Cegah Gulma Datang

Filed in Inspirasi, Majalah by on 13/10/2021

Fase pembibitan kelapa sawit rentan ditumbuhi gulma yang mengakibatkan perebutan unsur hara.

 

Herbisida yang tepat efektif mengusir gulma. Namun, harus selektif agar tetap ekonomis dan meminimalisir resistensi.

Pakis udang Stenochlaena palustris momok bagi pekebun sawit. Gulma itu sangat kompetitif dengan tanaman utama, khususnya ketika fase pembibitan dan tanaman belum menghasilkan (TBM). PT Syngenta Indonesia memroduksi Gramoxone 276 SL untuk mengatasi rongrongan gulma pakis. Herbisida berbahan aktif parakuat diklorida. Sifatnya kontak sehingga cepat bereaksi pada gulma.

Plantation & Paraquat Business Manager, PT Syngenta Indonesia, Nelson M. Sihombing.

Menurut Plantation & Paraquat Business Manager, PT Syngenta Indonesia, Nelson M. Sihombing, dosis aplikasi Gramoxone 276 SL disesuaikan pada kondisi gulma, baik jenis atau kerapatannya. Nelson mengatakan, herbisida berbahan aktif setara ion parakuat 200 g/liter itu sudah beredar di Indonesia sejak 1970-an. Menurut alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, itu hingga saat ini Gramoxone 276 SL masih menjadi market leader khususnya sebagai pengendali gulma pakis. “Meskipun bahan aktif parakuat dibatasi, bahan aktif parakuat masih dibutuhkan di Indonesia karena belum ada alternatif lain yang seefektif parakuat mengatasi pakis-pakisan,” kata pria kelahiran Juli 1970 itu.

Lebih lanjut Nelson menuturkan, S. palustris unik lantaran tidak ada di semua negara. Gulma itu banyak tumbuh di Indonesia terutama di lahan gambut. Itulah alasan Indonesia memerlukan parakuat. Sementara kebun sawit di negara lain tumbuh di lahan mineral yang gulmanya berbeda seperti pakis kawat Dicranopteris linearis yang cenderung lebih mudah dikendalikan.

Selain pakis, gulma daun lebar seperti bandotan Ageratum conyzoides dan senduduk Melastoma malabathricum pun menjadi ancaman. Ada juga kelompok gulma berdaun sempit seperti ilalang Imperata cylindrica. Menurut Nelson ilalang salah satu gulma yang paling ditakuti karena penyebarannya sangat cepat. Bunganya sangat kering dan ringan jadi mudah terbawa angin dan tumbuh di tempat lain.
Perbanyakan vegetatif tanaman itu menggunakan stolon yang bisa menjalar sampai 2 m. Apalagi ilalang menghasilkan zat alelopati yang amat mengganggu pertumbuhan sawit. Untuk mengatasinya, pekebun dapat memanfaatkan herbisida berbahan aktif IPA Glifosat seperti Touchdown Neo 480 SL. Perbedaan bahan aktif juga bertujuan meminimalisir kemungkinan resistensi gulma. Rekomendasi aplikasi yang bertujuan untuk menghindari resistensi yaitu 2 kali Gramoxone 276 SL dan 1 kali Touchdown Neo 480 SL (2G1T).

Kompetisi hara

Menurut peneliti bidang proteksi tanaman, Pusat Penelitian Sawit (PPKS), Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, gulma yang tidak dikendalikan mengakibatkan kompetisi air, sinar matahari, hara, dan ruang tumbuh dengan sawit. “Kompetisi memengaruhi hasil dan kualitas produk. Selain itu, terjadi penambahan biaya pengendalian untuk pembelian herbisida dan penambahan hari kerja,” kata Magister Entomologi Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, itu.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum pengendalian hama yaitu jenis gulma dominan yang ada di lahan, fase pertumbuhan, alternatif pengendalian yang tersedia karena setiap gulma memiliki teknik pengendalian berbeda, serta mengetahui dampak ekonomi dan ekologi. Perhatikan juga ketepatan bahan aktif, dosis, waktu, sasaran, serta kombinasikan dengan pengendalian fisik, mekanis, dan hayati. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol/ Peliput: Nadya Muliandari)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software