Budikdamber Hanya Tiga Kali Kuras

Filed in Majalah, Sayuran by on 15/10/2020

Perawatan budikdamber minimal berkat pemakaian perangkat Aqualift-PW80GB-Jet.

Budikdamber termodifikasi memudahkan perawatan ikan. Bahkan nila sekalipun dapat dibudidayakan dalam budikdamber dengan sintasan 100%.

Fiscer Ahmad Kaftaru menuai 30 nila berbobot masing-masing 200—250 g per ekor dari sebuah ember bervolume 80 liter air pada Juni 2020. Total jenderal Kaftaru memanen 6—7,5 kg nila. Warga Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu membudidayakan nila memakai sistem budidaya ikan dan sayuran dalam ember (budikdamber) karena keterbatasan lahan. Hasil panen itu relatif bagus karena hingga panen tidak ada ikan yang mati.

Filter mekanik (tabung putih) dan aerator bagian dari sistem Aqualift-PW80GB-Jet.

Ia menebar 30 nila seukuran 2—3 jari pada Februari 2020. Kaftaru mengatakan budidaya nila itu lebih cepat 15 hari dibandingkan dengan metode konvensional. Pada budidaya konvensional perlu waktu 4,5—5 bulan untuk mencapai bobot panen sama dari benih berukuran 2—3 jari. Yang paling istimewa Kaftaru hanya 3 kali menambah air dan membuang lumpur selama budidaya dalam 4 bulan.

Modifikasi

Lazimnya pelaku budikdamber 10 kali mengganti air selama budidaya. Apa yang bikin budikdamber kreasi Kaftaru spesial? Ia memodifikasi budikdamber sehingga air bersirkulasi dan memiliki wadah tanam atau grow bed berupa talang sepanjang 60 cm yang bersistem pasang surut. Kaftaru menggunakan aerator berdaya 5 watt dan pipa sebaga filter mekanis.

Selain sebagai wadah penanaman, grow bed pun berperan sebagai filter biologis dan siklus mineralisasi. Perubahan amonia menjadi nitrit lalu nitrat terjadi dalam wadah tanam yang berisi batu split biasa. Kekurangan batu split berbobot berat. Pilihan lainnya hidroton, tapi harganya lebih tinggi daripada batu split. Pecahan bata bisa menjadi alternatif selain split biasa.

Sistem pasang surut menyebabkan tanaman tidak selamanya terendam air. Dengan begitu batang tanaman tidak busuk. Kaftaru menamakan perangkat modifikasi pada budikdamber itu Aqualift-PW80GB-Jet. Begini cara kerjanya. Air dalam ember masuk ke filter mekanis lalu menuju wadah tanam. Air yang naik itu mengandung banyak oksigen terlarut yang diperlukan ikan.

Selanjutnya air yang kaya oksigen melewati filter biologis dan terjadi mineralisasi pada batu split dalam wadah tanam. Lalu air yang bersih dari kotoran dan kaya oksigen itu kembali masuk ke dalam ember. Seterusnya begitu selama 24 jam. Kaftaru hanya membuka pipa pembuangan untuk mengeluarkan kotoran dan sisa pakan yang menumpuk. Perangkat Aqualift-PW80GB-Jet memudahkan perawatan budikdamber karena tidak sering menguras kotoran.

Ikan nila memerlukan oksigen lebih banyak dibandingkan dengan ikan lain seperti lele.

Harap mafhum jika kotoran yang menumpuk tidak dibersihkan, kesehatan ikan dan tanaman terganggu akibat tingginya amonia. Aqualift-PW80GB-Jet mengurangi kadar amonia sekaligus menyediakan air kaya oksigen. Apalagi ikan nila memerlukan oksigen lebih banyak ketimbang ikan lain seperti lele. Ide membuat Aqualift-PW80GB-Jet muncul ketika banyak pemilik budikdamber mesti menguras air setiap hari terutama yang mempunyai banyak ember.

“Tujuan berakuaponik itu hemat tenaga serta tanpa harus menyiram dan menguras,” kata pria kelahiran Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu. Penambahan alat itu meningkatkan modal awal berbudikdamber. Kaftaru menghitung masyarakat mesti merogoh kocek sekitar Rp450.000 untuk satu unit budikdamber yang dilengkapi Aqualift-PW80GB-Jet. Adapun biaya pembuatan budikdamber tanpa alat itu hanya Rp200.000 per unit.

Meski lebih mahal, penggunaan Aqualift-PW80GB-Jet lebih efektif dan efisien di masa mendatang karena hemat tenaga dan listrik. Masa pakai alat itu sekitar 2 tahun. Sejatinya bukan hanya Aqualift-PW80GB-Jet yang menjadikan budikdamber Kaftaru spesial. Ia juga menggunakan asam amino plus ekoenzim bikinan sendiri. “Asam amino menjaga kualitas air dan membantu metabolisme ikan agar penyerapan nutrisi maksimal,” kata desainer grafis di sebuah perusahaan makanan dan minuman di Jakarta itu.

Berkembang

Fiscer Ahmad Kaftaru mengembangkan budikdamber Aqualift-PW80GB-Jet sejak Februari 2020.

Kaftaru mencampur 5 ml asam amino dan 1 kg pelet lalu mendiamkannya minimal 24 jam. Pemberian pakan 2 kali sehari pada pagi dan sore. Menurut Kaftaru pemakaian asam amino pun menghemat pakan 30%. Penggunaan Aqualift-PW80GB-Jet dan asam amino memungkinkan Kaftaru memasukkan ikan baru di dalam air bekas panenan pertama. Air sebelumnya tidak dibuang karena masih bisa dipakai lagi.

Caranya setelah panen, tambahkan air baru dan sirkulasi selama 2 hari tanpa penambahan asama amino. Setelah itu ikan baru bisa masuk. Kini ada sekittar 30 nila baru di perangkat yang sama. Inisiator konsep budikdamber, Juli Nursandi S.Pi, M.Si., mengatakan semula desain budikdamber untuk kalangan menengah ke bawah sehingga dibikin semudah dan semurah mungkin serta tidak menimbulkan biaya listrik.

“Ternyata orang dengan kemampuan keuangan menengah ke atas pun menyukai konsep budikdamber sehingga memunculkan konsep resirkulasi menggunakan pompa, filter, dan menambah oksigen,” kata dosen di Program Studi Budidaya Perikanan, Politeknik Negeri Lampung, itu. Juli menuturkan desain budikdamber harus menyesuaikan keinginan setiap pengguna.

Ia dan tim tengah mengembangkan budikdamber berbasis android. Memberi pakan, mengganti air, dan memeriksa kondisi ikan cukup dari gawai kapanpun dan di mana pun. Sistem budidaya di tempat kecil seperti budikdamber tidak akan mati di masa mendatang. Justru makin berkembang. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software