyusu agar pertumbuhan ketiganya relatif seragam. Saat dilahirkan, mata anak-anak landak itu tertutup dan duri masih lunak. Namun, dalam empat jam mata mereka—bobot 320 gram dan panjang 12—15 cm—terbuka dan duri pun mengeras.

Peneliti mamalia di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Prof. Ir. Ibnu Maryanto, Ph.D.

Induk betina menyapih anak-anaknya pada umur 4 bulan. Di penangkaran yang pakannya lebih terjamin, landak akan dewasa pada umur 9—10 bulan. Sementara di alam landak dewasa pada umur setahun. Mereka tinggal mengelompok terdiri atas 8—10 ekor di liang. Menurut Farida landak pasangan monogami yang setia. Ia pernah mendapati seekor landak yang merana ketika berpisah dari pasangannya. Landak itu akhirnya mati.

Farida juga pernah memisahkan pasangan, betina telah beberapa kali beranak. Ia mengganti dengan betina landak lain. Meski terjadi kopulasi, landak itu tidak pernah bunting. Setelah Farida mengembalikan pasangan semula, barulah terjadi reproduksi, landak betina kembali bunting. Itu membuktikan cinta landak pada pasangannya tak pernah retak alias selalu utuh.

 

Landak merupakan satwa monogastrik alias hewan berlambung sederhana. Ia mampu mengonsumsi pakan hijauan dalam jumlah besar. Satwa pengerat itu mengonsumsi kulit pohon, buah, umbi, dan tunas. Itulah sebabnya, landak berperan penting dalam pemencaran biji-bijian di hutan. Di penangkaran pakan landak antara lain bengkuang, jagung, kangkung, dan ubi jalar.

Pertumbuhan duri yang tajam dan keras itu memerlukan kalsium dalam jumlah besar. Farida pernah mengamati landak di alam yang mengonsumsi bangkai binatang. “Bukan daging yang dimakan, tapi tulang,” kata peneliti bidang nutrisi; konservasi, dan pengelolaan satwa liar itu. Kebiasaan itu untuk mengasah gigi agar tidak bertambah panjang sekaligus pasokan kalsium. Ketercukupan kalsium menjamin pertumbuhan duri landak jika rontok atau patah.

Menurut Ibnu Maryanto satwa pengerat akan mengerat benda tertentu untuk mencegah memanjangnya gigi. Profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengatakan, pada tikus yang tidak mengerat, gigi tumbuh hingga 15 cm. Namun, belum ada riset pertumbuhan gigi pada landak yang juga merupakan satwa pengerat. Menurut Magister Biologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu di alam landak mengerat pohon tertentu yang tumbang. “Landak berperan penting dalam membantu pelapukan pohon,” kata Ibnu.

Umbut pakis haji salah satu sumber pakan landak di alam.

Sayangnya perburuan landak terus berlangsung. “Dalam 15 tahun terakhir makin banyak warung makan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menawarkan menu ekstrem berbahan daging satwa liar termasuk landak,” kata Farida. Hal itu mengancam kelestarian landak di alam. Farida membuktikan, daging landak mengandung 20,64 mg asam lemak omega docosahexanoic acid (DHA).  Kadar itu lebih tinggi daripada kadar asam lemak ikan salmon.

Adapun kadar eicosapentaenoic acid (EPA) daging landak mencapai 7,61 mg. “ Itu mengindikasikan tingginya kandungan antioksidan daging landak,” kata Farida. Peraturan Pemerintah No 7/1999 menyatakan, landak jawa dan landak raya dilindungi. “Adanya dugaan landak memiliki batu geliga yang konon berkhasiat obat, memicu pembantaian terhadap ratusan landak,” kata Farida.

Selain itu landak juga berfaedah sebagi afrodisak atau pembangkit gairah seksual (baca boks: Landak Berkhasiat Obat halaman 51). Perburuan itu mengancam kelestraian landak di alam. Pemanfaatan satwa liar seperti landak sangat memungkinkan jika merupakan hasil budidaya mulai generasi kedua. “Landak berpotensi untuk dibudidayakan seperti ternak domestikasi lainnya dalam rangka menunjang diversifikasi pangan,” kata Farida. (Sardi Duryatmo)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software