Cegah Elmaut Datang

Filed in Perkebunan by on 01/06/2009 0 Comments

Mula-mula hanya satu pohon yang terserang. Berselang sebulan, penyakit maut itu menular. Hanya dalam 6 bulan, 20 pohon meregang nyawa. Penyakit yang menyerang sengon Paraserianthes falcataria itu adalah karat tumor. Dalam 2 tahun terakhir serangannya mengganas dan menjadi pagebluk. Para pekebun sengon di Bali, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat pun sedang menghadapi serangan karat tumor.

Penyakit itu juga meluluhlantakkan sengon di Timor Leste pada 2002. Trubus mengunjungi Gleno, Emera, Dare, Aileu, Leorema, dan Liquisa. Ranting sengon-sengon di ketinggian 40 – 50 m meranggas dan bengkak. Pekebun di negeri jiran itu menanam sengon sebagai pelindung kopi, komoditas andalan Timor Leste. Meranggas dan bengkak memang ciri khas serangan karat tumor.

Tercekik

Menurut Dr Sri Rahayu, dosen Patologi Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, gejala karat tumor berupa hiperplasia alias pertumbuhan berlebih atau membengkak di bagian terserang. Pembengkakan itu akibat kehadiran cendawan Uromycladium tepperiannum di seluruh bagian tanaman meliputi pucuk, cabang, ranting, daun, dan batang.

Rahayu mengatakan karat tumor berkembang intensif di daerah berkelembapan tinggi. Itulah sebabnya sengon yang ternaungi lebih rentan serangan karat puru atau karat tumor. Sebab, sinar ultraviolet tak mampu menembus pohon yang ternaungi. Padahal, radiasi sinar ultraviolet selama 5 jam berturut-turut menghambat perkecambahan teliospora alias spora berinti dua.

Bengkak itu berubah menjadi benjolan kecil alias tumor. Ukurannya bervariasi dari beberapa milimeter hingga 15 cm. Warnanya hijau kecokelatan. Benjolan berselimut tepung berwarna kemerahan merupakan spora patogen. Sementara tumor tua berwarna cokelat kemerahan hingga hitam. Menurut Dr Eko Bhakti Hardiyanto, ahli budidaya sengon dari Fakultas Kehutanan UGM, miselium karat tumor yang masuk ke jaringan kambium mengeblok aliran air dari akar ke daun. Dampaknya pohon mati.

Pencegahan karat tumor harus terpadu sejak persemaian hingga penanaman. Cendawan mengintai bibit sengon di persemaian. Bibit berumur 2 – 3 pekan yang terserang, berdaun mengeriting dan melengkung. Bila disentuh, daun kaku dan mudah rontok. Jika bibit menunjukkan gejala seperti itu, segera musnahkan dan kubur.

Batang bibit sengon berumur 6 pekan yang terinfeksi menunjukkan adanya garis putih memanjang. Gejala serangan lain berupa pembengkokan batang disertai bercak cokelat di bagian itu. Serangan pada tanaman yang lebih tua tampak lebih jelas. Pucuk dan batang putih atau hijau. Batang melingkar seperti tercekik sehingga tidak mampu membesar dan mudah patah pada bagian itu.

Benih jelas

Pekebun sebaiknya menggunakan benih yang jelas asal-usulnya dan dari pohon bebas karat tumor. Rendam biji dalam air panas dan fungisida seperti Benlate, Dithane, atau Derosal. Konsentrasi 0,5 – 1 g/liter air selama 5 – 10 menit. Sebelum biji berkecambah, semprotkan fungisida protektan berbahan aktif tembaga seperti Manchotane, Manteb, dan Manzate. Lakukan penyemprotan 6 hari sekali.

Ulangi penyemprotan fungsida protektan berbahan aktif tembaga ketika bibit dipindah ke lahan. Frekuensi penyemprotan 6 hari sekali selama 6 bulan. Enam bulan kemudian interval dikurangi, 2 pekan sekali selama 2 bulan, dan 1 bulan sekali selama 6 bulan. Utamakan penyemprotan pucuk yang jaringannya masih muda dan gampang terinfeksi cendawan karat.

Dalam sel inang, cendawan karat baru akan memproduksi spora 7 hari setelah infeksi. Jika bibit terserang, menurut Hardiyanto, semprotkan fungsida seperti Danvil, Anvil, dan Andil berdosis 1 – 2 ml/liter air. Usahakan lokasi persemaian di bawah ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dan tempat terbuka untuk mencegah serangan cendawan tumor pada awal persemaian.

Penanganan karat tumor pada tanaman muda tergantung kondisi pohon. Jika pohon terinfeksi dan berpotensi tumbuh baik, maka semprotkan fungisida berbahan aktif tembaga saat mendung. Frekuensi sepekan sekali selama sebulan. Setelah itu intensitas penyemprotan menjadi 2 pekan sekali selama 2 bulan. Namun, jika tanaman tak mampu tumbuh baik, cabut dan lakukan penyulaman dengan bibit sehat untuk memutus daur hidup cendawan.

Pencegahan lain dengan mengurangi pupuk nitrogen dan meningkatkan unsur kalium. Kalium meningkatkan kekerasan dan kerapatan sel-sel tanaman sehingga relatif lebih sukar terinfeksi cendawan karat. Ir Yos Sutiyoso, pakar pupuk di Jakarta, menyarankan penggunaan 1 ton dolomit per ha untuk memperkuat tanaman. Dolomit mengandung 30 – 40% kalsium oksalat untuk pembentukan dinding sel yang kokoh. Selain itu dolomit juga mengandung 13 – 18% magnesium oksalat, inti klorofil, yang berguna dalam proses fotosintesis.

Bila cendawan menginfeksi cabang atau ranting tanaman dewasa, segera potong kira-kira 10 cm dari area terserang. Gunakan pemotong tajam untuk mencegah gerakan berulang yang bisa berakibat tersebarnya spora ke tanaman lain. Pemotongan bertujuan untuk mengurangi risiko masih terikutnya jaringan tumbuhan yang terinfeksi. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software