Biwa Genjah Negeri Leluhur

Filed in Buah by on 01/05/2009 0 Comments

 

Khunadi ingat betul peristiwa pada Desember 2007 itu. Eriobotrya japonica setinggi 1,5 m memamerkan bunga berwarna putih mirip sakura besar. Itu satu-satunya bibit yang bertahan hidup dari 25 biji yang disemai di kediaman di Jakarta. Dua bulan berselang, loquat itu matang. Dari pohon umur 3 tahun yang baru belajar berbuah itu dipetik 8 dompol buah dengan bobot 500 g per dompol.

Kebahagiaan membuncah di dada pengusaha otomotif itu. Maklum, menanam biwa dari biji-seperti manggis-butuh kesabaran menunggu buah muncul. ‘Biwa asal biji biasanya baru belajar berbuah umur 8 tahun,’ kata Frits Silalahi, kepala Kebun Percobaan Tanaman Buah Brastagi, Sumatera Utara, yang juga mengembangkan pembibitan biwa.

Pada November 2008 loquat itu kembali berbuah. Kali ini Khunadi memanen 30 dompol buah atau 15 kg. Buah dipanen terus-menerus hingga 4 bulan. Dua kali panen rasa buah semanis yang dicicip di China.

Komersial di China

Menurut Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropis Institut Pertanian Bogor, ada 2 kemungkinan penyebab biwa di vila Khunadi cepat berbuah. ‘Mungkin biwa asal China varietas genjah,’ katanya. Dugaan lain, pemeliharaan intensif mendorong biwa cepat berbuah. Itu mengacu pada manggis asal biji di hutan-hutan yang baru berbuah perdana pada umur 8-11 tahun. Ternyata saat manggis asal biji dipupuk rutin setiap bulan maka pada umur 4 tahun sudah berbuah. Itu karena manggis hutan hanya mengandalkan nutrisi di alam.

Dugaan Sobir beralasan karena 2 hal. Di China kini biwa dikebunkan secara komersial. Loquat dibudidayakan di 19 provinsi di sepanjang Sungai Yangtze hingga ke kepulauan Hainan (bagian selatan Hongkong). Sentra produksi terbesar terdapat di Provinsi Fujian dengan total luas penanaman mencapai 11.900 ha dan total produksi 35.000 ton/tahun; serta Provinsi Zhejiang 9.100 ha (30.000 ton/tahun).

Varietas yang ditanam merupakan hasil pemuliaan dalam kurun ribuan tahun. Dua ribu tahun lalu loquat hanya tumbuh di hutan-hutan. Dalam catatan H Z Zhang, botanis dari China, setidaknya terdapat 14 spesies eriobotrya endemik China. Dari ke-14 spesies itu, hanya Eriobotrya japonica yang dibudidayakan untuk dikonsumsi buahnya. E. deflexa dan E. prinoides digunakan untuk batang bawah.

Para pemulia membuat hibrida-hibrida baru untuk memperoleh varietas unggul: berbuah cepat dan produktivitas tinggi. Menurut Julia F Morton dalam bukunya Fruit of Warm Climate, hingga kini setidaknya terdapat 800 varietas biwa yang tersebar di seluruh dunia. Ratusan varietas itu biasanya dikelompokkan berdasarkan asal tanaman induk: Jepang dan China.

Kedua asal tanaman induk itu mewariskan karakter berbeda. Pada silangan dengan tanaman induk asal China, biasanya berdaging buah jingga, kering, dan rasanya tidak terlalu masam. Sedangkan varietas asal Jepang berdaging putih, daging buah berair, dan asam. Hasil silangan para pemulia juga mempersingkat waktu berbuah perdana. Yang ditanam di China rata-rata berbuah pada umur 5 tahun bila tanaman asal biji dan 2-3 tahun jika tanaman asal sambung pucuk. Di China biwa berbuah pada Mei-Juni yakni pada musim semi.

