Cengkih: Hasil Besar Karena si Kecil

Filed in Perkebunan by on 03/09/2013 0 Comments

Produksi bunga cengkih meningkat dari 80 ton men-jadi 120 ton berkat bakteri perangsang pertumbuhan.

Panen cengkih pada 2008 justru membuat Suhardi masygul. Kepala kebun PT Sumber Sari Petung, perusahaan perkebunan di Ngasrep, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, itu hanya memperoleh 80 ton bunga cengkih dari 3.000 pohon produktif berumur lebih dari 40 tahun. Itu berarti setiap pohon hanya menghasilkan 27 kg bunga kering atau setara 81 kg bunga segar. “Mestinya bisa menghasilkan lebih dari sekuintal bunga basah,” kata Suhardi.

Padahal, pada waktu sama hampir semua pekebun cengkih menikmati panen raya. Pasalnya pada tahun itu terjadi lebih dari 6 bulan kemarau tanpa hujan. Periode itu lebih dari cukup untuk memicu pembungaan besar-besaran. Pohon di kebun Suhardi memang memunculkan bunga, tapi sebagian besar gagal berkembang.

“Pucuk bunga berhenti tumbuh, menjadi kehitaman, lalu rontok,” kata Suhardi. Keruan saja tidak banyak bunga tersisa ketika panen. Atas saran Dr Ir Widodo dari Klinik Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, ia memberikan pupuk mengandung PGPR (plant growth promoting rhizobacter) alias bakteri perangsang tumbuh dari jenis Rizobakterium. Menurut Widodo, makhluk bersel tunggal itu mampu mengikat nitrogen dan menguraikan fosfor.

Fermentasi rizobakterium dalam jeriken membutuhkan aerator

Fermentasi rizobakterium dalam jeriken membutuhkan aerator

Bahan organik

Suwandi memberikan rizobakterium kepada pohon-pohon cengkih sejak akhir 2008. Ia menggunakan air rebusan umbi kentang dengan campuran gula pasir dan udang kering sebagai sumber nutrisi untuk bakteri. Ia merebus campuran itu, menutup rapat, lalu mendiamkan semalaman. Esok paginya, ia menambahkan larutan induk bakteri yang ia peroleh dari Widodo. Selanjutnya ia memfermentasi dengan bantuan udara dari pompa aerator.

Namun, udara dari aerator ia lewatkan dalam wadah tertutup berisi larutan potasium nitrat (KNO3). Gunanya menyaring bakteri dari luar untuk mencegah kontaminasi (lihat ilustrasi). “Dengan demikian, hanya oksigen murni yang masuk ke larutan fermentasi,” kata Widodo. Selang 2 pekan, begitu aroma mirip tapai menguar, larutan PGPR siap digunakan. Untuk aplikasi, larutan rizobakterium memerlukan bahan organik, seperti serasah daun atau kotoran hewan.

Suhardi mencampur 1 ton pupuk kandang matang dengan 200 kg campuran pupuk KCl, Urea, dan TSP. Berikutnya ia menambahkan 3 liter larutan PGPR dan 10 liter air lalu mengaduk rata. Untuk pemakaian di lahan, ia membuat lubang melingkar sedalam 15 cm dengan jarak 1,5—2 m dari pangkal batang lalu membenamkan 20 kg pupuk campuran. Suhardi memupuk 2 kali setahun, yaitu pada akhir musim hujan (Maret—April) dan permulaan musim hujan (September—Oktober).

Pada Maret, tanaman membutuhkan lebih banyak unsur fosfor dan kalium untuk merangsang pembungaan. Saat itu, komposisi campuran pupuk kimia adalah 1 kg  Urea  dan masing-masing 1,5  kg  KCl  dan  TSP.  Sementara  pada  Oktober, tanaman  membutuhkan  lebih  banyak unsur nitrogen untuk memicu pertumbuhan tunas. Saat itu, komposisi campuran pupuk kimia terdiri dari 2 kg Urea dan masing-masing 1 kg pupuk KCl dan TSP.

Selang 4 tahun, perlakuan itu menampakkan hasil. Menurut Suhardi, setiap pucuk tampak memunculkan bunga. Total panen mencapai hampir 400 ton bunga basah. Setelah pengeringan dengan kadar air 5-10% Suhardi memperoleh 120 ton. Padahal jumlah tanaman berbunga nyaris sama, berkisar 3.000 pohon setiap tahun.

Produktivitas pohon meningkat dari 27 kg bunga kering per pohon menjadi 40 kg per pohon per tahun. Menurut Widodo, peningkatan produksi itu karena efisiensi penyerapan pupuk meningkat. Artinya, produksi lebih banyak dengan jumlah pupuk sama atau kebutuhan pupuk berkurang tetapi hasil tetap sama.”  Itu terbukti dengan lonjakan produksi bunga kering hingga     120 ton pada musim panen raya berikutnya, yaitu pada 2012.

Bunga cengkih dari 1 pohon dipanen 2 tahun sekali

Bunga cengkih dari 1 pohon dipanen 2 tahun sekali

Campur

Peningkatan produksi itu terjadi bersamaan peningkatan harga. Harga bunga segar yang semula hanya Rp10.000—Rp12.000 meningkat menjadi Rp27.000 per kg. Sementara harga jual bunga kering beranjak dari Rp40.000—Rp50.000 menjadi Rp80.000 per kg. Padahal, biaya perawatan dan panen nyaris sama dengan musim panen sebelumnya. Keruan saja omzet Suhardi dan rekan-rekan melonjak. Yang menggembirakan, biaya penggunaan pupuk rizobakterium tergolong sangat murah.

Untuk memupuk 8.000 pohon 2 kali setahun, Suhardi hanya memerlukan 13 liter isolat alias larutan induk rizobakterium. Harga seliter larutan induk itu tidak sampai Rp100.000. Menurut Widodo, fungsi lain rizobakterium yang tak kalah penting adalah merangsang pembentukan hormon pertumbuhan yang menjadikan tanaman lebih subur.

Menurut guru besar Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor,  Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, bakteri PGPR mampu mencegah kehadiran cendawan atau bakteri pengganggu. “Pengganggu tidak akan mampu bersaing di tanah yang didominasi bakteri PGPR,” kata Iswandi. Meski tergolong tahan serangan cendawan atau bakteri, serangan penyakit bisa mengurangi produksi bunga. Menurut Ir Dono Wahyuno,  sejatinya ancaman utama cengkih adalah hama.

Berbagai hama mulai dari penggerek batang, penggerek tunas, ulat daun, sampai kepik pengisap tunas bisa menyerang tanaman. “Terutama pada musim peralihan alias pancaroba,” kata Dono. Untuk itu, Suhardi tidak punya pilihan kecuali insektisida sintetis. Namun, ia baru menyemprotkan insektisida ketika serangan lebih dari 5%. Jika serangan ringan, dalam beberapa hari sang pengganggu bakal musnah oleh predator. Saat semua hambatan teratasi, produksi cengkih pun melejit. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software