Cegah Kehilangan Panen 10%

Filed in Fokus, Majalah by on 09/01/2017

Penggunaan mesin pertanian mempercepat panen, menghemat biaya, dan mencegah kehilangan hasil.

Mesin pemanen dan perontok padi sekaligus, lebih efisien.

Mesin pemanen dan perontok padi sekaligus, lebih efisien.

Produktivitas padi nasional naik dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik mencatat produktivitas padi Indonesia sebanyak 4.980 kg per hektare pada 2011. Setahun kemudian produktivitas menjadi 5.136 kg per hektare. Angka produktivitas itu kemudian menjadi 5.152 kg (2012), 5.135 kg (2014), dan 5.341 kg per hektare (2015). Meningkatnya produktivitas padi merupakan kabar baik bagi pertanian tanahair.

Mesin pemotong padi berkapasitas kerja 3.000—4.000 m2 per jam.

Mesin pemotong padi berkapasitas kerja 3.000—4.000 m² per jam.

Maklum, padi masih menjadi komoditas pangan prioritas. Oleh sebab itu berbagai teknik maupun inovasi kerap dikembangkan untuk meningkatkan produksi Oryza sativa itu. Meningkatnya produktivitas padi itu antara lain karena penggunaan benih unggul, pupuk, dan mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian terbukti lebih menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya operasional seperti pengalaman Ferry Setiawan di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Lebih hemat
Ferry Setiawan memanen padi di lahan seluas 5 ha menggunakan mesin. Untuk memanen satu hektare padi ia hanya membutuhkan 2—3 jam. “Panen di sawah seluas 5 hektar selesai dalam 14 jam,” ujar petani di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, itu. Tenaga kerja juga sedikit, hanya tiga orang, yakni satu orang sebagai pengendali kemudi, dua lainnya bertugas memasukkan gabah ke karung.

Menurut Manajer Pemasaran PT Kubota Machinery Indonesia, Silvi Erfina, mesin pemanen padi itu mampu mengunduh gabah dari lahan seluas 0,3—0,62 hektare per jam. Bandingkan ketika Ferry belum menggunakan mesin pintar itu. Ia membutuhkan 18—20 tenaga kerja selama 8 jam untuk memanen gabah dari sehektare lahan. Lagi pula biayanya cukup tinggi.

Penggunaan gerobak dorong mempercepat pengangkutan hasil panen kelapa sawit.

Penggunaan gerobak dorong mempercepat pengangkutan hasil panen kelapa sawit.

Dari 600 kg gabah kering panen (GKP), sebanyak 100 kg menjadi upah tenaga kerja. Itu berarti jika produksi 6 ton GKP per hektare, upah tenaga panen 1 ton sekitar Rp3,3-juta pada tingkat harga jual Rp3.300 per kilogram. Dengan kata lain Ferry harus mengalokasikan Rp16,5-juta sebagai upah tenaga kerja. Sementara panen menerapkan mesin sangat efisien. Mesin itu hanya menghabiskan 15—20 liter solar setara Rp82.500—Rp110.000.

Hitung-hitungan, untuk pemanenan Ferry hanya mengeluarkan Rp1.750.000 per 5 ha. Dengan begitu potensi penghematan mencapai Rp1,5-juta. Penggunaan mesin pemanen, pengumpul, sekaligus perontok memangkas biaya panen dari 17% menjadi 10%. Menurut peneliti di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Dr Ir Astu Unadi MEng, penggunaan mesin untuk panen meningkatkan penghasilan petani dan angka total panen.

Untuk mempermudah panen padi, petani menggunakan mesin potong padi model GLX-120. Dengan bantuan alat itu proses panen padi berlangsung lebih cepat sebab kapasitas kerjanya 3.000—4.000 m² per jam. Artinya untuk memanen satu hektare hanya membutuhkan 2,5—3 jam. Alat berdimensi 200 cm x 135 cm x 110 cm itu memiliki kecepatan gerak maju 60 m per menit, mundur 45 m per menit. Adapun kebutuhan bahan bakanya 1,0—1,6 liter bensin per jam.

Lebih optimal

Andy Yaw, direktur gerobak DAS GLUCK, produsen alat dorong di Jakarta.

Andy Yaw, direktur gerobak DAS GLUCK, produsen alat dorong di Jakarta.

Panen menggunakan mesin memiliki banyak keuntungan. Selain lebih cepat, hemat tenaga kerja, dan biaya operasional, susut panen pun lebih sedikit. “Panen dengan mesin tingkat kehilangan hasilnya sekitar 1%,” kata Herjanto, bagian pemasaran PT Galaxy Partani Mas. Riset Sigit Nugraha dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian menyebutkan kehilangan hasil padi dari panen hingga pascapanen mencapai 10%.

Jika petani menghasilkan 5 ton GKP per hektare, gabah yang hilang sebanyak 500 kg setara Rp1,6–juta. Sementara susut panen yang dialami Ferry kurang dari 3%. Terdapat selisih 500—700 kg antara panen manual dan dengan mesin. “Panen manual hanya menghasilkan 4—4,5 ton, dengan mesin 4,7—5,2 ton per ha,” ujarnya. Selain untuk panen, penggunaan mekanisasi juga sebagai alat angkut hasil panen, yakni berupa gerobak dorong/gerobak sorong.

Dengan menggunakan alat itu proses pengangkutan berlangsung lebih cepat. Apalagi gerobak DAS GLUCK kapasitasnya cukup besar. “Baknya tebal dan kuat sehingga mampu membawa beban hingga 400 kilogram,” ujar Andy Yaw, direktur gerobak DAS GLUCK, produsen alat dorong di Jakarta. Gerobak dorong itu juga awet dan tahan lama karena dilengkapi ban antibocor. Gerobak dorong itu multifungsi.

Panen padi manual tingkat kehilangan hasil 10%.

Panen padi manual tingkat kehilangan hasil 10%.

Sebab, alat dorong berbobot 15 kilogram itu tidak hanya mengangkut hasil panen pertanian. Peranti itu juga berfaedah untuk mengangkut pupuk, bahan konstruksi bangunan, maupun barang kebutuhan sehari-hari. Sebagai ragam pilihan, DAS GLUCK memproduksi gerobak dorong dengan tiga varian, yakni singa biru, singa ijo, dan singa mas. Singa biru dan singa mas banyak digunakan di perkebunan ataupun konstruksi bangunan.

Sementara singa ijo banyak digunakan di pasar tradisional yang memiliki jalan yang sempit. Itu karena pada singa ijo ukuran bak relatif lebih sempit dan lebih dalam. Harga gerobak dorong itu cukup terjangkau, Rp400.000 per unit. Penggunaan gerobak dorong itu cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki wilayah pertanian yang beragam. Misalnya di daerah terjal, berbatu, atau daerah sempit yang tidak dilewati kendaraan.

Lantaran kualitas DAS GLUCK yang sangat bagus dan pemanfaatannya yang cukup luas, permintaan pasar terhadap gerobak dorong DAS GLUCK relatif meningkat. “Perkembangan permintaan pasar kurang lebih 10% setiap tahun,” ujar Andy. Pekembangan itu akan terus naik sejalan dengan perkembangan di perkebunan, pertanian, konstruksi, dan properti yang membutuhkan alat bantu transportasi ringan. Dengan menggunakan alat dan mesin panen lebih cepat, hemat serta produktivitas meningkat. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Muhammad Awaluddin)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software