Cairan Peningkat Panen

Filed in Sayuran by on 01/10/2009 0 Comments

 

Biasanya budidaya kentang dilahan itu menghasilkan umbi relatif kecil. Catatan pekebun di Nongkojajar,Tutur, Pasuruan, Jawa Timur, itu menunjukkan setiap 100 tanaman di lahan 15 m2 menghasilkan 44,55 kg. Itu meningkat 45,6% ketimbang panen tahun sebelumnya pada bulan sama. Djuniko girang lantaran lonjakan produksi itu juga diikuti oleh peningkatan omzetnya dari Rp15,5-juta menjadi Rp50,26-juta. Ia membudidayakan varietas sama. Yang berbeda pada musim tanam 2009, Djuniko menggunakan pembenah tanah.

Pekebun kelahiran 27 Mei 1962 itu memang baru menerapkan pembenah tanah di lahan 2.000 m2. Ia membagi lahan seluas 4.000 m2 menjadi 2 bagian. Di lahan pertama ia membudidayakan kerabat tomat itu secara konvensional; lahan kedua, dengan pembenah tanah yang diberikan sebelum penanaman kentang. Caranya ia melarutkan sebotol berisi 160 gram dalam 160 liter air dan menyemprotkan ke lahan. Agar tidak menguap, pria 47 tahun itu menyemprot pada pagi sebelum matahari terbit.

Elektrolit

Di demonstrasi plot (demplot) itulah produksi kentang meningkat tajam. Menurut Dr Ir Suwardi MAgr, peneliti Departemen Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor, hasil pada demplot itu bisa disetarakan dengan potensi hasil per hektar. “Jika hasil dari demplot-demplot hampir mirip, potensi hasil per hektar merupakan hasil kali produksinya,” kata alumnus Tokyo University of Agriculture, Jepang itu. Potensi hasil lahan yang diberi pembenah tanah mencapai 29,65 ton; sebelumnya hanya 19,95 ton per ha.

Pekebun kentang itu tersentak karena pada saat bersamaan ia juga mengurangi pupuk. Biasanya Djuniko menghabiskan 400 kg NPK, 5.000 kg pupuk kandang, dan 100 kg ZA. Total biaya pembelian pupuk Rp4.695.000. Setelah memanfaatkan pembenah tanah seharga Rp700.000, ia hanya menggunakan 200 kg NPK, 3.000 kg pupuk kandang, dan 50 kg ZA, total senilai Rp3.422.500.

Marian Knappert, kepala perwakilan sebuah produsen pembenah tanah elektrolit di Indonesia, menyatakan pembenah tanah bukan pupuk karena tidak memberi nutrisi bagi tanaman. Pembenah tanah juga bukan pestisida karena tidak membunuh hama apa pun. Pembenah tanah yang digunakan Djuniko itu kaya elektrolit. Fungsinya memperbaiki tekstur tanah dengan cara meningkatkan aliran elektron—terdiri dari kation dan anion—dalam tanah. Zat yang terkandung berupa 20,1% natrium hidroksida dan 25% gula inversi.

Kation adalah elektron positif dan anion merupakan elektron negatif dalam tanah. “Selama ini beberapa unsur hara terjerap di lapisan liat silika. Seluruh lapisan itu bermuatan negatif. Oleh sebab itu, kation atau elektron positif seperti magnesium, kalsium, hidrogen, amonia, dan kalium terjerap dan sulit diserap tanaman,” kata Suwardi yang juga peneliti Pusat Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor.

Aman

Pembenah tanah itu mengandung natrium sehingga menggantikan unsur-unsur positif yang terjerap pada lapisan liat silika. “Hal itu karena natrium memiliki kekuatan adsorpsi paling lemah di antara elektron positif lain. Maka dengan mudah elektron natrium tertarik oleh komponen pada liat silika,” kata Suwardi.

Sedangkan unsur-unsur magnesium, kalsium, hidrogen, dan kalium, terlepas ikatannya dan mudah diserap oleh tanaman. Ion kalium dan fosfor berperan mengatur transportasi karbohidrat sehingga umbi kentang menjadi lebih besar. Sedangkan magnesium mengaktifkan enzim agar tanaman tumbuh subur.

Banyaknya nutrisi yang terserap oleh tanaman, memperbaiki nilai electric conductivity (EC) tanaman. EC adalah konsentrasi ion-ion yang terlarut dalam larutan nutrisi pada tanaman sehingga memberikan daya hantar listrik. Nilai EC tanaman pada lahan kurang hara berkisar 1. Dengan penambahan elektrolit, EC meningkat menjadi 1,5. Nilai EC diukur dengan EC-meter.

Nilai EC meningkat sejalan dengan meningkatnya salinitas tanah. Itu sebabnya, jumlah ion natrium yang ditambahkan tidak boleh berlebih. Karena jika berikatan dengan ion klor (Cl-) menghasilkan NaCl alias garam. Akibatnya, tanah berongga besar mirip seperti pasir di pinggir laut. Jumlah natrium pada pembenah tanah 400 g yang dilarutkan dalam 400 l air hanya 84 gram/ha. Batas maksimal 0,01/kg tanah. Jika dihitung 84 g/ha sama dengan 0,75 x 10-6/kg tanah. “Masih sangat jauh dari ambang batas, pembentukan garam hampir tidak terjadi sehingga tidak akan mengubah tekstur tanah,” kata Suwardi.

Umbi besar

Setelah akar menyerap unsur hara berupa elektron dalam konsentrasi tinggi, terjadi kekentalan nutrisi. “Pada kekentalan tertentu menjadi sinyal bagi tanaman untuk menaikkan nutrisi itu ke seluruh jaringan tanaman dengan metode osmosis,” kata Suwardi. Agar nutrisi hasil serapan akar dapat naik ke jaringan tanaman, maka stomata pada jaringan daun akan membuka untuk melangsungkan fotosintesis.

Pada proses pemasakan karbohidrat itu, air dari daun menguap dan menaikkan air beserta nutrisi dari akar ke jaringan daun. Itu artinya pupuk kaya elektrolit mempercepat fotosintesis sehingga umbi kentang lebih cepat terbentuk dibandingkan pada tanah tanpa pemberian elektrolit.

Adanya gula inversi dalam pembenah tanah, menyebabkan populasi bakteri penggembur tanah seperti Aeromonas punctata dan Aspergillus niger meningkat di daerah perakaran.

Aeromonas punctata dan Aspergillus niger bakteri pelarut fosfat menghasilkan enzim fosfatase, asam-asam organik, dan polisakarida.

Senyawa-senyawa itu membebaskan unsur fosfat dari pengikatnya sehingga jumlah yang diserap tanaman meningkat. Kelarutan kalium juga meningkat sehingga produktivitas membumbung. Menurut Prof Dr Iswandi Anas dari Institut Pertanian Bogor, pembenah tanah kaya elektrolit masih langka di Indonesia. “Jika sudah teruji di Jerman dan beberapa negara lainnya, sudah saatnya juga dicoba di Indonesia,” katanya. (Vina Fitriani)

 

Powered by WishList Member - Membership Software