Buah-buah Impian

Filed in Topik by on 01/11/2009 0 Comments

 

Maman Supriatman, empunya kebun, sudah 4 kali memanen buah. Dua yang terakhir pada Februari-Maret dan September-Oktober 2009 masing-masing sebanyak 1,4 ton. Jika buah dibelah, bagian dalam nyaris tanpa biji alias seedless.

Pada tiap buah paling hanya ada 1-5 biji. Jambu biji merah biasa-alias getas-berbiji 200-300 butir per buah. Makanya ketika getas seedless dari Maman digigit, gigi langsung terbenam dalam daging buah.

Dengan karakter istimewa getas seedless diantre pengepul sebelum buah matang. Buah dikirim ke pembeli di Semarang, Jawa Tengah, dan sebagian dijajakan di Pasar Cikijing dan Pasar Rajagaluh, Majalengka. Di pasar harganya dibanderol lebih mahal Rp3.000-Rp4.000 daripada getas biasa.

Masih di Cisoka ada 3 pekebun lain-Nurholis, Dian, dan Salim-mulai menanam jambu sukun merah. Jumlahnya 2-5 pohon. Di Malang Herfin Sasono memanen 25 buah dari 1 pohon berumur 2 tahun. Muhammad Jufri dan Abubakar di Bulungan, Kalimantan Timur, masing-masing memiliki 2 pohon yang sudah berbuah. Populasi lebih banyak ditanam Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebanyak 50 pohon asal okulasi. Pada September 2009 tanaman setinggi 1 m berbuah perdana. Tiap pohon digelayuti 4-5 buah masing-masing berbobot 250-400 g.

Idaman

Berbuahnya sukun merah di berbagai lokasi menegaskan sifat tanpa biji itu stabil. ‘Itu benar-benar buah idaman. Saya menunggu 2 tahun sampai tanaman berbuah agar benar-benar yakin dan siap melepas ke pasaran,’ kata Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, Jawa Tengah.

Ir Thomas Darmawan, ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengacungkan jempol mendengar munculnya jambu sukun merah. ‘Bagian buah yang bisa dimakan lebih banyak. Tentu menggembirakan buat dunia industri,’ kata Thomas. Menurut Thomas selama ini industri jus buah jambu biji modern melakukan penyaringan untuk memisahkan biji jambu getas dengan konsentrat buah. Pada jambu sukun merah proses itu bisa dipangkas.

Toh, industri modern perlu diyakinkan nutrisi jambu sukun merah setara dengan getas merah yang selama ini menjadi bahan baku. ‘Jangan sampai karena tak ada biji, kandungan gizinya berkurang. Perlu penelitian lebih lanjut,’ tutur Thomas. Bagi pekebun, informasi penggenjot produktivitas sangat dibutuhkan. Pasalnya, buah seedless-seperti jambu sukun putih-cenderung malas berbuah (baca: Demi Panen Jambu Sukun Merah, hal 46)

Mutasi

Penelusuran Trubus jambu sukun merah yang kini menyebar ke berbagai pelosok tanahair berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Itu bermula dari ratusan biji jambu getas merah yang disebar Emod 8 tahun silam. Dari salah satu tanaman terdapat cabang yang menghasilkan buah seedless. Tanaman lalu ditemukan Nurholis ST, putra H Endun, penangkar buah kesohor di Majalengka, pada 2004. Tanaman diperbanyak dan menyebar 2 tahun terakhir.

Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) Institut Pertanian Bogor, mengatakan munculnya jambu sukun merah benar-benar sebuah kemurahan alam. ‘Itu namanya mutasi dari tunas alias mutasi somaklonal. Mirip dengan kasus lahirnya durian monthong yang berbiji hepe,’ kata Sobir. Menurut Sobir banyak buah fenomenal-terutama yang berumur tahunan-lahir dari alam dan bukan hasil persilangan pemulia. Pemulia lazimnya menghasilkan buah berumur pendek seperti melon, nanas, atau semangka.

