Bisnis Pembersih Tubuh

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 05/12/2020

Esterlyta Panjaitan, B.S. memanfaatkan susu kambing sebagai bahan baku sabun cair.

 

Memanfaatkan susu kambing sebagai sabun cair dan sabun padat.

Pulang dari Amerika Serikat setelah meraih gelar Bachelor of Science in Industrial Engineering, University of Arizona, pada 2012 Esterlyta Panjaitan mengolah susu kambing menjadi sabun mandi. Keluarganya mengelola peternakan kambing perah. Ia memanfaatkan hasil perahan sebagai bahan baku sabun. Saat memulai bisnis, perempuan 45 tahun itu menghabiskan 50 liter susu kambing per bulan.

Setelah lima tahun, kini Esterlyta bermitra dengan peternak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Perempuan yang lahir di Kota Bandung itu memproduksi 200 sabun batang dengan harga Rp 65.000 per batang. Ia juga membuat 100 botol sabun cair per bulan. Harga sabun cair dalam kemasan 250 gram Rp 75.000, sedangkan ukuran 500 ml seharga Rp125.000. Esterlyta membutuhkan rata-rata 50—100 liter susu per bulan untuk memproduksi sabun batang dan cair.

Tanpa prengus

Menurut Esterlyta sabun susu kambing menjaga kelembapan kulit sehingga tetap sehat. Susu kambing antara lain mengandung vitamin A dan vitamin C yang berkhasiat untuk memberikan kelembapan pada kulit serta membantu mencerahkan kulit. Asam lemak susu kambing sifatnya mudah menguap. Bagi beberapa orang, susu kambing kurang cocok hanya karena bau prengus. Padahal setelah diolah aroma tidak sedap itu sirna.

Esterlyta ingin mematahkan stigma bahwa susu kambing memiliki aroma prengus yang mengganggu. Pengolahan tepat menyebabkan aroma tidak sedap itu hilang. “Ketika masih sekolah di Kanada, saya banyak melihat produk berkualitas premium berbasis susu kambing dan itu semua hand crafted,” kata Esterlyta.

Ia menggemari kerajinan tangan sehingga membuat unscented soap bar atau sabun batang yang terbuat tanpa tambahan pengharum dan pewarna. Oleh karena itu, sabun kreasi Esterlyta aman bagi kulit sensitif sekalipun. Selain itu ide mengolah susu kambing menjadi sabun juga timbul dari keluarganya yang kerap menderita eksem, yakni penyakit kulit berupa gatal-gatal yang menimbulkan bintik kemerahan.

Produk sabun kreasi Ersterlyta Panjaitan, B.S. berkhasiat melembapkan kulit.

Anggota keluarga yang mengidap eksem mengganti sabun mandi dengan sabun susu kambing bikinan Esterlyta. Kulitnya kembali mulus dan eksem pun hilang setelah rutin menggunakan sabun susu kambing. Sejak itu Lyta—begitu sapaannya—makin bersemangat berkreasi. Produk unggulan lain yakni sabun cair wakatobi. Pencinta anjing itu mengatakan, sabun wakatobi berbahan dasar susu kambing dan minyak esensial lavender untuk memberi efek relaksasi.

Inovasi itu menuai banyak respons positif. “Teman-teman yang pakai sering bilang lebih nyenyak ketika tidur,” kata Lyta. Selama pandemi korona sejak Maret 2020 hingga kini permintaan sabun tetap tinggi. Anak bungsu dari lima bersaudara itu mengembangkan bisnis berbahan baku susu kambing menjadi beragam olahan. Ia membangun Moloka Farm Living untuk menaungi bisnisnya. Kata moloka pinjaman bahasa Rusia berarti susu.

Keju dan yoghurt

Selain produk penggunaan luar, Lyta juga mengolah susu kambing menjadi keju feta. Keju ala Yunani itu dibuat dengan pasteurisasi. Selain itu ada pula yogurt susu kambing. Namun, khusus keduanya (yoghurt dan keju) ia membuat sesuai pesanan atau ketika akan melakukan pameran. Selama pandemi Lyta harus beradaptasi. Ia lebih banyak memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk olahannya.

Begitu juga dengan pelatihan yang rutin ia selenggarakan. Sebelum pandemi korona, ia rata-rata menyelenggarakan sekali pelatihan setiap bulan dengan kapasitas 6—15 peserta untuk membuat sabun cair atau keju. Namun, sejak pandemi korona ia mengubah sistem pelatihan secara daring. Lyta mengatakan, pelatihan dibatasi 10 orang peserta. Upaya-upaya itu yang membuat bisisnya mampu bertahan hingga kini, meski tengah pandemi.

“Pengenalan produk olahan susu kambing itu paling mudah sebenarnya dari pameran dan kelas pelatihan. Tetapi karena pandemi semua harus setop,” kata Lyta. Pandemi korona memengaruhi pendapatan dari pengolahan susu kambing. Biasanya Lyta dibantu 3 orang untuk kegiatan produksi dan 1 orang untuk administrasi. Kini Ia hanya dibantu oleh 2 orang anggota dengan 1 orang paruh waktu. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software