Cabai Baru :Dari Mata Turun ke Lidah

Filed in Majalah, Sayuran by on 09/07/2019

Buah cabai lembayung berwarna ungu ketika masih muda, dan akan berubah merah ketika sudah matang.

 

Tiga cabai baru kaya antosianin sebagai antioksidan. Warna buah amat elok cocok untuk hiasan.

Buah cabai varietas ayesha mungil memikat hati.

Buah muda yang tegak seperti menunjuk langit itu berwarna ungu. Makin besar buah itu berubah menjadi merah. Itulah cabai lembayung yang kaya kandungan antosianin. Pemulia cabai baru itu Prof. Dr. Muhamad Syukur, S.P., M.Si. dari Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor. Penampilan cabai itu rimbun dan amat elok.

Doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Institut Pertanian Bogor itu sengaja merakit cabai dengan tingkat kepedasan rendah. Tujuannya agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi cabai sehat itu. “Saya tidak ingin rasa cabai-cabai hias ini terlalu pedas, agar masyarakat bisa memakan lebih banyak cabai-cabai yang mengandung antosianin tinggi,” papar Syukur. Biofortifikasi atau penambahan nutrisi pada penganan merupakan khasiat tersembunyi di balik kecantikan cabai hias rakitan Syukur.

Mata dan lidah

Antosianin merupakan pigmen warna merah-ungu-biru natural berperan sebagai antioksidan untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Mengonsumsi makanan yang tinggi antosianin seperti buah-buahan berwarna ungu baik untuk kesehatan.  Lembayung—bermakna warna merah-ungu di langit senja—bukan satu-satunya cabai hias baru hasil pemuliaan Syukur. Peneliti itu juga merakit cabai syakira yang memiliki buah mirip rawit, buah muda berwarna kuning yang dapat berubah keunguan ketika tersentuh cahaya mentari. Satu lagi cabai baru rakitan Syukur bernama ayesha.

Buah ayesha berbentuk segitiga membulat dan tumbuh tegak. Perubahan warna buah ayesha sejak muda mulai kuning, jingga, lalu merah. Ketika buah susul-menyusul maka tanaman itu sangat kaya warna bak lampu natal yang menyala. Ketiga cabai baru itu memiliki banyak persamaan, yaitu  bertajuk kompak sehingga terlihat rimbun, buahnya melimpah, dan berukuran kecil berwarna-warni.

Buah cabai varietas syakira yang masih muda dapat berubah keunguan ketika terpapar cahaya matahari.

Syukur merakitnya sekaligus sebagai cabai hias. Jadi, cabai-cabai itu memanjakan mata, kemudian ketika dewasa memanjakan lidah, terakhir membangun kesehatan tubuh karena kaya antosianin. Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura itu memang senang mengutak-atik variasi tanaman hortikultura menjadi seelok tanaman hias.

Menurut Syukur agar masyarakat menggandrungi cabai sebagai tanaman ornamental maka penampilannya harus elok. Tajuk harus pendek supaya terlihat indah dan kompak bersanding dengan pot berdiameter 20 cm. “Cabai biasa umumnya muat di pot 30 cm, jadi dia besar, dan tidak menarik kalau dijadikan tanaman hias,” ujar Syukur.

Periset genetika dan pemuliaan tanaman sayuran itu menuturkan, warna buah pun harus atraktif. Ia mewujudkan setidaknya tiga warna dalam satu tanaman. Corak yang keluar mungkin putih, kuning, jingga, ungu, dan atau merah. Syukur merancang cabai dengan warna-warna transisi yang beragam. Semula kuning, berubah jingga, lalu merah. Ada pula yang ungu ketika muda, berubah jingga, lalu merah. Cabai lain berwarna kuning, ungu, merah.

Tiga warna

Variasi dalam bentuk dan arah tumbuh buah juga menjadi sorotan. Seperti uniknya buah cabai varietas ayesha yang kecil membulat dan tumbuh ke atas otomatis mengikat arah pandangan yang melihatnya. “Agar buahnya terlihat pada rangkaian pot, maka harus orientasinya ke atas. Kalaupun orientasi buah ke bawah, harus diimbangi dengan warna buah cabai yang cerah dan pekat seperti ungu pekat dan putih kekuningan,” kata pria kelahiran 47 tahun silam itu.

Prof. Dr. Muhamad Syukur, S.P., M.Si giat mengembangkan varietas-varietas cabai hias.

Syukur juga memperelok daun. Ia mengembangkan cabai hias berdaun lebar, kecil-kecil, bahkan variegata. Variegata atau daun belang—paduan hijau dan kuning—selama ini dominan di tanaman hias seperti monstera dan anthurium. Namun, di kebun percobaan Syukur mengembangkan cabai berdaun variegata. Cabai hias itu juga tahan terhadap suhu tinggi agar adaptif ditanam di mana pun.

Masyarakat menggemari cabai-cabai hias itu. “Dari semua benih yang kami produksi, cabai hias menduduki penjualan di peringkat kedua setelah bunga matahari,” kata Syukur. Penggemar varietas-varietas cabai hias Syukur adalah Elfan Adhiatman. Ia pernah menanam ayesha dan syakira di halaman rumahnya. Elfan dan rekanan kerjanya memang pehobi tabulampot sehingga ketika mengetahui keberadaan cabai hias langsung penasaran.

Warga Dolokmasihul, Kota Tebingtinggi, Provinsi Sumatera Utara, itu menyukai varietas ayesha. “Bentuknya bantat-bantat, jadi ketika berbuah kelihatannya lebat. Saya lebih suka melihat fisik tanaman cabai ayesha karena lebih seragam orientasi tumbuh buahnya,” kata Elfan. Pegiat tanaman hias di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Iwan, pernah menanam beberapa jenis cabai hias. Menurut Iwan cabai hias akan lebih indah jika tumbuh di pot berdesain unik. (Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software