Cara Produksi Getah Termahal

Filed in Perkebunan by on 05/12/2010 0 Comments

 

Getah optimal saat umur tandan 8—9 bulanGetah beku lantaran kadar air tinggi dan tercampur kotoranHarga fantastis hingga Rp800.000 per kg itu memang membuat banyak pencari jernang tergiur. Sayangnya, mereka bermain ‘kotor’ untuk memperbesar keuntungan dengan mencampurkan berbagai benda demi meningkatkan bobot. Umumnya, mereka menggunakan damar mata kucing – berasal dari getah meranti putih Shorea javanica. Mata kucing sebagai bahan cat, pernis, dan pelapis batang korek agar tidak cepat terbakar itu berwarna merah, persis getah jernang.

Bahan pencampur lain, berupa serbuk biji, kulit buah jernang, dan bata merah. Akibatnya, pembeli kapok sehingga, ‘Harga anjlok menjadi Rp250.000 – Rp400.000 per kg di tingkat pencari,’ kata Ir Lambok Panjaitan, koordinator program Yayasan Gita Buana – lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang penyadaran lingkungan di Jambi. Hanya produsen yang mampu menjaga mutu yang akan memperoleh harga tertinggi.

Umur 8 – 9 bulan

Darah naga atau getah jernang berkualitas tinggi berasal dari buah matang sempurna, 11 bulan sejak fruitset alias pembentukan buah. Itu berarti, produsen tidak sembarang memetik buah untuk memperoleh getah. ‘Buah mesti menjelang matang alias berumur 8 – 9 bulan,’ kata Drs Yana Sumarna MSi, periset hasil hutan nonkayu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor, Jawa Barat. Pada buah terlalu muda, kadar getah belum maksimal. Sebaliknya, pada buah yang terlalu tua, kandungan getah menyusut. Itulah sebabnya, produsen yang mengolah buah muda atau tua, memperoleh sedikit getah.

Untuk memperoleh getah termahal itu, produsen memisahkan getah dari buah jernang. Di Jambi, pencari jernang umumnya berasal dari etnis Melayu Jambi dan etnis Kubu, mereka berjuluk suku Anak Dalam. Kedua etnis itu melakukan ekstraksi kering – prinsipnya memisahkan daging dari buah tanpa pelarut. Bedanya, etnis Kubu menumbuk buah sehingga rendemen meningkat. Sedangkan ekstraksi cara etnis Melayu Jambi cuma menggoyang-goyangkan buah.

Hasil riset Yana pada Agustus – Oktober 2009, etnis Melayu Jambi hanya memperoleh rendemen getah 6,41%; etnis Kubu, 7,42%. Namun, ekstrak hasil etnis Kubu kerap tercampur kotoran dari kulit atau biji yang ikut rontok saat penumbukan. Untuk memetik tandan, pencari jernang menggunakan penyuluk atau galah panjang berujung pengait. Panjang penyuluk menyesuaikan ketinggian tandan jernang yang tumbuh memanjat hingga 20 meter.

Jika penyuluk kurang panjang, ‘Pencari jernang tidak akan ragu menebang tanaman,’ kata Abdul Hadison, direktur Yayasan Gita Buana. Itu menyebabkan populasi jernang liar di hutan kian menyusut. Pencari lantas mengumpulkan tandan buah jernang dalam tapan atau keranjang rotan yang mereka bawa di pinggang. Keranjang rotan memungkinkan sirkulasi udara berjalan baik sehingga tandan jernang sudah kering angin saat pencari jernang bermalam.

Keesokan hari, para pencari itu kembali ke rumah dan memetik buah jernang seukuran bola pingpong dari tandan. Mereka lalu mengumpulkan buah dalam ambung – keranjang rotan yang lebih kecil daripada tapan. Ketika mereka mengguncang-guncangkan ambung sambil sesekali menumbuk, perlahan-lahan getah kemerahan menetes keluar dari sela-sela ambung. Tanpa pengolahan lebih lanjut, mereka menjual getah itu kepada pengepul.

Basah

Selain ekstraksi kering, secara tradisional sebetulnya ada cara lain memperoleh getah, yakni ekstraksi basah. Yana Sumarna melakukan ekstraksi basah dengan 3 jenis pelarut: benzena, metanol, dan heksana. Hasilnya, lulusan Ilmu Kehutanan program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor itu memperoleh rendemen lebih tinggi ketimbang cara kering, masing-masing 9,2%, 9,5%, dan 9,52%. Selain itu, kadar air, abu, dan pengotor lebih rendah daripada cara kering (lihat tabel Mutu Getah). Artinya, hasil ekstrak basah lebih bersih.

Terbukti, ekstrak Yana tetap berbentuk serbuk meski tersimpan lebih dari 1 tahun.Sedangkan ekstrak buatan para pencari di hutan membeku 30 menit usai ekstraksi. ‘Pembekuan itu lantaran pengotor dan air, selain campuran damar,’ kata Yana. Ekstrak serbuk laku dengan harga lebih baik lantaran kualitas hampir pasti terjamin. Getah beku dengan banyak pengotor atau bahan campuran, lebih murah karena pembeli mesti memurnikan kembali dengan proses yang sulit dan mahal. Ada harga, ada rupa.

Meski berasal dari tanahair, getah jernang Daemonorops sp malah sohor di negeri Tiongkok yang menempatkan herbal sama tinggi dengan ilmu medis. Menurut Yana Sumarna, beberapa jenis obat asal Tiongkok yang beredar di tanahair mengandung getah jernang. Artinya, ‘Orang lain mengolah produk kita untuk kita beli kembali,’ kata Yana. Getah buah kerabat rotan itu memang multikhasiat seperti menghentikan pendarahan, mempercepat penyembuhan luka, sampai menghambat kanker lantaran bersifat antioksidan kuat. (Argohartono Arie Raharjo)

 

 

  1. Getah optimal saat umur tandan 8 – 9 bulan
  2. Drs Yana MSi: Jernang terdapat dalam beberapa merek obat dari China
  3. Getah beku lantaran kadar air tinggi dan tercampur kotoran

Foto: Yayasan Gita Buana

Mutu Getah

Sifat fisika-kimia (%)

Ekstraksi Kering

Cara Kubu

Cara Melayu

Kadar air

4,4

3,2

Kadar pengotor

16

5,2

Kadar abu

2,8

0,7

Titik leleh (oC)

105

80

Rendemen

7,42

6,41

Sumber: Drs Yana Sumarna Msi

Cara kering (etnis Kubu dan Melayu Jambi)

  1. Pisahkan buah dari tandan, tempatkan dalam ambung
  2. Goncangkan ambung sampai serbuk keluar. Etnis Kubu kadang menumbuk ambung perlahan sehingga serbuk lebih banyak.
  3. Serbuk dikemas, siap jual

Olah Jernang

Cara basah

  1. Pisahkan buah dari tandan, rendam dalam pelarut metanol, heksana, atau benzena
  2. Diamkan 2 – 3 hari sampai pelarut menguap. Jika ingin menggunakan pelarut kembali, tutup rapat wadah dan diamkan dalam waktu sama.
  3. Pisahkan serbuk dari ampas biji dan kulit. Atau, pisahkan pelarut dengan sentrifus dan penyaringan. Suling pelarut agar kembali murni.

Ilustrasi: Bahrudin

 

Powered by WishList Member - Membership Software