Cetak Rupiah dari Kerapu

Filed in Laporan khusus by on 01/02/2009 0 Comments

 

Meninggalkan profesi sebagai penyalur sembako karena bangkrut, Charta berkonsentrasi memelihara Cromileptes altivelis di KJA berukuran 3 m x 3 m x 3 m. Pendapatan dari grace kelly – sebutan saat kerapu kecil – rupanya tak kalah menggiurkan. Saat melakukan panen ketiga pada Oktober 2008, alumnus Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada di DI Yogyakarta itu mendapat penghasilan Rp50-juta. Itu hasil penjualan 200 kerapu bebek dengan bobot seragam 500 g/ekor ke penampung setempat dengn harga Rp500.000/kg.

Sebelumnya, Charta sudah 2 kali panen, masing-masing pada November 2007 dan Juli 2008. Pada November 2007 ia memanen 80 kg kerapu berbobot 100 g/ekor dengan harga Rp250.000/kg. ‘Dipanen lebih cepat karena pemodal menarik pinjaman,’ kata Charta yang memperoleh omzet Rp20-juta itu. Berikutnya pada Juli 2008, Charta mengantongi Rp38-juta. Itu hasil menjual 100 kg kerapu bebek berbobot 300 – 500 g/ekor. Total jenderal selama 14 bulan memelihara kerapu bebek, penggemar olahraga mancing itu menangguk pendapatan Rp108-juta. Dipotong biaya lain-lain sebesar Rp2-juta/bulan, Charta yang bersiap memanen sisa kerapu lain di KJA pada Februari 2009 itu meraup laba bersih Rp80-juta.

Nun di Tanjungputus, Lampung Selatan, sekitar 45 menit berperahu dari lokasi KJA Charta, Bangun Sitepu dan Ali Ashari sudah mencecap laba manis kerapu. Bangun Sitepu, misalnya, rutin memasok 500 kg per bulan kerapu bebek ke 2 eksportir di Jakarta sejak 2006. Volume itu dipenuhi dari 110 KJA masing-masing berukuran 3 m x 3 m x 3 m. Dengan harga jual Rp500.000/kg, pemilik sekolah bahasa asing di Bandarlampung itu meraup pendapatan Rp250-juta. Pun Ali Ashari yang memperoleh penghasilan Rp75-juta – Rp100-juta/bulan dari penjualan 150 – 200 kg kerapu bebek di 100 KJA.

Pasar ekspor

Charta Rani, Bangun Sitepu, dan Ali Ashari lebih fokus membesarkan kerapu bebek karena iming-iming harga jual menggiurkan. Lihat saja pergerakan harga jual selama sewindu terakhir. Pada 2000 per kg US$20; 2002, US$36; dan kini 2008 menyentuh harga US$50/kg. Bandingkan dengan sesama keluarga kerapu demersal – ikan dasar – budidaya seperti kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus, sunu Plectropomus leopardus, dan lumpur Epinephelus coides yang ada di kisaran harga kurang dari Rp150.000/kg. Kerapu macan Rp80.000 – Rp130.000/kg, sunu Rp80.000/kg, dan lumpur Rp60.000/kg. ‘Jadi meski SR (kelulusan hidup, red) kerapu tikus 20%, peternak tetap untung,’ kata Bangun yang menyebut biaya produksi Rp150.000/kg.

Pada dasarnya semua kerapu budidaya santapan spesial. Di Hongkong, China, dan Taiwan, notabene penyerap terbesar, menyantap kerapu itu sebuah gengsi. Di samping, ‘Makan kerapu dipercaya bisa memanjangkan umur dan menambah vitalitas,’ kata Handolok Rudi, eksportir di Lampung. Pantas saja karena kerapu kaya protein dan berkadar lemak rendah sehingga pas untuk menjaga kesehatan.

Kebutuhan kerapu di ketiga negara itu demikian besar. ‘Mereka menyerap sampai puluhan ton per hari,’ ungkap Setiawan Wibowo, eksportir lain di Lampung. Angka pasti tidak ada. Serapan itu semakin besar memasuki momen Tahun Baru, Natal, dan Imlek. Lagi-lagi tidak ada data pasti jumlah total kebutuhan saat tiba waktu itu. Namun, Bangun Sitepu menggambarkan, eksportir saat itu meminta pasokan 2 kali lipat daripada biasa, bahkan lebih jika mampu. Sejauh ini Indonesia adalah pemasok utama kerapu di luar Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Menurut Handolok, Indonesia memasok 40% pasar kerapu dunia. Data Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) menyebutkan ekspor kerapu pada 2006 mencapai 4.800 ton senilai US$24-juta. Pada 2007 angka itu meningkat menjadi 6.340 ton senilai US$31,7-juta.

