Cetak Gupi Kampiun

Filed in Majalah, Satwa by on 17/07/2019

Perawatan harian maksimal salah satu kunci sukses Yudhith Haryanto mencetak ikan gupi jawara. Pehobi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu memberikan susu bubuk seujung sendok teh ketika gupi berumur 4 bulan. Frekuensi pemberian 2 hari sekali. “Saat itu gupi memerlukan kalsium untuk pertumbuhan,” kata Yudhith. Selain susu, sumber kalsium andalan Yudhith yakni tahu susu.

Pemilihan susu dan tahu susu karena pemberiannya praktis. Ia segera mengganti air dalam akuarium yang berisi susu agar kualitas air terjaga. Menurut Yudhith penggunaan kedua sumber kalisum itu tidak lazim di dunia gupi. Setiap pehobi memiliki cara yang berbeda merawat ikan termasuk penggunaan sumber kalsium. Ada pehobi yang menggunakan kulit kerang, udang, dan kepiting sebagai sumber kalsium.

Kualitas air

Yudhith menggunakan susu dan tahu susu sejak awal 2019. Sejak itu hampir tidak ada ekor gupi yang rusak karena saling berbenturan. Sebelumnya banyak ekor gupi yang rusak karena saling bertabrakan sehingga penampilannya pun kurang elok. Yudhith memelihara ikan di akuarium berukuran 30 cm x 20 cm x 20 cm. Ia melengkapi akuarium itu dengan aerator supaya gupi aktif bergerak.

Gupi jenis black moscow koleksi Yudhith Haryanto menjadi jawara berkat perawatan intensif.

Perawatan seperti itu menyebabkan pertumbuhan ikan Poecilia reticulata lebih maksimal. Apalagi pemberian pakan juga mencukupi hingga 5 kali sehari. Pakan alami (artemia dan kutu air) dan buatan (pelet) menjadi andalan pemenuhan nutrisi gupi. Yudhith memanfaatkan pelet khusus pertumbuhan. Sementara pelet berisi spirulina berfungsi menguatkan warna agar optimal.

Ia mesti rajin membersihkan sisa pakan dalam akuarium lantaran membuat air keruh. Menurut juri kontes gupi internasional, Joty Atmadjaja, warna menjadi salah satu poin tertinggi pada penilaian kontes. Sementara artemia dan kutu air berperan sebagai sumber protein untuk mendukung pertumbuhan ikan anggota famili Poeciliidae itu.
Yudhith menyadari betul air sebagi habitat ikan. Oleh karena itulah, ia membersihkan akuarium saban hari. “Sebanyak 30—50% air baru masuk akuarium setiap hari tergantung dari tingkat kekeruhan air,” kata pehobi gupi sejak Mei 2018 itu. Penggantian air total jika ikan terlihat lemas atau diduga sakit. Yudhith memakai air tanah sebagai pengisi akuarium. Air tanah mesti melewati 8 tabung filter bervolume 1,5 liter sebelum masuk ke akuarium.

Harap mafhum air tanah di kediaman Yudhith mengandung banyak besi. Filterisasi air membuat guppy milik Yudhith tetap tumbuh maksimal. Perawatan harian seperti itulah yang menjadikan gupi milik Yudhith sebagai grand champion pada ajang 1st TMII Guppy Fest 2019.

Ia mematikan aerator 2—3 hari menjelang kontes. Setelah itu ia memindahkan ikan ke akuarium lebih kecil berukuran 20 cm x 15 cm x 15 cm. Tujuannya agar ikan beradaptasi dengan akuarium di tempat kontes. “Saya tidak menyangka ikan itu menjadi grand champion karena kualitas gupi lawan juga bagus. Lazimnya juga ikan milik orang asing yang mendapatkan gelar itu,” kata pria kelahiran Karawang, Jawa Barat, itu.

Kepala Bagian Operasional Budidaya dan Karantina, Dunia Air Tawar, Taman Mini Indonesia Indah, Bambang Suprihadi, mengatakan tujuan kontes mengenalkan ikan hias Indonesia terutama gupi. Jika dipelihara dengan baik, budidaya gupi juga bisa menambah penghasilan. Kemenangan black moscow itu bukti perawatan gupi ala Yudhith sukses mencetak ikan terbaik. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software