Bisnis Philo dan Monstera Menggila

Filed in Majalah, Topik by on 01/01/2020

“Sekarang aroid menjadi tren dunia, bukan cuma di Indonesia.”

Demikian pernyataan pegiat tanaman hias di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Chandra Gunawan Hendarto. Pemilik Nurseri Godong Ijo itu menggarisbawahi 2 jenis, monstera dan philodendron. Lebih khusus lagi, aroid berdaun belang atau variegata.

Sepuluh tahun silam, “Pemilik galeri tanaman hias di Amerika Serikat senang kalau saya membeli tanaman variegata. Dia menganggap saya bodoh karena membeli tanaman cacat,” kata Chandra. Sejak 2014 kondisinya berbalik 1800. Para pehobi tanaman hias di sana justru gandrung monstera dan philodendron berkelir belang. Pebisnis tanaman hias di Thailand, yang banyak memiliki fasilitas dan keterampilan mengkultur jaringan, langsung menangkap peluang.

Ketika pebisnis tanaman hias di Sawangan, Kota Depok, Nanang Koswara, pergi ke Thailand pada awal 2019, menyempatkan berkunjung ke sebuah nurseri di Ratchaburi. Di sana ia melihat deretan aroid variegata yang menarik. Ketika ia bertanya, pemilik nurseri, Paiboon mengatakan, semua tanaman yang membuat Nanang tertarik sudah laku terjual.

Pembelinya dari Australia, Jerman, dan Amerika Serikat,” katanya (baca: “Pasar Mengincar Monstera” halaman 10-13). “Dia tidak lagi melayani pembelian langsung, semua harus inden,” kata Nanang.

Tren nyata

Chandra menduga Paiboon menjual lebih dari 20.000 Monstera deliciosa variegata ‘thai constellation’ variegata hasil perbanyakan secara kultur jaringan. “Jumlah itu hanya dari sekali perbanyakan. Padahal, sebagai pedagang yang melihat dagangannya laku, dia terus-menerus memperbanyak,” katanya. Itu baru dari satu orang, belum memperhitungkan pebisnis lain di Thailand yang juga memiliki laboratorium kultur jaringan.

Monstera ‘thai constellation’ salah satu pemicu tren aroid dunia.

Nanang mengatakan, saat ini Paiboon menutup antrean pembeli dan baru membuka lagi tahun depan (2020). “Kalau pun ada orang yang menjual, jumlahnya terbatas,” katanya. Indonesia, menurut Nanang, menjadi barometer Thailand lantaran tingginya keragaman jenis tanaman. Ketika Trubus bekerja sama dengan komunitas aroid Indonesia menggelar lelang dalam rangkaian acara Trubus Agro Expo di Serpong, Tangerang, Banten pada November 2019, para pelaku tanaman hias di Thailand diam-diam menyimak.

“Ada orang sana yang menghubungi saya dan berkomentar kalau sekarang harga monstera di Thailand naik karena menyesuaikan harga di pelelangan,” katanya. Pehobi tanaman hias di Kota Tangerang, Banten, Handry Chuhairy, menyatakan Thailand kekurangan monstera dan philodendron untuk memenuhi permintaan ekspor. Ia mengisahkan, rekannya di Thailand sampai mendatangkan borsigiana—julukan untuk Monstera deliciosa var. borsigiana—dari Jepang.

Sang rekan juga membeli kembali monstera ‘thai constellation’ hasil kultur jaringan yang tahun sebelumnya ia jual ke pembeli di Belanda. Hal itu ia lakukan demi memenuhi permintaan pasokan dari Australia. Bagi pebisnis tanaman hias, fenomena saat ini menjadi sinyal positif. Chandra Gunawan menyatakan, tren yang terbentuk saat ini nyata karena pasarnya bukan lagi domestik atau regional tapi sampai internasional. “Kita bisa dengan mudah melihat buktinya dengan mesin pencari,” katanya. Handry mengungkap hal senada.

“Perkembangan teknologi mempercepat penyebaran tren. Kalau ada rekayasa atau spekulasi pun cepat terkuak,” kata Handry. Saat ini, pehobi tanaman hias bergeser. Tanaman hias daun yang dulu pehobi didominasi bapak-bapak kini banyak dilirik kaum hawa dan anak-anak muda. Handry melacak hal itu dari beberapa platform media sosial. Penggemar tua, demikian Handry menjuluki dirinya dan pehobi tanaman hias sejak dekade 2000, menjadikan jenis-jenis lama seperti varian philodendron ‘kabel busi’ atau ‘eceng’ ajek punya konsumen.

Bisnis menggila

Pebisnis tanaman hias di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mukti, menyebut aroid jenis monstera sebagai induk tanaman hias karena pergerakan harganya mempengaruhi harga jenis lain (baca “Potret Pasar Philo” hal. 14—17).

Suasana kontes aroid dalam Trubus Agro Expo di ICE BSD, Kabupaten Tangerang.

Apalagi harga tanaman berdaun bolong itu ajek tinggi, berbeda dengan tanaman hias lain yang harga tingginya paling lama bertahan setahun. Senada dengan Chandra, Handry menyatakan saat ini tidak ada unsur rekayasa terkait kepopuleran aroid. Ia menyatakan, harga philodendron ‘spiritus sancti’ yang terjual dalam lelang di acara Trubus Agro Expo seharga Rp46 juta jauh lebih murah ketimbang harga di laman lelang daring e-bay yang mencapai US$5.988. “Tanaman yang dilelang di e-bay memang lebih besar,” katanya.

Handry menyebut salah satu pemicu tren aroid yang mendunia saat ini adalah gaya hidup yang menjadikan tanaman hijau sebagai bagian ruangan. “Fungsinya rangkap, estetis dan psikologis,” katanya. Aroid cocok untuk rumah kaum muda—generasi Z dan milenial—yang kebanyakan berukuran kurang dari 120 m2 dan minim ruang terbuka. Jenis itu tidak menuntut sinar matahari penuh, minim perawatan, dan efektif menghias ruangan lantaran warnanya dominan hijau. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Imam Wiguna dan Sardi Duryatmo)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software