Sepanjang masa manusia terus memimpikan lahirnya buah-buah unggul. ‘Buah disebut unggul bila edible portion (bagian yang dapat dimakan, red) tinggi, mudah dikonsumsi, dan daya simpan lama,’ tutur doktor Genetika Molekuler dari Okayama University, Jepang itu. Sukun merah memenuhi 2 syarat pertama. Sayang daya simpan pendek karena berkulit tipis.

Jambu idaman lain ialah supermerah di TWM. Penampilannya mengingatkan pada jambu australia: kulit dan daging buah merah. Daun juga merah. Yang membikin supermerah istimewa rasanya manis dan tekstur renyah. Jambu australia cenderung masam dan lembek. ‘Ini perbaikan dari jambu australia yang masuk belasan tahun silam,’ kata AF Margianasari, manajer produksi TWM. Supermerah rajin berbuah seperti jambu bangkok. Tanaman berumur 4 tahun menghasilkan 30-50 buah. Ukurannya juga besar, 250-300 g per buah. Jambu biji australia malas berbuah, ukuran buah kecil, sekilo berisi 5-6 buah.

Greg menduga supermerah hibrid dari jambu biji australia dengan jambu bangkok. ‘Sepuluh tahun silam Thailand pernah merilis jambu kulit merah yang genjah. Mungkin itu F1 atau F2-nya,’ tutur Greg. Jambu yang didapat TWM dari Karawang itu diduga dibawa Narin Watana Anurak, pekebun Thailand, yang menetap di Kota Beras itu.

Dr Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor, lebih suka menyebut sukun merah dan supermerah sebagai buah unggul. Keduanya generasi terbaru jambu unggul pascajambu bangkok, getas merah, dan jambu kristal (daging putih tanpa biji, red). ‘Bila ada yang menggeluti serius sukun merah bisa lahir dari persilangan getas merah dengan kristal atau dengan sukun putih,’ tuturnya.

Durian impian

Bagi Reza buah impian ialah buah yang masih dalam angan-angan para pemulia tapi bahan baku-berupa indukan yang siap menurunkan sifat terbaiktersedia. ‘Saya bermimpi membuat durian gundul yang berbiji kempes, berdaging buah kuning, dan rendah kolesterol,’ kata Reza. Mimpi itu bukan hal yang mustahil karena bahan indukan sudah ada. Misal durian gundul asal Narmada, Nusa Tenggara Barat, durian biji kempes alias monthong, dan durian berdaging kuning seperti lai mas.

Buah-buah yang pernah menjadi impian kini mulai bermunculan. Sebut saja durian cikrak di Kasembon, Malang, Jawa Timur. Durian Research Center (DRC), Universitas Brawijaya, Malang, menyebut pohon milik Warianto itu sebagai durian berbuah sepanjang tahun. ‘Dari 1 pohon dipanen buah dalam jumlah berlimpah setiap 3 bulan,’ kata Ir Lutfi Bansir MSc, peneliti DRC.

Menurut Warianto musim panen jatuh pada September, Desember, Maret, dan Juni. Lazimnya panen puncak di bulan itu berlangsung selama 10 hari. Rata-rata setiap hari 30 buah dipanen. Bagi Reza kehadiran cikrak menjadi kunci membuahkan durian di luar musim.

‘Durian cikrak mampu berbuah sepanjang tahun karena bunga muncul hampir setiap saat,’ kata Prof Sumeru Ashari MAgrSc PhD, kepala DRC. Bunga yang muncul juga istimewa karena dapat saling menyerbuki meski berasal dari pohon sama. Dugaan itu muncul karena di luar musim bunga durian, tak ada durian lain berbunga. Harap mafhum, selama ini ada anggapan bunga betina durian hanya bisa diserbuki oleh jantan dari pohon berbeda.

