Bulu Pakan Bermutu

Filed in Satwa by on 01/03/2010 0 Comments

Pakan ruminansia atau hewan memamah biak seperti sapi dan kambing berupa hijauan dan konsentrat. Namun, ketersediaan hijauan menipis akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri. Sebagai bahan baku penyusun konsentrat, jagung juga menjadi kebutuhan pangan manusia. Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc APU periset dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bogor, Jawa Barat, menawarkan solusi, bulu ayam sebagai sumber pakan ruminansia.

Data Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian menyebutkan populasi ayam pedaging di Indonesia pada 2009 mencapai 1-miliar. “Rata-rata umur pemotongan ayam adalah 35 hari berbobot hidup 1—2,2 kg,” ujar Wayan. Jika rata-rata bobot ayam yang dipotong adalah 1,4 kg maka total bobot potong 1,4-miliar kg. Menurut Wayan, bulu menyumbang porsi 6% dari keseluruhan bobot hidup ayam potong. Dengan demikian potensi bulu ayam potong kering mencapai 84-juta kg per tahun.

Keratin

Potensi besar itu belum tergarap maksimal. Padahal, hasil riset Wayan bersama Ir Umi Widiati, Wisri Puastuti SPt MS, membuktikan bulu ayam layak sebagai sumber protein bagi ruminansia. Kandungan protein kasar bulu ayam mencapai 83,74% lebih besar dibanding bungkil kedelai (42,5%) atau tepung ikan (66,2%) yang lazim digunakan sebagai komponen utama sumber protein dalam ransum.

Sayangnya, protein tinggi itu belum disertai nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam masing-masing 5,8% dan 0,7%. Nilai kecernaan itu rendah karena protein itu berbentuk keratin. Keratin merupakan protein yang kaya asam amino bersulfur yakni sistin. Ikatan disulfida yang dibentuk di antara asam amino sistin menyebabkan protein sulit dicerna.

“Dalam saluran pencernaan, keratin tak dapat dirombak menjadi protein tercerna baik oleh mikroorganisme rumen atau enzim proteolitik—enzim yang dapat memecah protein menjadi bentuk yang dapat diserap—di saluran pencernaan pascarumen,” kata doktor Ilmu Nutrisi dari Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor itu.

Untuk mengatasi maka ikatan sulfur yang melekat pada protein sistin harus dipisah. Tujuannya agar enzim tripsin dan pepsin dalam saluran cerna ruminansia mampu mencerna. Cara memisah ikatan sulfur beragam seperti perlakuan fisik dengan pengaturan pemanasan dan tekanan, penambahan asam dan basa (HCl dan NaOH), serta secara enzimatis memanfaatkan mikroorgansime.

Pemisahan secara fisik dengan mengatur tekanan 3 bar dan suhu 1050C menghasilkan tepung berkadar protein 76%. Namun, pemanasan terlampau lama merusak kandungan asam amino lisin, histidin, serta menghasilkan tepung kecokelatan. Sedangkan pemisahan secara kimiawi dengan pemberian 6% soda api atau natrium hidroksida meningkatkan nilai kecernaan menjadi 64,6%. Idealnya pengolahan bulu ayam menggunakan asam HCl, tanpa suhu dan tekanan tinggi untuk mencegah kerusakan protein. Penggunaan asam HCl menghasilkan produk yang sesuai dengan kondisi rumen yang asam.

Bobot meningkat

Dalam riset itu Wayan memberikan tepung bulu ayam kepada domba selama 12 pekan. Persentase protein asal bulu ayam beragam: 5%, 10%, 20%, dan 40%. Untuk kontrol diberikan protein kasar sebanyak 15%. Hasilnya konsumsi 20% protein ransum dan 778,73 g bahan kering per ekor menaikkan bobot hidup 134 g setiap hari. Bandingkan dengan pemberian protein kasar 15% dan 716,4 g bahan kering, hanya mampu menaikkan bobot 91 ekor per hari.

Menurut Wayan keunggulan tepung bulu ayam adalah protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen. Namun, protein itu masih mampu dicerna secara enzimatis pada saluran pascarumen. Protein yang masuk rumen hanya sebagian kecil yang dirombak menjadi amonia. Sebagian besar masuk ke saluran pencernarn pascarumen dan memasok asam amino yang cukup bagi kebutuhan hewan.

“Pemberian tepung bulu sebagai sumber protein tak tercerna meningkatkan suplai total sekaligus memperbaiki profil asam amino,” kata Wayan. Dampaknya deposisi atau penumpukan protein dan bobot ternak pun terdongkrak. Nilai rumen tak cerna pada tepung bulu ayam berkisar 53—88%, nilai kecernaan dalam rumen 12—46%.

Pemberian tepung bulu ayam juga meningkatkan konsumsi bahan kering. Itu mengindikasikan tepung bulu mempunyai palatabilitas tinggi. Palatabilitas merujuk pada sifat performansi bahan pakan berupa fisik dan kimiawi yang dicerminkan organoleptik bahan pakan. Itu dapat berupa kenampakan, bau, rasa, tekstur, serta suhu. Daya palatabilitas tinggi mengindikasikan pakan ampuh mendongkrak nafsu makan ternak.

Menurut Wayan tepung bulu ayam bisa diberikan hingga maksimal 40% dari protein ransum. “Bagi ruminansia sedang tumbuh, dosis 10% protein ransum,” kata Wayan. Inovasi pakan ruminansia itu terobosan yang bagus. I Ketut Karya Wisana dari PT L embu Jantan Perkasa, perusahaan pembesaran sapi di Pandeglang, Provinsi Banten, mengatakan jika kandungan nutrisi tepung bulu ayam dan harga memadai serta respon biologis ternak juga bagus, tepung bulu ayam layak sebagai sumber nutrisi. (Faiz Yajri)

  1. Tepung bulu kaya protein kasar 83,74%, lebih tinggi daripada bungkil kedelai (42,5%) atau tepung ikan (66,2%)
  2. Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc APU, tepung bulu sumber protein bagi ruminansia
  3. Kenaikan bobot domba 134 g/ekor/hari dengan pemberian 10% protein tepung bulu ayam
  4. Pakan hijauan semakin berkurang akibat lahan pertanian semakin tergerus
  5. Foto-foto: Faiz Yajri & Nesia Artdiyasa

Nutrisi Bulu

Mineral

Persentase

Bahan kering

91,96%

Serat kasar

0,6—0,9%

Protein kasar

83,74%

Lemak

3,81%

Abu

2,76%

Kalsium

0,17%

Fosfor

0,13%

Energi dapat dicerna

3.952 kkal/kg

Energi total

5.200 kkal/kg

Sumber: Laboratorum Balitnak

 

Powered by WishList Member - Membership Software