Cihateup Primadona Baru

Filed in Satwa by on 01/05/2010 0 Comments

 

Begini duduk perkaranya. “Cihateup tetap rajin bertelur meski rontok bulu. Itik lain biasanya mogok bertelur,” tutur Drs Maman Abdurrahman, peternak di Kampung Cihateup, Desa Rajamandala, Kecamatan Rajapolah,  Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Menurut Prof Dr Ir Achmanu Zakaria, ahli budidaya unggas dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, moulting atau rontok bulu merupakan proses alamiah pada unggas pascabertelur.

Masa i tu dipakai unggas untuk memperbaiki kondisi tubuh dan mengistirahatkan organ reproduksi. Pada itik, lamanya periode rontok bulu bervariasi antara 2—3 bulan. “Pada saat itu umum terjadi penurunan produksi telur,” kata Ir Elly Tugiyanti MP staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah.

Beberapa peternak kerap melakukan force moulting atau pemaksaan rontok bulu sebelum waktunya. Tujuannya agar unggas berproduksi seragam pada periode berikutnya. Nah, pada itik cihateup itu tidak perlu dilakukan karena produksi telur terus berjalan meski tengah rontok bulu. Ir Dani Garnida MP, ahli budidaya unggas dari Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Bandung menduga faktor genetis menjadi penyebab rajinnya sang itik bertelur meski rontok bulu.

Pedaging

Sosok itik cihateup jangkung dan berleher jenjang. Tinggi pangkal paha sampai ujung kaki sekitar 10—15 cm. Panjang lehernya mencapai 30—35 cm. Itu lebih panjang 10—15 cm dari kerabatnya itik tegal.

Itik asli Cihateup itu juga bisa dikenali dari warna bulu merah bata dengan ujung sayap putih berlurik—disebut motif batik sisi. Warna kaki dan kulit kaki hitam legam dengan bentuk mata menyerupai mata katak. Tubuh cihateup tergolong langsing menyerupai botol. Ekor seperti ekor burung pipit.

Telur yang dihasilkan berbobot rata-rata 69,34 gram per butir dengan fertilitas 90—95%. Itu menunjukkan kualitas semen pejantan cihateup sangat baik. Sementara daya tetas telur mencapai 85% dengan rasio jantan dan betina 1:2. Produktivitas telur tinggi mencapai 290—310 butir/tahun.

Hasil riset Dudi MSi dari Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Bandung, menunjukkan bobot DOD cihateup lebih berat dibandingkan itik mojosari dan alabio. Bobot DOD cihateup mencapai 45,5 g; mojosari 39,47 g, dan alabio 40,27 g. “Bobot DOD berkorelasi positif dengan potensi sebagai pedaging. Asalkan, manajemen pemeliharaannya diperhatikan,” kata Elly. Artinya, kalau semula cihateup lebih kondang sebagai petelur unggul kini ia bisa dikembangkan jadi pedaging.

Bobot pejantan umur 2 bulan mencapai 1,2—1,3 kg. Harganya Rp25.000—Rp28.000 per ekor. FCR atau feed conversion ratio itik cihateup berkisar 1:3,2—3,4. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan 3,2—3,4 kg pakan. Cihateup adaptif diternakkan di dataran rendah, misal pantai Cipatujah, Tasikmalaya, hingga dataran menengah seperti Cihateup yang berketinggian 470 m dpl.

“Pemeliharaannya lebih baik dengan dikandangkan,” kata Maman. Ia digembalakan sekadar mencari pakan tambahan karena daya jelajahnya paling pol 5—7 km. Bandingkan dengan itik tegal yang dapat menjelajah hingga 30—35 km. Maman yang mengusahakan penetasan, mengandangkan cihateup dengan perbandingan jantan dan betina 1:10. Pakannya berupa campuran dedak, konsentrat, keong mas, dan hijauan. Pemberian pakan 2 kali sehari sebanyak 3—4% dari bobot itik.

Padjadjaran

Darah unggul cihateup pun dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Ternak Family di Kampung Padjadjaran, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, untuk menghasilkan silangan baru. Di sana pejantan cihateup disilangkan dengan betina magelang. Hasilnya, “Ras baru yang bernama padjadjaran,” ungkap Lukman Hakim, ketua Kelompok Tani Ternak Family.

Adalah Engkos Koswara peternak di Padjadjaran yang mulai menyilangkan kedua jenis itik itu pada 1973. Baru pada silangan ktiga, ras padjadjaran muncul. “Dari cihateup diambil postur tubuh tegap, magelang karakter jinaknya,” ungkap Engkos. Ciri cihateup tampak pada leher panjang dengan sosok tubuh ramping menyerupai botol. Panjang leher 27—35 cm, sedikit lebih pendek dibanding cihateup. Warna batik sisi dan ujung sayap capit udang menjadi penanda lain kehadiran darah cihateup pada padjadjaran. Itik magelang menyumbangkan lingkaran putih mirip cincin pada leher dan kuat digembalakan jauh.

Produksi telur padjadjaran mencapai 270—300 butir per tahun dengan masa produksi lebih dari 2 tahun. “Tingkat produktivitasnya 70% ketika itik menginjak umur 2 tahun,” ungkap Lukman yang menyabet penghargaan sebagai kelompok tani ternak terbaik kategori itik tingkat nasional 2009 itu. Sebagai pedaging, itik jantan padjadjaran mampu mencapai bobot 1,2—1,3 kg dalam waktu 60—70 hari.

Kelompok Family yang beranggotakan 43 orang saat ini membudidayakan 10.000 itik. Dari populasi itu diproduksi sekitar 6.500 telur yang seluruhnya ludes diserap pengepul dari berbagai kota di Jawa Barat dan Jakarta. Harga per butirnya mencapai Rp1.200. Sementara kapasitas produksi DOD Family mencapai 5.000 ekor/bulan. Harga DOD betina Rp8.000/ekor dan DOD jantan Rp4.000/ekor.

Permintaan itik potong 300 ekor per hari baru 30 ekor terpenuhi. Itik jantan umur 2 bulan biasanya dijual Rp25.000—Rp27.000/ekor. Itik apkir atau betina berbobot 2 kg yang tak produktif dijual Rp30.000/ekor. Itik diberi pakan berupa campuran dedak, ikan kecil, keong mas, ecenggondok, dan jagung yang banyak terdapat di sekitar Waduk Saguling—lokasi desa. “Yang penting komposisi karbohidrat dan protein hewani dalam pakan berimbang,” imbuh Lukman. Mau cihateup atau padjadjaran, silakan pilih. (Faiz Yajri)

 

 

  1. Itik cihateup produktivtias bisa 80%
  2. Drs Maman Abdurrahman, cihateup potensial sebagai pedaging. Umur 60 hari bisa mencapai bobot 1,2—1,3 kg
  3. Lukman Hakim, permintaan daging itik mencapai 300 ekor per hari hanya mampu dipenuhi 30 ekor
  4. Itik padjadjaran mewarisi darah cihateup dan magelang

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software