Puluhan pohon

Buah impian lain datang dari Malinau, Kalimantan Timur. Tiga tahun silam Sobir PhD dan Rahmat Suhartanto, peneliti PKBT, menemukan 2 manggis seedless berumur 40 dan 25 tahun di tepian Sungai Sesayap. Ketika itu keduanya menduga populasi manggis tanpa biji itu hanya 2 tanaman. ‘Ini mutiara yang terpendam. Bisa dijadikan indukan untuk menghasilkan kultivar yang lebih unggul,’ tutur Sobir yang merahasiakan posisi tepat keduanya.

Penelusuran Rahmat lebih lanjut menunjukkan fakta berbeda. Di tempat agak ke hulu ditemukan 70 manggis tanpa biji berumur di atas 75 tahun. ‘Tanaman itu sudah ada sejak saya kecil,’ kata H Akiu, pemilik salah satu pohon manggis tanpa biji, yang umurnya sudah menginjak 65 tahun. Berdasar temuan itu Rusdianto, seorang petugas penyuluh lapang (PPL) dari Kabupaten Malinau, terus melakukan penelusuran ke arah hulu. Nyatanya Rusdianto menemukan 20 pohon berumur di atas 100 tahun. (baca: Mereka Terserak di Bumi Pertiwi, hal 44).

Bukti itu benar-benar tak terduga. ‘Lazimnya buah tanpa biji pertumbuhannya lambat. Perbanyakannya pun sulit,’ kata Greg. Usut punya usut manggis di daerah itu 30-40% benar-benar tanpa biji, tapi 60-70% masih memiliki 1 biji kecil di setiap buah. Greg menduga Suku Dayak menanam biji yang jumlahnya terbatas itu karena mengetahui karakternya yang unggul. ‘Boleh jadi manggis tanpa biji itu buah impian masyarakat Dayak ketika itu sehingga mereka tanam,’ tambah Reza. Dugaan lain penyebaran manggis tanpa biji melalui sungai. Penemuan itu mematahkan berita dari publikasi klasik berjudul The Philippine Agriculture Review yang terbit pada 1915. Dalam jurnal itu disebutkan manggis tanpa biji tak mungkin berkembang kecuali ditemukan teknik perbanyakan aseksual alias vegetatif. Ketika itu perbanyakan manggis-dan buah tropis lain-masih mengandalkan biji.

Tanpa getah dan jumbo

Nangka bulat minim getah. Itulah buah idaman dari TWM. ‘Di tangan konsumen nangka menjadi masalah karena ukuran buah besar dan banyak getah,’ kata Fofo Fornandy, store manager Kem Chicks, Jakarta. Bobot nangka lazimnya di atas 5 kg sehingga dijajakan dalam bentuk potongan atau kupasan. Rasanya pun tak lagi segar.

Nangka bulat bobotnya hanya 2-3 kg. Ia juga nyaris tanpa getah. ‘Penataan di toko tentu lebih mudah. Konsumen juga lebih gampang menikmatinya,’ tutur Fofo. Nangka bulat itu merupakan generasi kedua dari nangkadak-silangan nangka mini dengan cempedak-yang dirilis 5 tahun silam.

Nun di Cianjur, Jawa Barat, varietas arialaka jadi rambutan idaman. Arialaka lahir dari biji rambutan aceh yang ditanam Odan di Desa Sukamanah. Ukuran buah 1,5 kali lipat rambutan biasa atau setara dengan telur bebek. ‘Itu rambutan terbesar yang pernah saya lihat,’ kata Drs Mahmud Yunus, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.

Kini varietas yang sudah dilepas Menteri Pertanian pada 2008 dengan nama rambutan arialaka itu mulai dikebunkan di Cianjur. Populasi dipekirakan mencapai 500 tanaman berumur di atas 5 tahun. Menurut Eman Sulaeman, kebun pionir arialaka, rambutan jumbo itu disukai karena kulitnya juga keras sehingga tahan simpan hingga 2 minggu. Lazimnya kurang dari seminggu.

