Bukan Hanya untuk Jus dan Salad

Filed in Topik by on 06/06/2013 0 Comments

Namanya Kiai Gringsing. Nama itu disematkan padanya karena ia selalu memakai kain gringsing. Tokoh rekaan almarhum SH Mintardja dalam serial Api di Bukit Menoreh itu  hidup sederhana layaknya penduduk Pulau Jawa di zaman Kerajaan Pajang dan Mataram. Ia diciptakan sebagai seorang tokoh mumpuni yang rendah hati. Rendah hati karena meskipun ia sebenarnya keturunan trah keraton Majapahit, tetapi Kiai Gringsing rela melepaskan status kebangsawanannya dan hidup di sebuah desa terpencil.

Kiai Gringsing pun piawai dengan ilmu pengobatan. Kehebatan mengobati orang dengan aneka dedaunan itu justru menjadi titik awal kemunculannya. Beberapa kali dalam aneka peristiwa, kemampuan mengobati luka dengan tumbuhan obat yang dipetik di pekarangan ditampilkan oleh sang pengarang. Pemilihan tokoh Kiai Gringsing yang mumpuni dalam pengobatan sangat tepat karena ia disebut sebagai turunan keluarga kerajaan. Pada masa itu, keraton memang menjadi pusat tradisi pemakaian tanaman berkhasiat obat  untuk kehidupan sehari-hari.

Pengobatan memanfaatkan dedaunan saat itu jamak dilakukan karena cerita disusun dengan latar sejarah abad ke-15. Pengobatan modern dengan bahan kimia sintetis baru muncul di awal abad ke-20. Dahulu kala, entah kapan persisnya, manusia mengobati luka dan penyakit dengan ilmu coba-coba memakai tumbuhan. Kisah sukses kesembuhan diwariskan turun-temurun sampai sekarang. Bukti-bukti pemakaian tumbuhan sebagai obat bisa dilihat dari jejak sejarah di berbagai pelosok Nusantara dalam bentuk tulisan di lontar atau berupa kakawin, syair lagu. Serat Centhini, Serat Kawruh, Usada Illa adalah sebagai kecil catatan pengobatan herbal yang diwariskan pada anak cucu.

Candi-candi tempat beribadat yang berdiri sejak abad ke-6 pun menampilkan bukti pemakaian tanaman obat dalam kehidupan sehari-hari. Ada ukiran di candi Borobudur yang melukiskan berbagai jenis tanaman obat yang biasa dipakai saat itu.

Obat-obat modern zaman sekarang sebagian besar bersumber dari tanaman. Wajar jika ada yang menobatkan tanaman sebagai laboratorium farmasi terlengkap. Perjalanan nan panjang dialami tanaman sebelum diakui berkhasiat obat. Bukti-bukti empiris yang membuktikan khasiatnya dikumpulkan sedikit demi sedikit. Kian banyak bukti empiris yang muncul, semakin tinggi pengakuan khasiat tanaman itu sebagai obat. Diperlukan waktu 180 tahun agar tanaman obat naik pangkat menjadi jamu. Aneka uji—bisa sampai 20 tahun—akan dilalui jamu sebelum derajatnya terangkat menjadi fitofarmaka. Fitofarmaka adalah herbal terstandar yang sudah melalui uji klinis pada manusia.

Avokad

Kerapkali tanaman berkhasiat obat semula hanya dikenal untuk tujuan lain. Avokad Persea americana, misalnya.  Pedagang jus buah di pinggir jalan, koki restoran, penggemar buah, dan salad pasti mengatakan pohon avokad yang bermanfaat ya buahnya.  Seperti buah lain, avokad bagus untuk kesehatan. Ia kaya vitamin A. vitami C, B kompleks, vitamin E, dan vitamin D juga terkandung di daging buahnya. Lemak nabatinya memang banyak, tetapi kadar asam lemak jenuhnya sangat rendah.