Industri

Warga China mengkonsumsi nespola-biwa dalam bahasa Italia-karena memiliki beragam khasiat seperti melegakan saluran pernapasan, pencernaan, dan peluruh dahak. Dalam literatur China kuno biwa disebut-sebut sebagai obat awet muda. Keyakinan itu bukanlah tanpa alasan. Kandungan vitamin C biwa tinggi, 35,2-58,1 mg per 100 g buah. Jumlah itu setara dengan vitamin C pada jeruk manis. Lantaran itulah ia berguna sebagai antioksidan yang menghambat penuaan sel.

Karena beragam khasiat itu loquat diolah menjadi aneka produk seperti sirup, selai, atau jeli. Untuk memenuhi kebutuhan industri, biwa dikebunkan secara intensif. Loquat ditanam pada hamparan luas dan diairi dengan irigasi teknis. Pupuk kandang dan NPK seimbang diberikan 3 kali setahun. Pada daerah-daerah tertentu yang kerap diterpa angin kencang, tanaman rajin dipangkas hingga hanya setinggi 0,9 m agar tidak mudah roboh diterjang angin.

Menurut Sobir, budidaya ala Khunadi tergolong intensif. Pertumbuhan vegetatif tanaman dirangsang dengan pemberian pupuk berkadar nitrogen tinggi. ‘Daun menjadi lebat,’ tutur Khunadi. Tanaman pun optimal memproduksi zat pati yang diperlukan pada pembentukan buah. Pemberian P dan K pada tanaman yang memiliki cadangan zat pati cukup membuat tanaman beralih ke fase generatif. Bunga pun mulai bermunculan.

Khunadi memupuk biwa dengan NPK seimbang setiap bulan saat tanaman kurang dari 2 tahun. Setelah 2 tahun, diganti dengan pupuk majemuk ber-P dan K tinggi.

Dari China biwa menyebar ke Perancis, Inggris, India, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Biwa di tanahair diduga berasal dari China.

Brastagi

Di tanahair, biwa baru populer di Brastagi meski ditemukan juga di dataran tinggi Karo, Tapanuli Utara, Simalungun, Toba Samosir, dan Dairi. Di Brastagi, kerabat mawar itu dijajakan di pasar-pasar tradisional dengan harga Rp40.000/kg. Sampai awal 2000-an anggur brastagi itu didapat dari pohon-pohon di pekarangan penduduk dan hutan-hutan. ‘Baru pada 2003 mulai ada yang mengebunkan intensif,’ kata Drs Jawal Anwaruddin Syah MS, mantan peneliti Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Solok, Sumatera Barat. Kini setidaknya terdapat total 5-10 ha kebun biwa di Brastagi.

Hasilnya? Seperti dugaan Sobir. Dengan penanaman intensif umur panen lebih cepat. Pada umur 4 tahun tanaman asal grafting alias sambung pucuk dan cangkok sudah belajar berbuah. Simak saja pengalaman Galingging, pekebun di Dairi dan Munthe, hobiis buah di Tongging yang mengebunkan biwa pada 2005. Kini 100 pohon biwa di kebunnya mulai belajar berbuah.

Menurut Frits Silalahi, pada tahun yang sama PT Merek Indah Lestari (MIL), sebuah perusahaan bermodal asing di Brastagi, mengembangkan kawasan wisata agroteknologi. Salah satu komoditas yang ditanam adalah biwa. Sebanyak 3.000 pohon dibudidayakan di lahan 6 ha. ‘Sekarang juga baru belajar berbuah,’ ujar Frits.

Andai biwa di vila Khunadi diperlakukan seperti biwa di Brastagi-diperbanyak dengan cangkok atau sambung pucuk-boleh jadi panen bakal lebih cepat lagi. Maka mencicipi loquat manis dari pohon genjah tidak perlu mesti selalu ke China. (Imam Wiguna/Peliput: Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software