Di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono menemukan jeruk nipis jumbo di pekarangan rumah penduduk di Desa Kalicilik, Demak. ‘Bentuk buah, ciri daun, dan percabangan semuanya mirip jeruk nipis,’ kata Nonot, sapaan Prakoso. Bedanya bobot buah mencapai 600 g, lebih besar daripada keprok. Ada pula jeruk nipis manis yang bisa langsung dimakan atau dijus dengan aroma nipis yang khas.

Menurut Greg, keluarga jeruk mudah bersilangan antarspesies secara alami. ‘Mungkin itu silangan alami jeruk nipis dengan jeruk yang ukurannya lebih besar,’ kata lulusan Biologi Konservasi Birmingham University.

Silangan

Buah impian pun hadir dari negara tetangga. Sapta Surya menanam buah naga berkulit kuning bersosok besar yang didapat dari sahabatnya di Hongkong. Si kuning yang didapat pada 2007 berbeda dengan buah naga kulit kuning Selenicereus megalanthus yang masuk pada 2000-an. Selenicereus kulitnya berduri dan berukuran kecil, bobot kurang dari 300 g/buah.

Si kuning asal Hongkong kulitnya mirip buah naga kulit merah Hylocereus sp yang bersayap. Ukuran buah besar, bobotnya 450-500 g. Rasanya? ‘Sangat manis, di atas naga merah daging putih dan daging merah,’ kata Sapta. Kerabat kaktus itu panen perdana sebanyak 5 buah setelah ditanam 18,5 bulan. Greg menduga naga kuning itu hibrid Hylocereus undatus-naga merah daging putih-dengan Selenicereus megalanthus. Buah naga itu sudah dijajakan di Supermarket Fair Price Finest di Bukit Timah di Singapura. Ia juga mulai dikebunkan di Taiwan.

Dari Thailand muncul nanas nanglae asal Provinsi Chiang Rai. Ananas commosus itu matanya menonjol di luar daging buah. Lazimnya mata nanas berada di dalam daging buah sehingga diperlukan pengupasan ekstra. ‘Mengupas nanas nanglae seperti mengupas mangga,’ kata Supanee Na Songkhla, reporter majalah Kehakaset, Thailand. Lantaran rasanya manis, nanglae dikenal pula sebagai nanas madu. Kadar kemanisannya mencapai 16-200 briks. Bentuknya pun silindris sehingga mudah dikalengkan. (baca: Evolusi Buah dari Tangkai Bunga, hal 38). Satu lagi impian datang dari Cina. Pir yang sejatinya asli daerah subtropik bisa berbuah di kebun Suko Budi Prayogo di Semarang, Jawa Tengah, di ketinggian 78 m dpl. Itulah buah yang dulu dianggap mustahil tapi muncul baru-baru ini. (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yajri, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

Supermerah, perbaikan sifat dari jambu biji Australia. Bobot 250-300 g/buah. Manis dan renyah

Sukun merah, muncul dari mutasi tunas getas merah yang ditanam Emod di Majalengka 8 tahun silam

Sukun merah, berpeluang lahir dari silangan getas merah dengan kristal atau jambu sukun daging putih

Naga kulit kuning impian, diduga hibrid naga merah bersayap dengan naga kuning berduri

‘Buah disebut unggul bila edible portion tinggi, mudah dikonsumsi, dan daya simpan lama,’ kata Sobir PhD kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT), Bogor, Jawa Barat.

 

 

Evolusi dari Tangkai Bunga

‘Makan tangkai bunga nanas yuk!’ Niscaya tak ada yang mau menanggapi ajakan itu. Padahal, ‘Buah nanas yang selama ini kita makan adalah tangkai bunga yang membesar menjadi bagian yang dapat dimakan, mirip seperti jambu mete,’ kata Gregori Garnadi Hambali, pemulia buah di Bogor, Jawa Barat. Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, menyebutnya sebagai buah majemuk karena merupakan gabungan buah-buah sejati yang bekasnya terlihat pada mata nanas. Tangkai nanas purba mirip tangkai bunga neoregelia atau bromelia.

