Ciku Jumbo Warisan Belanda

Filed in Buah by on 07/08/2010 0 Comments

Ukuran ijen dan blambangan 2 kali lebih besar daripada varietas unggul yang dilepas Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Ahmad Sarjana lantas membungkus 2 sawo itu lalu memboyongnya ke Gorontalo. ‘Saya akan berikan pada Gubernur Gorontalo untuk dicicipi,’ ujar Sarjana yang tengah bersiap menghadiri Pertemuan Koordinasi Teknis Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih dan Pelatihan Penangkar Benih Hortikultura di Gorontalo. Sawo asal kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu pun akhirnya terbang menuju Pulau Celebes.

Di sana Sarjana menyodorkan ijen dan blambangan pada Gubernur Gorontalo Dr Ir  H Gusnar Ismail MM. Gusnar yang pernah menjabat sebagai kepala Dinas Pertanian Gorontalo itu lalu mencicip irisan sawo yang tersaji di atas piring. Lontaran pujian langsung  terucap dari bibir orang nomor satu di provinsi ke-32 itu. ‘Dua-duanya manis sekali. Beda dengan sawo yang ada di pasaran,’ ujarnya.

Menurut Gusnar di Gorontalo juga banyak sawo tumbuh di halaman rumah warga. Sayangnya Manilkara zapota asal provinsi hasil pemekaran Sulawesi Utara pada 2000 itu belum diseleksi. ‘Saat ini pengembangan varietas unggul masih fokus pada cabai dan kacang tanah,’ ujar Gusnar.

Warisan Belanda

Ketika diterima Trubus pada 16 Mei 2010, kedua ciku itu masih mengkal. Sepekan kemudian baru daging buah empuk dan dapat dikonsumsi. Begitu diuji dengan refraktometer, tingkat kemanisan ijen dan blambangan masing-masing 16 dan 17o briks. Menurut Sarjana, sifat itu menjadi keunggulan. ‘Sawo dapat dipanen mengkal, tapi rasanya tetap manis,’ ujar anggota tim perilis sawo unggul Kota Bima asal Nusa Tenggara Barat itu. Sawo yang dipetik matang sempurna hanya tahan 3-4  hari.

Kedua sawo asal Banyuwangi itu hasil eksplorasi Eko Mulyanto, staf Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Banyuwangi. Selama 3 tahun ia mengamati puluhan jenis sawo yang tumbuh di Banyuwangi. Sawo ijen didapat dari pohon milik Awang Sudigdo di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Diduga ijen ditanam ayah Awang 50 tahun silam.

Buah ijen selalu menyedot perhatian warga sekitar. Maklum, bentuk buah unik: lonjong dan panjang. Sawo biasa kebanyakan bulat. Pohon ijen juga produktif. ‘Sekali panen didapat 300 kg sawo dengan frekuensi 2-3 kali panen per tahun,’ ujar Eko.

Menurut Eko ijen milik Awang berasal dari bibit cangkokan dari pohon induk di perkebunan Kaliklatak yang berjarak 15 km dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Perkebunan itu semula milik perusahaan Belanda Mij. Moorman & Co. Pada 1957 kebun itu berpindah tangan ke R Soehoed Prawiroatmodjo, pengusaha pribumi asal Semarang, Jawa Tengah.

Kebun 1.013 ha itu sebelumnya hanya ditanami karet, kopi, dan kakao. Soehoed lalu membudidayakan tanaman ekonomis lain seperti lada, vanili, kayuputih, dan kelapa. Ia juga menanam aneka jenis buah-buahan seperti pisang, jeruk, dan lengkeng. Di kebun itu ada 2 sawo berumur ratusan tahun.

Buah favorit

Dari kedua pohon induk itu sudah banyak warga sekitar yang memperbanyak melalui cangkok. Namun, hasil penelusuran Eko, dari sekian banyak anakan yang ditanam hanya 2 pohon yang buahnya besar dan lebat, menyerupai karakter pohon induk. Salah satunya milik Awang. Satu pohon lagi tumbuh di Kelurahan Telemung, Kecamatan Kalipuro.

Sawo blambangan juga warisan Belanda. Ia diberi nama blambangan karena pohon induk tumbuh di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar. Dahulu lokasi itu kebun kopi yang dikelola Dr Knocs, ahli kopi zaman Belanda. Pada 1952 kebun itu dibeli pengusaha pribumi. Menurut Eko ketika masih dimiliki Dr Knocs, sawo menjadi buah favorit para tamu asal Belanda atau pribumi.

Meski telah berumur ratusan tahun, pohon induk sawo blambangan masih produktif. Setiap panen diperoleh minimal 500 kg. ‘Padahal setahun bisa 2-3 kali panen sehingga hasil per tahun 1-1,5 ton,’ kata Eko. Untuk menyelamatkan kedua sawo unggul itu, Eko memperbanyak dengan cangkok dan ditanam dalam pot. Beberapa di antaranya sudah berbuah. Istimewanya ukuran buah tetap jumbo meski ditanam dalam pot. Dengan begitu, sawo warisan Belanda itu dapat dinikmati para hobiis. (Imam Wiguna/Peliput: Ari Chaidir)

 

  1. Tabulampot sawo blambangan tetap berbuah bongsor meski ditanam di dalam pot
  2. Sawo ijen, ciri khas berbentuk lonjong dan panjang. Bobotnya 200-250 g/buah
  3. Pohon induk sawo blambangan di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Umurnya diduga di atas 100 tahun
  4. Sawo blambangan, bentuknya bulat bobot buah bisa mencapai 400 g/buah

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software