Cara Baru Panen Gaharu

Filed in Uncategorised by on 03/09/2012 0 Comments

Gaharu dimaui sampai Timur TengahMengoleskan cendawan, menuai gubal. Semudah itu Ir Joni Surya Djakfar menghasilkan gaharu.

Joni Surya: Aplikasi teknik oles kian meluasOles Cendawan Tuai GaharuPekebun gaharu di Provinsi Bengkulu, Ir Joni Surya Djakfar, mengelupas kulit pohon Aquillaria malaccensis berumur 3-5 tahun hingga menghasilkan dua bidang masing-masing berukuran 20 cm x 5 cm. Di atas luasan itu ia menyemprotkan cendawan hasil isolasinya sendiri lalu meratakannya dengan kuas. Selang beberapa menit, setelah olesan kering, ia mengulanginya hingga 2 kali.

Selang 6-8 bulan kemudian pekebun gaharu sejak 12 tahun lalu itu mengerok batang bekas olesan. Ia menuai 0,8 kg gaharu kelas C per 10 cm2 titik oles atau 1,6 kg per pohon. Joni mengelola 20.000 pohon gaharu di kebun 70 ha; seluruhnya mendapat perlakuan sama sejak 2010. Artinya total jenderal Joni menuai 320 ton gaharu. Harga jual gaharu kelas C di tingkat pekebun Rp300.00-Rp500.000 per kg. Pascapanen Joni mengulangi perlakuan sama pada bidang berbeda.

Lubang panen

Mula-mula Joni mengupas kulit batang berbentuk persegipanjang. Lalu membuat lubang menggunakan bor tangan di salah satu sisi memanjang bidang ke sisi memanjang lain, bukan menuju empulur alias pusat batang. Setiap titik oles terdiri atas 5 lubang dengan jarak antarlubang 2 cm. Untuk itu Joni menyarankan untuk membuat lubang tidak terlalu jauh dari tepi lingkaran batang.

Jika diameter batang 15 cm, maka jarak lubang ke tepi lingkaran batang paling jauh 10-15% diameter, sekitar 1,5-2,2 cm dari tepi lingkaran batang. Fungsinya  menyisakan tempat bagi jaringan empulur yang membawa air ke ujung daun dan karbohidrat hasil fotosintesis ke ujung akar. Setelah itu barulah ia menyemprotkan larutan cendawan dan meratakannya dengan kuas. “Lubang-lubang itu bukan untuk memasukkan cendawan, tapi nantinya sekadar untuk memudahkan pemanenan,” kata Joni.

Proses pembentukan gubal terlihat dua bulan pascaperlakuan. Jika kulit berubah warna menjadi kehitaman, tanda pengolesan berhasil; kulit cokelat, pertanda gagal. Menurut Joni, warna di bagian atas biasanya lebih cepat berubah. “Kalau tanda itu belum tampak, ulangi pengolesan,” kata ketua Kelompok Gaharu 88, Kota Bengkulu, itu.

Joni mengatakan tingkat keberhasilan cara itu mencapai 90%. Sekitar 6-8 bulan pascapengolesan barulah gubal terbentuk sempurna. Pekebun tinggal mengerik atau mencungkil gaharu dari lubang yang dibuat sebelum mengoles. Menurut peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor, Drs Yana Sumarna MSi, kayu gaharu tergolong lunak dan mudah hancur. Tanpa lubang-lubang itu, panen akan sulit dan berisiko merusak, bahkan mematikan pohon.

Teknik menghasilkan kayu harum ala Joni terbilang baru. Lazimnya pekebun memperoleh gaharu setelah menginfeksi pohon dengan cendawan Fusarium sp. Pekebun pada umumnya  melubangi batang pohon dengan posisi miring bersudut 30-45 derajat. Ke dalam lubang itulah pekebun memasukkan cendawan. “Infeksi pada pembuluh angkut alias floem tanaman membuat cendawan terbawa ke seluruh tanaman dan menyebabkan pohon terinfeksi secara sistemik,” kata Drs Yana Sumarna MSi.

Pohon terinfeksi akan mati perlahan-lahan sembari membentuk gubal. Dalam kondisi seperti itu saatnya petani menuai gaharu. Namun, alih-alih membuat pohon terinfeksi sampai mati, Joni hanya mengoleskan cendawan inokulan ke batang atau cabang. Hasilnya, gaharu terbentuk dan pohon tetap tegak berdiri meski panen berkali-kali. “Dengan demikian gaharu dipanen terus-menerus,” kata Joni.

Manfaatkan cabang

Setelah panen barulah Joni membuat bidang oles baru dengan jarak minimal 5 cm di atas maupun di bawah bidang oles sebelumnya. Bisa juga di sisi berbeda agar pohon tidak rusak di satu sisi saja. Yang penting saat membuat lubang tidak mengenai pusat batang. Oleh karena itu Joni mensyaratkan pohon berumur minimal 3 tahun ketika diameter batang mencapai 15  cm.

Pada pohon lebih besar, bidang oles bisa dibuat di batang atau cabang asalkan berdiameter sama. Menurut Ir Sentot Adi Sasmuko, peneliti hasil hutan di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Mataram, gaharu mudah bercabang. Caranya lakukan pemangkasan titik tumbuh saat tinggi tanaman hampir mencapai 0,5 m, atau pangkas pascapindah tanam. Setiap pangkasan akan mengeluarkan 3 tunas, jika salah satunya dipotong lagi akan mengeluarkan 3 tunas, dan demikian seterusnya. Tunas-tunas itulah yang akan menjadi tumpuan penghasilan di masa depan. Titik oles terendah di batang utama minimal 50 cm dari tanah agar tidak terkena percikan air hujan dari tanah penyebab busuk batang.

Setelah 2-3 kali panen, baru kembali ke titik oles awal. Jika seluruh permukaan batang sudah pernah dilubangi, ada 2 pilihan: gunakan teknik penyuntikan dan menebang habis gaharu ketika panen atau pindahkan perlakuan ke cabang. Namun, perlakuan di cabang punya kelemahan lantaran metabolisme di cabang lebih cepat. Proses kesembuhan bisa saja terjadi sehingga membentuk gubal, atau malah mati sebelum membentuk kayu berharga. Pembentukan gubal di cabang bisa sebulan lebih cepat ketimbang di batang utama.

Bagi Joni teknik menghasilkan gaharu dengan pengolesan menguntungkan. Hasil 1,6 kg gaharu per panen tergolong sedikit ketimbang cara tebang. Namun, akumulasinya selama 8 tahun sungguh fantastis. Menurut Faisal Salampessy, pekebun dan eksportir gaharu, pekebun biasanya menginokulasi pohon berumur 5 tahun, diameter lebih dari 15 cm, atau sudah berkayu, keras dan timbul rekahan di kulit batang.

“Panen dengan penebangan dilakukan pada tahun ke-2-3 pascaperlakuan atau saat tanaman berumur 7-8 tahun,” kata Faisal. Produktivitasnya 15 kg gubal per pohon. Jika pekebun menuai gubal dari teknik oles sejak tanaman berumur 3 tahun berarti pada tahun ke-8 produktivitas total menjadi 19,2 kg. Nantinya Joni tetap akan panen dengan menebang pohon. Kini cara itu menyebar luas ke anggota kelompok binaan Joni. “Total pohon yang diperlakukan lebih dari 100.000 batang di seluruh Provinsi Bengkulu,” ungkap Joni. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Keterangan Foto :

  1. Joni Surya: Aplikasi teknik oles kian meluas
  2. Gaharu dimaui sampai Timur Tengah

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software