Di Kebun Percobaan Tlekung, Malang, aneka ragam avokad ditanam: avokad merah panjang, merah bundar, dickson, butler, winslowson, benik, puebla, fuerte, collinson, waldin, ganter, mexcola, duke, ryan, leucadia, queen, dan edrano. Yang diunggulkan secara nasional ialah avokad ijo panjang, avokad ijo bundar, mega gagau, dan mega murapi. Di pasar swalayan kelas atas, jenisnya bertambah dengan kehadiran oro negro. Oro negro kosa kata Spanyol yang berarti hitam emas. Itu cocok dengan sosoknya yang berkulit hitam legam dengan daging buah kuning bak mentega. Mike Hunt menemukannya pada 1989 di Redland, Brisbane, Australia.  Negara Kanguru itu memang salah satu produsen avokad dunia, mencoba mengalahkan peringkat pertamanya yakni California.

Yang kini sedang tren  di Indonesia ialah avokad miki. Avokad yang diliput oleh Trubus dari pemilik pohonnya di Depok itu istimewa sekali: berbuah sepanjang tahun dan tidak berulat. Buahnya terlalu keras bagi gigi ulat. Daging buah tebal dan kuning bak mentega. Daunnya juga tidak bisa dimakan oleh ulat kipat Cricula trisfenestrata, Genjah, berbuah pada umur 2—3 tahun.

Sebagai tanaman obat? Langka sekali yang mengetahuinya. Para peneliti kita pernah mengobservasi pemanfaatan tanaman obat di daerah Gunung Halimun (Jawa Barat), Pulau Singke (Riau), Tapos (Bogor), Pulau Seram (Maluku), Taman Nasional Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Mentawai (Sumatera Barat), dan Cagar Alam Watu Aja (Nusa Tenggara Timur). Tidak ada satu pun masyarakat di daerah itu yang memakai buah atau daun avokad sebagai obat tradisional. Periset di   Department of Research, Jawaharlal Nehru Cancer Hospital and Research Centre, Idgah Hills, Bhopal, India, membuktikan bahwa buah avokad berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker dengan pola apoptosis, yakni mendorong agar sel kanker bunuh diri. Periset di Shizuoka University meneliti 22 jenis buah untuk mengatasi kerusakan hati. Terbukti avokad paling potensial untuk memperbaiki kondisi hati yang sudah rusak.

Di Indonesia belum terdengar kabar buah avokad dipakai untuk terapi kanker dan hepatitis. Namun, sebagian kecil herbalis sudah memanfaatkan daun avokad untuk mengatasi hipertensi. Di Afrika,  daun avokad secara turun temurun dipakai untuk mengatasi kejang-kejang dan epilepsi.  Di Filipina lain lagi. Aneka penelitian manfaat daun avokad digelar.  Di sana ada penelitian ilmiah ekstrak daun avokad menurunkan kadar kolesterol. Kajian ilmiah lain, daun avokad meningkatkan metabolisme akumulasi lipid di jaringan adipose sehingga berefek mengatasi obesitas. Ada juga penelitian daun avokad sebagai antifungi dan antibakteri. Ditengarai pula efeknya yang hipoglikemik sehingga berpotensi menanggulangi diabetes mellitus.

Pengalaman empiris memakai daun avokad untuk penyakit tertentu bertebaran di dunia maya. Testimoni mengatasi hipertensi, sakit kepala, nyeri pinggang mendominasi. Cara pemakaiannya khas obat tradisional yang belum naik pangkat menjadi jamu: ambil beberapa lembar daun, didihkan dalam segelas atau dua gelas air sampai menjadi seperempat atau satu gelas, minum setelah dingin. Efeknya antarpemakai mungkin saja berbeda.

Belum tercatat pabrik obat yang memakai daun avokad sebagai bahan baku utama produknya. Yang paling “maju” hanyalah produk berupa teh celup daun avokad. Wajar karena proses farmakologi yang runtut mulai dari pemilihan tanaman diikuti pengambilan senyawa murni sangat rumit dan melibatkan disiplin ilmu biologi, kimia, farmakologi, dan toksikologi. Penemuan efek daun avokad untuk mengatasi penyakit tertentu secara empiris hanyalah arah untuk menemukan senyawa aktif farmakologis  bagi kemajuan herbal Indonesia. *****

 

Onny Untung, Koordinator Pengembangan Agribisnis dan  redaktur senior Trubus

Avokad oro negro (kulit hitam) dan avokad miki

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software