Pada nanas liar dan lokal posisi mata sangat dalam sehingga mengganggu saat dikupas. Buah dikupas dengan membuat alur berbentuk spiral mengikuti posisi mata nanas. Akibatnya bagian yang terbuang banyak. Mata itu pun membuat gatal. Lantaran itu pemuliaan berusaha menghasilkan nanas bermata dangkal untuk memudahkan konsumsi. Buah cukup dibelah lalu dipotong-potong seperti melon atau semangka. Contoh nanas bermata dangkal ialah arnis hasil silangan Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor, atau nanas V4 silangan PKBT.

Pada awal 90-an Taiwan merilis nanas bernama tai nung 4. Bagian-bagian buah mudah terlepas, mirip srikaya. Jadi cara mengkonsumsinya unik. Mahkota buah dipotong lalu matanya yang menonjol dicabut satu per satu. Daging buah ikut terbawa dan siap dimakan. Sayang, nanas unik itu tidak berkembang saat ini. ‘Yang dicari sebetulnya nanas yang gampang dikupas seperti mangga,’ kata Tatang Halim, pemilik toko buah Golden Agro, Jakarta.

Belakangan dari Thailand muncul nanas dengan mata menonjol. Mengupas nanas pun mudah, cukup dengan membuang kulitnya, tanpa perlu membuat alur spiral. Kini nanas nanglae yang dikembangkan di Provinsi Chiang Rai itu sudah diekspor ke Singapura dan Jepang. (Destika Cahyana/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

Obat Luka

Kulit manggis dewa penolong bagi Asep W Permana, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat. Dulu Asep kecil kerap terjatuh dan terluka saat bermain bola. Beruntung banyak kulit Garcinia mangostana bertebaran di pinggir lapangan sepakbola di kampungnya. Kulit dihancurkan lalu dibalur ke luka. Dalam hitungan menit luka mengering dan tak lagi perih.***

Nata Mata

Limbah mata nanas jumlahnya bisa mencapai 25% bobot buah. Namun, siapa sangka bagian yang kerap terbuang itu masih bisa dimanfaatkan. Mata nanas beserta daging buah yang masih menempel diekstrak. Lalu tambahkan bakteri Acetobacter xylinum yang mengubah cairan ekstrak menjadi nata de pineapple. Bakteri itu mengubah mata nanas yang gatal menjadi makanan yang bermanfaat untuk pencernaan.***

Papan Kulit Durian

Kulit durian suatu saat bakal menjadi bahan baku industri papan. Riset Hj Violet Hatta dari Jurusan Teknik Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyebutkan kulit durian mengandung 50-60% selulosa, 5% lignin, dan 5% pati. Komposisi itu membuat kulit durian cocok menjadi campuran bahan baku papan olahan. Kekuatan papan yang dicampur kulit durian setara papan kelas III yang cocok digunakan sebagai bahan konstruksi di bawah atap.***

Tai nung 4, matanya bisa dicopot

Rambutan arialaka jumbo dan tahan 2 minggu

Nanglae, bermata di luar sehingga gampang dikupas

Foto-foto: Destika Cahyana, Faiz Yajri, Imam Wiguna & Nesia Artdiyasa: Ilustrasi: Bahrudin

 

Pir subtropis dapat berbuah di Semarang di ketinggian 78 m dpl

Durian impian: kulit gundul, daging kuning, biji kempes, lembut, dan rendah kolesterol. Dapat diturunkan dari durian gundul, durian daging kuning, dan monthong

 

Nangka bulat, bobot hanya 2-3 kg dan minim getah

 

Powered by WishList Member - Membership Software