Budikdamber Kangkung di Atas Lele di Bawah

Filed in Majalah, Sayuran by on 19/09/2019

Budikdamber buatan Akbar mudah diterapkan.

 

Cara budidaya ikan dan sayuran di ember. Cocok untuk masyarakat perkotaan.

Ikan lele diberi makan melalui lubang di tengah tutup ember.

Delapan ember masing-masing bervolume 80 liter berderet-deret di atap rumah Akbar yang dibeton. Di ember itulah Akbar membudidayakan dua komoditas sekaligus, lele dan kangkung. Kangkung Ipomoea aquatica tumbuh subur di atas tutup ember. Total terdapat 64 pot untuk menumbuhkan sayuran anggota famili Convolvulaceae itu. Sementara di dalam ember terdapat 80 lele berukuran
20 cm.

Warga Cipondoh, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu memperkirakan bobot ikan itu 250 gram per ekor setelah pemeliharaan selama 3 bulan. Ia menebarkan pelet di permukaan air. Keruan saja lele-lele di dalam ember muncul ke permukaan untuk melahap butiran pelet. “Istri saya kalau mau masak untuk keluarga tinggal mengambil kangkung dan ikan lele dari sini,” kata ayah beranak 3 itu.

Mudah

Akbar memiliki 8 budikdamber di teras atap rumahnya.

Akbar mengadopsi budikdamber—singkatan dari budidaya ikan dan sayur dalam ember—sejak Januari 2019. Perekayasa konsep budikdamber dosen di Program Studi Budidaya Perikanan Politeknik Negeri Lampung, Juli Nursandi, S.Pi., M.Si. “Perikanan dalam wadah kecil belum ada seperti pertanian dengan tabulampotnya, karena lahan kita sempit. Nah, yang saya pikir ada dari Aceh sampai Papua itu ember,” kata Juli Nursandi.

Master Pengelolaan Sumber Daya Perairan alumnus Institut Pertanian Bogor itu mulai mengembangkan budikdamber pada 2015. Setahun terakhir makin banyak yang mengadopsi inovasi itu. Menurut Akbar mengadopsi teknologi budikdamber relatif mudah. Akbar menuturkan, “Ketika saya coba pertama kali langsung berhasil. Bahkan waktu itu yang mengerjakan anak saya yang masih SMP.”Akbar memodifikasi budikdamber sederhana Juli menjadi lebih ciamik dan tahan lama.

Akbar sukses menumbuhkan beragam sayuran seperti kangkung, genjer, bayam, cabai, tomat, dan kemangi dengan budikdamber. Menurut Juli kangkung merupakan pilihan terbaik karena, “Kangkung memang tanaman yang memiliki akar yang tumbuh di dalam air, dan tumbuh secara cepat.” Akbar memanen kangkung budikdamber hanya dalam waktu 21 hari dari semaian.

“Rasa kangkung budikdamber lebih renyah,” kata Akbar. Menurut Akbar rasa daging lele budikdamber pun berbeda. “Ketika dipegang tubuh ikan terasa lebih keras dan kenyal, rasa dagingnya juga kenyal dan gurih,” kata Akbar.

Menguntungkan

Juli Nursandi, pencipta konsep budikdamber asal Lampung.

Menurut Juli masyarakat dapat memelihara ikan patin, gabus, sepat, dan betok di wadah budikdamber. Lele merupakan pilihan ikan yang terbaik dari segi kemudahan perawatan, kecepatan pertumbuhan, dan kemampuan adaptasi biologis. Juli mengatakan, jenis ikan yang memungkinkan hidup di ember terutama yang memiliki organ pernapasan tambahan atau disebut labirin seperti lele, gurami, dan gabus.

 

Organ labirin membantu ikan untuk dapat mengambil oksigen dari udara secara langsung. Juli menuturkan, budikdamber juga berfungsi sebagai kulkas hidup, yaitu memelihara ikan yang sudah besar hingga dibutuhkan untuk konsumsi atau dijual.

Penebaran bibit lele berukuran 5—12 cm akan siap panen dalam waktu 2 bulan pada kolam, sedangkan budikdamber butuh waktu 2,5—3 bulan. “Hal itu disebabkan daya dukung budikdamber kecil,” kata Juli. Ia menerapkan teori pada sistem bioflok, 1 liter air dapat menghidupi 1 ikan. “Saya mengembangkan budikdamber untuk mewujudkan ketahanan pangan terutama ikan dan sayuran untuk rumah tangga,” kata Juli.

Genjer menjadi alternatif pilihan sayuran untuk ditanam di budikdamber.

Masyarakat menggemari budikdamber. Beberapa kali Akbar menjual budikdamber Rp300.000 per wadah. Sejak mengenal budikdamber, Akbar telah membuat sekitar 50 ember budikdamber. (Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software