Bukti Sahih sang Perawan

Filed in Obat tradisional by on 01/05/2009 0 Comments

Siang itu ia sendirian, anggota keluarga lain bekerja dan sekolah. Ia meminta tolong dengan isyarat melambai-lambaikan tangan. Tetangga segera melarikan Toto ke rumahsakit.

 

 

Di ruang gawat darurat dokter memeriksa kesehatan Toto. Hasilnya sungguh mengejutkan: kadar gula darah 770 mg/dl. Kadar gula normal pria dewasa 110-160 mg/dl. ‘Karena kadar gula darah sangat tinggi, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa saya seharusnya sudah tidak bernapas lagi,’ kata Toto.

Kelahiran 6 Januari 1962 itu menjalani opname selama 8 hari. Di rumahsakit ia menjalani diet karbohidrat, protein, dan gula. Ketika tiba kembali di rumah, ia patuh mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter. Sayang kadar gula darah tak juga turun meski setahun ia rutin menelan obat antidiabetes mellitus. Suatu pagi usai salat Idul Fitri, ia berjumpa teman yang menyarankan untuk mengkonsumsi virgin coconut oil (VCO).

Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta itu ragu. ‘Masak saya diberi minyak. Jangan-jangan malah kolesterol yang naik,’ ujar Toto. Namun, setelah teman masa SMP meyakinkan, Toto akhirnya mencoba VCO. Ia mengkonsumsi 1 sendok makan VCO 2 kali sehari. Setelah menghabiskan 5 botol-masing-masing 80 ml-ia merasakan lebih bugar dan tak mudah mengantuk seperti sebelum konsumsi VCO.

Ketika ia memeriksakan diri ke dokter. Ternyata kadar gula darah mendekati ambang normal: 180 mg/dl. Pengecekan terakhir 2 bulan lalu, kadar gula darahnya normal.

Riset ilmiah

Turunnya kadar gula darah Toto bukan kebetulan belaka. Berbagai riset ilmiah membuktikan keampuhan VCO mengendalikan kadar gula darah. Prof Dr Bambang Setyaji, ahli VCO dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan minyak perawan itu mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (medium chain fatty acid atau MCFA) tinggi, terutama asam laurat 43-53%. Menurut dr M Masjhoer MS Med SpFK, ahli farmakologi klinis di Universitas Diponegoro, MCFA mampu merangsang dan meningkatkan kemampuan sel ß pankreas dalam memproduksi insulin.

Itu sejalan dengan penelitian Shinta Febriana Yustisiari, dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Ia menguji 25 tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I adalah kontrol negatif, diberi 2 ml akuades. Yustisiari memberi VCO berdosis 0,57 ml, 1,13 ml, dan 2,27 ml per 100 g bobot tubuh masing-masing untuk kelompok II, III, dan IV. Sedangkan kelompok terakhir diberi glibenklamid-obat antidiabetes.

Dalam riset itu terbukti bahwa pemberian VCO menurunkan kadar glukosa darah seperti halnya glibenklamid. Menurut Dr dr Indwiani Astuti, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sifat antioksidan VCO juga melindungi pankreas. Sehingga kinerja pankreas memproduksi insulin tetap prima. Pasokan insulin lancar, glukosa darah pun terkontrol.

Kolesterol

Dua tahun terakhir, memang banyak periset menguji secara ilmiah kemujaraban VCO. Pada 2005, saat VCO tren, kesembuhan pasien cuma bukti empiris. Sekarang duduk perkara kesembuhan itu makin gamblang setelah banyak periset meneliti VCO. Periset lain yang membuktikan kemanjuran VCO adalah Raden Parsaulian Tambunan dari Jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada. Dalam uji praklinis, VCO terbukti antikolesterol.

