Buah naga: Kaki Ganda Produksi Ganda

Filed in Buah by on 04/09/2013 0 Comments

Produksi buah naga kulit kuning meningkat dua kali lipat setelah penambahan “kaki”.

Panen buah naga pada Mei 2011 itu membuat Asroful Uswatun riang bukan kepalang. Hasil panen buah naga kulit kuning Selenicereus megalantus meningkat dua kali lipat. “Dari satu sulur bisa panen 2—6 buah berukuran seragam, berbobot 300 g per buah,” kata pekebun buah naga di Dusun Rowotengu, Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu.

Padahal, sebelumnya Uswatun hanya bisa panen 3—4 buah per tanaman dan  berukuran kecil, hanya 150 g per buah. “Bahkan, ada yang tidak bisa dimakan karena daging buah sedikit,” ujarnya. Itulah sebabnya dalam sekali panen paling banter hanya memperoleh 5 kg buah dari satu tiang yang terdiri atas 3 tanaman. Kini, ia mampu memanen 10 kg buah per tiang.

Uswatun menduga produksi itu meningkat setelah ia menempelkan satu bibit buah naga daging merah yang ujungnya diruncingkan, pada batang naga kuning yang sebelumnya telah disayat. “Ada 800 tanaman yang saya tempel dengan sulur buah naga daging merah,” kata Uswatun.

 

Uswatun memperlihatkan kaki ganda hasil uji cobanyaBencana

Menurut Uswatun, ide menambahkan “kaki” pada buah naga kuning itu sebetulnya berawal dari sebuah bencana. Pada 2010, sebanyak 1.200 tanaman buah naga kuning di kebun Uswatun terserang busuk batang. Curah hujan tinggi  menyebabkan tanaman terserang cendawan penyebab busuk. “Buah naga kuning memang lebih sensitif. Waktu itu saya lengah tidak menyemprotkan fungisida,” ujarnya. Meski terlambat, ia lalu menyemprotkan fungisida berbahan aktif azoksistrobin dan difenokonazol sesuai dosis di kemasan setiap pekan. Dua bulan berselang, tanaman tak kunjung sembuh. Sebanyak 400 tanaman akhirnya meregang nyawa.

Kemudian tercetuslah ide untuk menambahkan “kaki” pada tanaman buah naga kuning yang tersisa. Penyambungan buah naga daging merah dengan buah naga kuning sebelumnya pernah ia lakukan untuk membuat bibit buah naga kuning. “Berdasarkan pengalaman penyambungan buah naga daging merah dapat membantu mempercepat pertumbuhan buah naga kuning yang lambat dan bersulur kecil,” kata perempuan berusia 45 tahun itu.

Uswatun menggunakan bibit buah naga merah yang berasal dari tanaman yang sudah pernah berbuah. Tingginya sekitar 50—100 cm. Ia meruncingkan bagian ujung batang buah naga daging merah. “Setelah itu sayat sebagian batang buah naga kuning yang busuk hingga sebagian urat (jaringan pembuluh xilem dan floem, red) ikut tersayat,” kata Uswatun. Kemudian ia menempelkan batang buah naga merah ke batang buah naga kuning hingga urat bertemu urat, lalu ikat dengan tali rafia. Tanam batang buah naga daging merah pada lubang tanam berisi media tanam berupa campuran pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1.

Beruntung setelah penyambungan hujan tidak turun sehingga kedua batang menempel setelah dua pekan. Jika hujan turun Uswatun harus mengulang penempelan dari awal karena air dapat menyebabkan kedua batang gagal menempel. Seluruh tanaman buah naga kuning yang tersisa akhirnya terselamatkan. Setelah batang buah naga merah benar-benar menempel Uswatun lalu rutin memberi 1 sendok pupuk NPK per tanaman setiap bulan dan 20 kg pupuk kandang kotoran kambing setiap dua bulan. Menurut Uswatun, kotoran kambing merangsang pembentukan bunga. Setiap tunas yang tumbuh pada batang buah naga merah ia potong agar tidak menganggu perkembangan buah naga kuning.

 

Sebanyak 800 naga kuning dari 1.200 tanaman di kebun Asroful Uswatun selamat dari kematian karena busuk batangNutrisi bertambah

Ia tak menyangka jika penambahan kaki buah naga daging merah dapat mendongkrak produktivitas buah naga kuning. “Awalnya saya hanya ingin menyelamatkan buah naga kuning,” kata Uswatun. Ia menduga penambahan kaki batang buah naga merah itu membantu penyerapan nutrisi. Pasalnya, perakaran buah naga daging merah lebih banyak ketimbang buah naga kuning. “Buah naga kuning berbuah sepanjang tahun, puncak panen pada Mei,” katanya.

Menurut Ir Retno Mastuti, MAg.Sc.DAg.Sc, dosen Jurusan Biologi, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada metode menyambung, pemilihan batang atas dan bawah sangat penting. Leonard P. Stoltz dan John Strang dari Universitas Kentucky, Amerika Serikat, menyatakan pada kasus sambung apel, misalnya batang bawah terpilih harus punya kemampuan adaptasi baik, tahan hama dan penyakit, serta cocok dengan batang yang akan disambung. Jika pekebun menginginkan apel kerdil, misalnya, maka harus memilih batang bawah yang bersifat cebol. Itu sesuai dengan uji coba Uswatun. Ia memilih menggunakan batang bawah buah naga daging merah karena lebih tahan serangan busuk batang, ukuran buah lebih besar, dan batang lebih besar.

“Dalam menyambung buah naga pekebun harus mengetahui karakter fisiologis kedua tanaman itu agar hasilnya memuaskan,” ujar Retno. Grafting akan berhasil jika jaringan pembuluh dari masing-masing tanaman menyatu. Dengan begitu aliran nutrisi dan komponen lain yang dibutuhkan batang buah naga kuning akan terpenuhi dengan baik.

Menurut Ir Edhi Sandra MSi, ahli Fisiologi Tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat, penambahan batang pada naga kuning menambah kemampuan asupan air, mineral, dan bahan organik. Pada akar terdapat leher akar yang mempersempit ruang penyerapan unsur hara. Dengan penambahan kaki asupan unsur hara dua kali lipat. Itu berakibat pada peningkatan jumlah batang dan buah. Bahan baku untuk proses fotosintesis yang terserap juga lebih banyak. “Wajar kalau bobot buah lebih besar,” kata Edhi. Dampaknya produktivitas tanaman meningkat seperti terjadi di lahan Uswatun. (Lutfi Kurniawan/Peliput: Bondan Setyawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software