Cara Pas Atasi Patek

Filed in Inspirasi, Majalah by on 11/02/2020

Patek atau antraknosa menyerang buah cabai.

Upaya pencegahan dan penanggulangan antraknosa pada tanaman cabai.

Deka Rijki Pangestu semringah. Beberapa hari lagi pekebun di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, memanen cabai di lahan 0,8 hektare. Cabai-cabai berwarna merah menggelayuti cabang tanaman. Menjelang malam hujan deras dan kabut menyelimuti lahan. Keesokan hari Deka melihat titik hitam pada buah cabai. Deka segera menyemprotkan fungisida untuk mengatasi noktah hitam itu.

Namun, titik hitam pada buah Capsicum annuum itu membesar. Banyak pula buah jatuh dari tangkai dan busuk. Itulah gejala tanaman terserang patek atau antraknosa. “Kerusakan hingga 80% hanya dalam waktu semalam,“ kata Deka. Artinya hampir 20.000 tanaman gagal panen. Jika produksi minimal 1 kg saja per tanaman, Deka kehilangan 20 ton cabai. Ia mencabuti tanaman yang rusak dan membakarnya.

Bakar tanaman

Deka menuturkan, “Jika sudah terserang sulit bagi tanaman kembali normal. Pencabutan lebih ekonomis.” Alumnus Jurusan Agroteknologi, Fakutas Pertanian, Universitas Padjadjaran itu gagal mengantisipasi serangan antraknosa. Padahal ia melakukan budidaya intensif seperti sanitasi lahan, memasang mulsa, pemberian pupuk mikro, dan aplikasi fungisda. Sayang, cendawan Colletotrichum capsici tetap menyerang tanaman.

Menurut peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Dr. Awang Maharijaya, S.P., M.Si., antraknosa menyerang tanaman sejak buah mulai terbentuk hingga panen. Cendawan penyebab antraknosa itu bisa terbawa oleh benih, percikan air, dan alat semprot.

Menurut Development and Registration Manager PT Royal Agro Indonesia, Hadi Suparno, lingkungan lembap memicu antraknosa. Musim hujan membuat lingkungan menjadi lembap sehingga penyakit akibat ulah cendawan meningkat. Selain cendawan Colletotrichum capsici penyebab patek, cendawan lain yang menyerang cabai adalah Fusarium oxysporum penyebab layu fusarium (Lihat “Atasi Fusarium, halaman 78-79”).

Cabai terserang antraknosa, semula titik hitam makin membesar.

Hadi mengatakan, petani dapat mencegah serangan dengan menggunakan varietas tahan, pengaturan jarak tanam, dan penggunaan mulsa plastik. Jika telanjur terserang pekebun bisa mengambil dan memusnahkan buah terserang, kemudian menyemprotkan fungisida seperti Custodia 320 SC. Fungisida produksi PT Royal Agro Indonesia itu berbahan aktif azoksistrobin 120 + tebukonazol 200 g/l.

Campur nonsistemik

Custodia bekerja secara sistemik mengendalikan antraknosa pada tanaman cabai. Petani dapat mencampur dengan fungsida nonsistemik seperti Macoban 80WP yang berbahan aktif Mankozeb 80%. Konsentrasi cukup 2 gram per liter. Pencampuran fungisida nonsistemik bertujuan untuk mengendalikan penyakit yang terinfestasi di dalam buah dan mencegah penyebaran penyakit. Penambahan perekat lebih disarankan pada musim hujan.

Salah satu fungisida untuk mengendalikan serangan antraknosa pada cabai.

Pemberian fungisida untuk preventif dilakukan sejak mulai akhir pembunganan atau pada saat awal perkembangan buah cabai. Penyemprotan berikutnya dengan interval 7 hari sebanyak 4 kali. Menurut dosen di Departemen Proteksi Tanaman Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Hersanti, MP., ragam kombinasi pengendalian amat disarankan untuk mengendalikan antraknosa.

Hasil penelitian Hersanti menunjukkan, pengendalian antraknosa harus terpadu. Ia menggunakan mulsa jerami, tumpang sari dengan bawang daun, penggunaan pupuk hayati trichoderma, penggunaan pupuk NPK 240 kg per hektare, dan penerapan manajemen pengendalian berdasarkan ambang batas efektif mengendalikan antraknosa. Ambang batas bila kerusakan lebih dari 15%.

Serangan antraknosa lebih rendah dibandingkan dengan budidaya cabai secara konvensional menggunakan mulsa plastik hitam perak, monokultur, tanpa tricoderma, pupuk NPK 600 kg per hektare, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman berselang 3 hari. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software