Ia membagi tikus putih Rattus norvegicus dalam 2 kelompok. Grup I terdiri atas 4 ekor sebagai kontrol. Kelompok II, 8 tikus, dikondisikan hiperlipidemia alias berkolesterol tinggi melalui pemberian pakan tinggi kolesterol selama sepekan. Kadar kolesterol melonjak menjadi 125%. Kelompok II kemudian dibagi dalam 2 subgrup: pertama diberi 0,06 ml VCO per hari; subgrup kedua, hanya diberi pakan tikus biasa tanpa VCO. Perlakuan berlangsung selama 30 hari.

Setelah diberi VCO, hasilnya kolesterol turun hingga 52,10%. Bandingkan dengan kelompok tanpa diberi VCO, penurunannya cuma 48,61% ketika pakan kolesterol tinggi dihentikan. Menurut Tambunan senyawa fenolik dalam VCO berperan menurunkan kadar kolesterol. Senyawa itu menghambat kerja HMG-KoA reduktase, enzim yang berperan dalam biosintesis kolesterol. Dampaknya laju pembentukan kolesterol lambat dan penum-pukan kolesterol dalam darah berkurang.

Pantas bila Abdul Hadi, pengidap kolesterol tinggi, 350 mg/dl-normal 200 mg/dl-akhirnya sembuh setelah rutin mengkonsumsi VCO. Tingginya kadar kolesterol itu buah kegemarannya mengkonsumsi gorengan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Hadi mengalami penyumbatan arteri alias arteriosklerosis akibat tingginya kadar kolesterol. Pascaopname selama 2 pekan, Abdul Hadi pulang membawa segepok obat-obatan penurun kolesterol. Tiga bulan rutin mengkonsumsi obat-obatan dan menjauhi pangan berlemak, arterinya tetap saja tersumbat.

Malahan kadar kolesterol darah membumbung: 400 mg/dl. Itu yang menyebabkan dadanya kembali sesak. Jalan penyembuhan itu terbentang ketika Hadi berjumpa teman yang menyarankan untuk mengkonsumsi VCO. Sebelum makan, ia mengkonsumsi sesendok VCO. Hasilnya amat menggembirakan. Sebelas pekan berselang, ia merasa sangat nyaman. Sembuh? Begitulah hasil pengecekan laboratorium. Kadar kolesterolnya normal.

Antibakteri

Khasiat VCO tidak berhenti di situ. Minyak perawan itu juga tokcer mengatasi candidiasis vagina alias keputihan. Hery Winarsi, peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, membuktikannya lewat uji klinis pada 30 perempuan penderita keputihan. Winarsi memberikan VCO yang diperkaya seng kepada pasien selama 2 bulan. Sepuluh orang mengkonsumsi dengan dosis 1 sendok makan; 10 orang, 2 sendok makan per hari. Sisanya mengkonsumsi VCO saja, dosis 2 sendok makan per hari.

Hasilnya, VCO plus seng (Zn) ampuh menekan pertumbuhan bakteri pemicu keputihan seperti Streptoccoccus, Klebsiella, dan Escherichia coli. Pertumbuhan mereka berturut-turut dapat ditekan 53,6%, 76,2%, dan 47,2%. Penurunan pertumbuhan bakteri itu juga diikuti oleh turunnya pH sekret vagina, dari 6 menjadi 5,1. Keberadaan bakteri-bakteri patogen itu dapat meningkatkan pH vagina. Akibatnya cendawan Candida albicans, penyebab keputihan, tumbuh subur.

VCO menekan pertumbuhan bakteri karena kandungan asam laurat bersifat antibakteri. Menurut Winarsi penambahan seng pada VCO meningkatkan imunitas. Perempuan adalah kelompok yang sering mengalami defisiensi seng sehingga gampang terkena infeksi. Seng diperlukan sebagai komponen membran sel dan enzim antioksidan, serta aktivasi dan proliferasi sel T. Dengan meningkatnya fungsi imunitas, tubuh tidak gampang terinfeksi patogen. (Ari Chaidir/Peliput: Faiz Yajri & Vina Fitriani)

 

Powered by WishList Member - Membership Software