Bugar Berkat Brokoli

Filed in Majalah, Topik by on 12/05/2020

Brokoli mengandung beragam zat antioksidan yang berperan menjaga sistem kekebalan tubuh.

Mengonsumsi brokoli bisa menjaga sistem kekebalan tubuh menghadapi beragam penyakit.

Anda gemar mengonsumsi brokoli? Lanjutkan kebiasaan baik itu terutama di tengah pandemi Corona virus disease 2019 (Covid-19). Alasannya Brassica oleracea dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh melalui efek antioksidan. Tanaman anggota famili Brassicaceae itu mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan karena bernilai kalori rendah, tinggi serat, dan rendah garam.

Kandungan selenium tergantung dari kadar selenium dalam tanah tempat brokoli ditanam.

Selain itu brokoli memiliki berbagai komponen aktif yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, dan antikarsinogenik. Daya tahan tubuh kuat merupakan benteng pertahanan tubuh agar tetap sehat. Mengonsumsi brokoli sebagai salah satu jenis sayuran hijau sangat disarankan sebagai tambahan variasi asupan sayuran sehari-hari. Kandungan gizi brokoli lainnya yakni sulforaphane, polifenol, vitamin C, vitamin A, vitamin E, vitamin K, dan asam folat.

Gizi lengkap

Setiap komponen aktif itu memiliki cara berbeda dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Sulforaphane merupakan komponen aktif utama dalam brokoli yang bersifat antiinflamasi dan antikarsinogenik. Adanya bakteri atau virus dalam tubuh meningkatkan produksi beberapa mediator inflamasi melalui berbagai enzim seperti siklooksigenase (COX)-2 dan inducible nitric oxide synthase (iNOS) sebagai respons pertahanan tubuh.

Peran sulforaphane meregulasi ekspresi COX-2 sehingga membantu meningkatkan respons imunitas tubuh. Polifenol dalam brokoli merupakan antioksidan yang poten. Banyak radikal bebas terbentuk seperti hidrogen peroksida dan hidroksi radikal selama berlangsung stres oksidatif. Dampaknya terjadi kerusakan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) yang menyebabkan berbagai penyakit inflamasi dan degeneratif.

Polifenol bertugas memecah radikal bebas yang terbentuk sehingga dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit akibat radikal bebas. Flavonoid salah satu bentuk polifenol dalam brokoli juga bekerja dengan menghambat enzim dalam neurotransmiter sistem saraf dan beberapa hormon pada tubuh. Manfaatnya mencegah timbulnya penyakit degeneratif sistem saraf seperti strok dan berbagai penyakit keganasan yang berhubungan dengan hormon.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Adapun vitamin C bersifat antioksidan sebagai kofaktor enzim yang dapat memecah radikal bebas dan detoksifikasi hidrogen peroksida. Vitamin C pun meningkatkan penyerapan kalsium dan besi dalam saluran pencernaan. Kolaborasi vitamin C dan E juga bekerja sinergis sebagai antioksidan. Sementara selenosistein—bentuk aktif selenium—berperan melindungi sel dari kerusakan oksidatif akibat radikal bebas melalui enzim glutathione peroksidase (GPx).

Kukus saja

Meski begitu, penanaman, penyimpanan, dan pengolahan memengaruhi nutrisi dalam brokoli. Kandungan selenium tergantung dari kadar selenium dalam tanah tempat brokoli ditanam. Jadi selenium dalam brokoli yang ditanam di negara-negara di Eropa berbeda dengan brokoli asal berbagai negara di Asia. Suhu dan kelembapan pada pengolahan dan pembekuan serta penyinaran selama penyimpanan bisa mengubah kandungan nutrisi brokoli.

Pengukusan cara pengolahan brokoli terbaik lantaran potensi kehilangan kandungan nutrisi paling minimal dibandingkan dengan pengolahan lain.

Penelitian menunjukkan penyimpanan brokoli selama lebih dari 7 hari dan penyimpanan pada suhu rendah memengaruhi kandungan vitamin C. Beberapa penelitian lain mengungkapkan perendaman brokoli dengan suhu tinggi 55—100°C selama 1—10 menit mengurangi kandungan nutrisi brokoli. Aneka pengolahan seperti perebusan, pengukusan, atau penggunaan microwave tidak memberikan hasil yang berbeda terhadap kadar polifenol.

Namun, ada penelitian yang menyatakan pengukusan meningkatkan aktivitas antioksidan brokoli sehingga dapat memberikan efek kesehatan yang lebih baik bagi tubuh. Pemotongan atau pengunyahan brokoli menyebabkan peningkatkan pelepasan sulforaphane sebagai pemecah radikal bebas. Perebusan menyebabkan kehilangan nutrisi ke dalam air rebusan. Pilihan terbaik yaitu pengukusan lantaran potensi kehilangan kandungan nutrisi paling minimal dibandingkan dengan pengolahan lain. (dr. Sanny Ngatidjan, M.Gizi, Sp.GK., anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia cabang DKI Jakarta)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software