Celengan Ateng dari Lanceng

Filed in Obat tradisional by on 02/05/2011

Sambil menenteng kotak kayu, Ateng Arsono menyambangi beberapa rumah di Dusun Podang dan Ngaglik, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Desa Kalipeucang, Jawa Tengah. Ia datang bukan untuk meminta sumbangan, tapi justru memberi “sumbangan” kepada warga. Ia menempatkan kotak itu di dinding rumah mereka. Kotak berukuran 20 cm x 25 cm x 17 cm itu rumah buatan bagi lebah Trigona sp.

Seluruh bagian kotak tertutup. Hanya di bagian bawah tengah kotak terdapat lubang mungil berukuran 10 mm x 3 mm sebagai pintu masuk dan keluar. Ia menitipkan rata-rata 10 – 30 kotak per rumah tergantung kesediaan sang pemilik.

Inden

Di dalam kotak itu lanceng alias trigona membentuk koloni baru. Ketika sarang madu sudah banyak terbentuk, Ateng siap memanen. Jika sumber nektar melimpah, trigona dapat memproduksi madu dalam waktu 3 bulan. Pada koloni trigona, sarang madu terpisah dari sarang larva.

Ateng membeli madu hasil panen dari para pemilik rumah. Separuh harga pasar. Artinya, jika harga di pasaran Rp100.000 per kg, maka ia beli dengan harga Rp50.000. Pemilik rumah mendapatkan separuh harga karena sama sekali tidak mengeluarkan biaya. Sementara biaya pembuatan kotak seluruhnya dari Ateng. Biaya pembuatan sebuah kotak Rp30.000. “Pemilik rumah cukup mengontrol jumlah sarang madu yang sudah terbentuk,” kata Ateng.

Aktivitas itu Ateng lakukan sejak 2006. Semula pemilik rumah makan Rahayu itu hanya fokus membudidayakan lebah Apis serana dan A. mellifera. Hasrat beternak lanceng terbersit saat mendengarkan perbincangan beberapa tamu yang hobi merpati balap di rumah makan miliknya. “Menurut mereka merpati balap yang diberi minum madu lanceng biasanya sering menang balapan,” katanya. Untuk mendapatkan madu lanceng, mereka sampai rela membeli dari Bandung, Jawa Barat.

“Padahal, di rumah saya banyak,” ujar Ateng. Trigona kerap bersarang di batang bambu tiang jemuran dan celah-celah kusen. Pria 42 tahun itu langsung menyambar peluang itu. Sejak 2006 Ateng rajin berburu sarang lanceng di sekitar rumahnya di kawasan Bedono, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Begitu menjumpai sarang, ia lalu membongkar dan memindahkannya ke dalam kotak kayu. Pemindahan biasanya pada sore hari, saat seluruh koloni sudah kembali ke sarang. Dua bulan berselang terbentuk koloni dan ratu baru. Ateng lantas memindahkan ratu baru itu ke dalam kotak berbeda beserta trigona pekerja untuk membentuk koloni baru lainnya.

Budidaya trigona lebih praktis karena ia tak perlu menggembalakan. Setahun berselang, Ateng memetik jerih payahnya. Volume panen perdana berupa sekilo madu langsung diborong penggemar merpati balap dan para tamu rumah makan.

Kini pelanggan madu lanceng di tempat Ateng adalah pengobat tradisional dan para pekerja berat seperti anggota polisi. “Pelanggan saya yang polisi mengabarkan bahwa tubuhnya tetap bugar meski kerap pulang-pergi ke luar kota,” kata Ateng. Menurut herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, madu lanceng biasanya dikonsumsi untuk meredakan infeksi dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Empat kali lipat

Ateng menjual madu panen perdana itu dengan harga tinggi, yakni Rp200.000/kg. Itu 4 kali lipat dari harga madu apis yang rata-rata saat itu hanya Rp50.000/kg. Melihat sambutan pembeli semacam itu, Ateng pun semakin getol berburu sarang lanceng hingga ke luar kecamatan seperti Desa Kalipucang, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Penduduk desa berjarak sekitar 2 km dari kediaman Ateng itu biasa menggantung batang bambu sepanjang 50 cm di dinding rumah.

Batang bambu itu dibelah, lalu diikat dengan kawat untuk menyatukan kembali. Celah belahan bambu itulah yang menjadi pintu masuk lanceng ke dalam sarang. Ateng menampung madu lanceng hasil budidaya ke dalam botol mungil bervolume 150 ml. Masyarakat di sana mengoleskan madu lanceng di bibir bayi yang baru lahir. Mereka percaya daya tahan tubuh sang bayi meningkat sehingga tak mudah sakit. Itulah sebabnya Ateng tak kesulitan saat menitipkan kotak sarang lanceng di rumah warga.

Apalagi mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan dari hasil penjualan madu. Bahkan, beberapa di antaranya bersedia dititipi hingga 60 kotak. Contohnya Iswanto, warga Dusun Podang, Desa Kalipucang, Magelang. Dari jumlah itu, ia rata-rata memperoleh 1,5 kg madu sekali panen setiap 3 bulan. Iswanto juga menjadi pengumpul madu dari warga Desa Podang dan Ngaglik yang dititipi kotak. “Jumlah sarang lanceng yang tersebar di kedua desa itu mencapai 500 kotak,” ujar ayah 2 anak itu.

Hingga kini Ateng mengelola 1.000 kotak lanceng. Dari jumlah itu ia memperoleh rata-rata 25 kg madu sekali panen. Dengan harga jual Rp200.000 per kg, maka omzet Ateng Rp5-juta sekali panen. Interval panen tidak menentu. Saat awal kemarau, madu dapat dipanen setiap 10 – 14 hari. Artinya, pada musim kemarau omzet Ateng membubung hingga Rp10-juta sebulan dari panen madu. Dalam setahun, panen 2 kali sebulan biasanya berlangsung 3 kali.

Intensitas panen lebih tinggi karena pada awal kemarau banyak tanaman berbunga. Sedangkan pada musim hujan Ateng hanya bisa panen setiap 3 bulan karena tanaman jarang yang berbunga. Frekuensi panen dalam setahun mencapai 3 kali. Panen sebanyak itu ternyata belum mampu memenuhi permintaan para pelanggan.

Sayang, hingga kini Ateng belum mengolah propolis yang dihasilkan trigona. Padahal, produksi propolis trigona lebih tinggi ketimbang apis. “Saya masih fokus untuk menggenjot produksi madu,” katanya. Itulah sebabnya ia kini tengah mempersiapkan kotak tambahan dan menyewa jasa pemburu sarang lanceng untuk mensurvei desa lain yang populasi trigonanya tinggi. (Imam Wiguna)

Keterangan foto

  1. Ateng Arsono menitipkan kotak di rumah-rumah warga
  2. Budidayakan trigona dalam 1.000 kotak kayu berukuran 20 cm x 25 cm x 17 cm
  3. Koloni baru terbentuk 2 – 3 bulan setelah penempatan ratu
 

Powered by WishList Member - Membership Software