Ceruk pasar kerapu tak sebatas ekspor, lokal pun menyerap. Di sinilah peluang pasar bagi jenis kerapu di luar kerapu bebek. Menurut James Wahid, chef restoran seafood Crapoe di Pondokindah, Jakarta Selatan, restorannya sanggup menghabiskan 10 kg/minggu kerapu macan, lumpur, dan sunu. Jumlah sama juga dibutuhkan cabang lain di Manggadua, Jakarta Utara. Di restoran itu harga per porsi kerapu macan berbobot 500 kg/ekor Rp145.000.

Menjamur

Pantas dengan kebutuhan besar itu budidaya kerapu, terutama jenis bebek, menjadi pilihan menarik. ‘Jika mengandalkan tangkapan alam sudah susah,’ ujar Zuhri, penampung di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Zuhri menjelaskan 1,5 tahun belakangan ini pasokan kerapu bebek dari nelayan pemburu hanya 50 kg/hari. Itu pun tak tentu. Padahal pada 2004, Zuhri mendapat pasokan hingga 100 kg/hari.

Makanya H Bukhaira di Desa Batunampar, Kecamatan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), terjun membuat 16 KJA kerapu bebek pada 2007. Pada Maret 2008 ia memanen 350 kg cromileptes berbobot rata-rata 400 – 500 g/ekor dari 2.000 bibit yang ditebar. Dengan harga jual Rp380.000/kg, Bukhaira meraup pendapatan Rp133-juta. ‘Jualnya gampang karena penampung pasti datang saat panen,’ ujarnya.

Pemandangan serupa juga tampak di Situbondo, Jawa Timur. Menurut Dede Sutende SPi di wilayah Pantai Pecaron, Gelung, dan Gundil, ada sekitar 18 peternak kerapu bebek dengan jumlah kepemilikan KJA antara 8 – 25 unit. Menjamurnya peternak itu tak lepas dari kemudahan izin budidaya. ‘Cuma melapor ke Dinas Kelautan dan Perikanan Tingkat II,’ kata kepala seksi Pelayanan Teknis Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

Bak efek domino, tak hanya pembesar yang kecipratan rezeki. Pembibit pun kebanjiran order. Contoh Teng Rudi di Lampung. Mengelola 100 bak pembenihan di lahan seluas 1 ha, mantan pengembang real estate itu hanya sanggup melayani permintaan 20.000 – 30.000 bibit kerapu bebek atau tikus ukuran 8 – 10 cm per bulan. Teng menjual bibit dengan standar harga Rp3.000 per cm. Dibandingkan setahun lalu nilai itu sudah naik 50%. ‘Sekarang peternak harus inden 2 – 3 bulan sebelumnya,’ ujarnya.

Di luar Rudi masih ada setidaknya 5 hatchery skala rumahtangga (HSRT) di Lampung yang menyediakan bibit kerapu. Tak hanya kerapu bebek, mereka juga mencetak kerapu macan dan lumpur. Rata-rata produksi per 3 bulan dari setiap HSRT mencapai 20.000 bibit. ‘Rata-rata bermain di bibit bekas pembenur udang windu yang gulung tikar saat harga udang anjlok,’ ujar Dra Kadek Wahyuni, staf Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

Kendala air

Meski menawarkan laba besar bukan berarti budidaya kerapu bebas kerikil tajam. Itu pun dialami Bangun Sitepu. Selama 6 bulan budidaya sejak September 2007 sekitar 10.000 kerapu bebek berbobot 100 – 300 g/ekor mati mendadak. Ikan-ikan itu tampak diam, perutnya kembung, dan tak lama berenang terbalik tanda mati. ‘Setelah dicek kemungkinan karena serangan irido virus,’ katanya. Irido virus muncul di air yang tercemar limbah.

Menurut Prof Dr Ir Asikin Djamali dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Ancol, Jakarta Utara, perairan yang banyak KJA perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan ledakan alga hijau biru dan red tide asal Trichodesmium sp dan Peridinium sp. Sumber ledakan itu muncul akibat akumulasi bahan organik dari sisa pakan dan kotoran. Ledakan ini dapat dilihat dengan mata telanjang, perairan berubah warna kehijau-hijauan. Dampaknya, ‘Ikan seperti sulit bernapas karena oksigen terlarut turun,’ ujar Asikin.

Untuk mengatasi itu Asikin menyarankan peternak rajin menjaga perairan tempat lokasi budidaya kerapu. Semua itu perlu diupayakan agar mesin pencetak rupiah itu hidup nyaman seperti dicecap oleh Charta. (Andretha Helmina/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan dan Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software