Cara Cepat Ganti Jenitri

Filed in Majalah, Perkebunan by on 30/04/2020

Bunga tidak mudah rontok salah satu ciri jenitri unggul hasil sambungan.

 

Sambung pucuk, okulasi, sambung susu, dan kaki banyak menjadi jurus menghasilkan jenitri jempolan.

Air dalam plastik mempertahankan kelembapan entres.

Delapan ribu rupiah sekilogram. Itulah harga penawaran tertinggi yang Umar Hadi dapatkan untuk jenitri yang hampir panen. Padahal 7—8 tahun sebelumnya pembeli berani membayar Rp10.000 per biji dari pohon milik pekebun di Dusun Kalipuru, Desa Pujotirto, Karang sambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah itu. Kalau 1 kg jenitri berisi 5.000—8.000 biji, maka harga per biji hanya Rp1—Rp1,6. Budiarto, putra tertua Umar, pun pergi ke sentra-sentra jenitri di Kabupaten Kebumen.

Ia mencari biji unik yang bakal laku dengan harga tinggi. Begitu dapat, Toto—panggilan Budiarto—mengambil entres dari pohon itu sebagai bahan menyambung pohon jenitri milik Umar. Setelah besar dan berproduksi, pengepul membeli biji itu dengan harga lebih dari Rp5.000 per butir. Toto merahasiakan asal entres untuk membatasi peredaran biji jenitri berbentuk seperti miliknya. Sudah pasti juga ia melarang siapa pun mengambil ranting dari pohon itu sebagai bahan entres.

Pucuk dan susuan

Pohon hasil penyambungan itu berproduksi optimal pada umur 3 tahun. Sebelum umur setahun pun pohon sudah belajar berbuah, tapi mereka membiarkan buah-buah magori atau panen perdana itu berguguran. Selain untuk mendapatkan bakal batang bawah, “Bijinya jangan sampai beredar dulu,” kata Umar. Setelah umur pohon 3 tahun barulah Umar dan Toto memanen lalu mengolah buahnya menjadi biji jenitri.

Cepatnya pohon berbuah itu lantaran Toto menerapkan perbanyakan vegetatif secara top working. Menurut Umar Hadi pekebun jenitri di Kebumen rata-rata mampu memperbanyak tanaman secara vegetatif. “Yang muda-muda lebih lihai. Mereka mampu menyambung banyak pohon dalam waktu singkat,” ujar ayah 2 anak itu. Cara yang paling sering mereka lakukan adalah sambung susuan (approach grafting). Keberhasilan cara itu sangat tinggi, mencapai 99%.

Kalau pun ada susuan yang gagal biasanya karena masalah di luar teknis persambungan seperti tertendang anak kecil, terserang hama, atau pengaruh cuaca. Itu sebabnya teknik itu lebih populer ketimbang sambung pucuk (cleft grafting). Meski demikian, sambung pucuk pun kerap dilakukan kalau pekebun hanya memperoleh entres berupa potongan ranting atau cabang. Kepala Desa Pujotirto, Giriyanto, S.Pd pernah melihat seorang tetangga membeli entres seharga Rp12,5 juta dari salah satu daerah di Jawa Timur.

Biji jenitri bermotif unik laku dengan harga tinggi.

Menurut Giriyanto di sana jenitri tumbuh liar di hutan-hutan di kaki gunung. Pertumbuhan tanpa campur tangan manusia itu justru memungkinkan terjadinya persilangan antar pohon yang menjadikan munculnya bentuk atau motif biji baru. Namun, belum tentu pasar menerima bentuk atau motif baru itu. Pasar menghendaki biji jenitri yang simetris agar tengahnya bisa dilubangi untuk membuat aksesori. Syarat lain adalah tersedia dalam jumlah cukup agar terbentuk harga baku.

Selain sambung susuan dan sambung pucuk, ada pekebun di Kalipuru yang berkreasi membuat pohon jenitri berkaki banyak. Makin banyak kaki, pertumbuhan makin cepat. Salah satunya pohon jenitri di pekarangan depan rumah Umar Hadi. Pada umur 6 bulan, tinggi dan lingkar batangnya setara pohon berumur setahun. “Harapannya nanti buah pertamanya lebih banyak,” katanya. Kalau ternyata pohon itu menghasilkan biji murah, tinggal disambung pucuk dengan entres dari pohon yang harga bijinya mahal.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Plastik isi air

Pertumbuhan pohon berkaki banyak lebih cepat dan produksi lebih tinggi.

Prinsip membuat jenitri kaki banyak itu adalah melekatkan batang bawah kepada pohon atau bibit lain yang sudah tumbuh. Begitu menyatu, pucuk batang bawah dipangkas sehingga pohon menempel sempurna. Keunikan teknik penyambungan ala Kalipuru adalah menyambung di pucuk batang bawah. Lazimnya, pekebun tanaman buah memotong batang bawah sedekat mungkin dengan media tanam untuk meminimalkan peluang munculnya cabang dari batang bawah.

Sifat batang bawah kurang unggul, itu sebabnya pekebun menyambungkan batang atas. Namun, Umar menyatakan bahwa cabang dari batang bawah itu meningkatkan daya tahan batang bawah sekaligus mendongkrak keberhasilan penyambungan. “Nanti cabang dari batang di bawah sambungan tinggal dipangkas,” kata Umar. Cara lain dengan memperdalam penanaman bibit itu sampai bagian sambungan sedekat mungkin dengan media tanam. Cara itu memperkecil kemungkinan batang bawah mengeluarkan cabang.

Metode unik lain yang mereka gunaka

n adalah merendam sisa potongan entres dalam plastik berisi air. Tujuannya mencegah entres kering sehingga keberhasilan penyambungan meningkat. Salah satu kunci keberhasilan menyambung adalah penyiraman. Menurut Umar pohon jenitri memerlukan air agar produksi optimal. Pohon besar pun memerlukan penyiraman saat kemarau panjang agar berbuah banyak. Biasanya Umar bibit menyiram sampai seluruh media basah.

Ia menyiram ulang ketika media terasa kering. Frekuensinya tergantung cuaca, bisa 2 kali sehari maupun 2 hari sekali. Setelah bibit pindah tanam di tanah pun pekebun wajib menyiram. Cara menyiram terbaik adalah secara melingkar dari ujung akar baru mengarah ke batang. Tajuk juga ia siram dengan memercikkan air. Pekebun jenitri di Kalipuru mempertahankan produktivitas sekaligus harga jenitri dengan cara-cara itu. (Umi Barokah, S.P., M.P., Penyuluh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software