Bisnis Gemuk Gemukkan Sapi

Filed in Laporan khusus by on 01/05/2010 0 Comments

Laba itu diraih peternak di Desa Sumber Lor, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari hasil penjualan 8 ekor sapi berbobot 370—420 kg/ekor. Sapi-sapi jenis simmental, peranakan ongole (PO), dan brahman cross itu semula digemukkan dari bakalan berbobot 250—300 kg/ekor yang dibeli Mahfudz senilai Rp5,5-juta—Rp6-juta/ekor.

Sapi-sapi bakalan itu dipelihara di kandang berukuran 60 m x 12 m. Untuk menggenjot pertambahan bobot tubuh, setiap ekor anggota keluarga Bovidae itu diberi asupan pakan hijauan berupa batang jagung dan konsentrat berkadar protein 17% yang diracik dari bahan-bahan antara lain gaplek, bungkil kopra, kulit kacang tanah, dan onggok singkong. Dengan kombinasi pakan itu bobot sapi naik sebesar 0,9—1 kg/hari. Setelah 120 hari masa pemeliharaan, sapi-sapi itu dijual kepada rumah potong hewan (RPH) setempat. “Bila digemukkan terus pertambahan bobot harian sapi akan turun,” kata pegawai negeri sipil yang merintis usaha penggemukkan sapi sejak 2007 itu. Jadi meskipun jumlah pemberian pakan tetap, pertambahan bobotnya tidak bakal sebagus ketika awal sapi digemukkan. “Terjadi penurunan sekitar 20—30%,” katanya. Dengan biaya produksi Rp10.000/ekor/hari dan harga jual Rp8,5-juta/ekor, Mahfudz memperoleh laba Rp9,6-juta—Rp10,4-juta.

Di Kediri, Jawa Timur, Ninik Triwahyuni sejak 2007 juga menekuni usaha penggemukkan sapi. Peternak di Desa Neronggo, Kecamatan Blabak itu mengawali dengan 10 bakalan brahman cross. Setelah 5–6 bulan dipelihara dengan menitipkan pada mitra yang dipilih untuk merawat, sapi-sapi itu dijual dengan harga Rp10,5-juta/ekor. “Untungnya dibagi dua. Saya mendapat sekitar Rp1,5-juta—Rp2-juta/ekor,” kata Ninik yang telah menjual 50 sapi hasil penggemukkan itu.

Marak

Menurut Ir Fauzi Lutha, direktur budidaya ternak ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian RI, kebutuhan daging nasional pada 2009, misalnya, mencapai 390.000 ton atau setara 2,1-juta ekor. Dari jumlah itu produksi lokal hanya 1,1-juta ekor. Selisih kekurangan sebesar 1-juta ekor itu dipenuhi dari impor sapi yang mencapai 700.000 ekor.

Saat ini tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia berkisar 1,8–2 kg/kapita/tahun. Jumlah itu jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang masing-masing

mencapai 7 kg/kapita/tahun dan 25 kg/kapita/tahun. Menurut Achmad SH, anggota dewan Asosiasi Pengusaha Feedlotter—penggemuk sapi–Indonesia (Apfindo) dengan konsumsi 1,8 kg/kapita/tahun dan asumsi jumlah penduduk 230-juta pada 2009, saat ini dibutuhkan 414-juta kg daging sapi. Angka itu bila dikonversikan menjadi sapi hidup dengan 2,406-juta ekor. “Kebutuhan sapi demikian besar,“ kata pemilik PT Kadila Lestari Jaya di Cijapati, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian kini tengah gencar menyukseskan program swasembada sapi pada 2014. Penyediaan daging sapi dalam negeri diproyeksikan meningkat menjadi 90% pada 2014 dari semula 67% (2010). “Target konsumsi juga hendak ditingkatkan menjadi 10 kg/kapita/tahun,” kata Fauzi. Bila itu diwujudkan paling tidak perlu tersedia 10-juta sapi setiap tahun dengan asumsi jumlah penduduk sama seperti pada 2009.

Oleh karena itu program pengembangan ternak sapi dipacu di berbagai daerah, terutama di luar Jawa. Musababnya ketersediaan pakan—hijauan dan limbah perkebunan seperti sawit dan kakao—melimpah. Di Jawa pun penggemukkan sapi terus bergeliat. Yang melirik penggemukan sapi itu antara lain Slamet Shani (Rangkasbitung), Ade Suryana (Garut), Agus Arifudin (Yogyakarta), dan Amak Syaefuddin (Bandung). Slamet dan peternak lain di koperasi Bina Lestari, misalnya, kini menggemukkan 200 sapi PO di lahan seluas 2 ha. Bakalan sapi berbobot 300 kg/ekor seharga Rp5,5-juta/ekor dari Lampung itu digemukkan selama 100–120 hari hingga berbobot 400 kg/ekor. Dengan harga jual berkisar Rp8-juta—Rp8,5-juta/ekor lalu dipangkas biaya lain-lain, Slamet menangguk laba bersih Rp600.000—Rp1-juta/ekor.

Pasar memang terbuka lebar. Menurut Ir Setyo Utomo, kebutuhan sapi di Cirebon saja mencapai 40—50 ekor/hari. “Setiap tahun ada kenaikkan 10—20%,” kata kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Cirebon. Dari jumlah itu baru 10% dipenuhi peternak setempat. Saat ini diperkirakan populasi sapi di Cirebon berkisar 2.000 ekor. Bila RPH setempat mengandalkan populasi itu, hanya dalam tempo 2 bulan seluruh sapi di Cirebon habis. “Idealnya populasi di sini sekitar 55.000 ekor,” kata Setyo.

Buka-tutup

Penggemukan sapi tak lepas dari kendala. Salah satu yang penting adalah sulitnya mendapat bakalan. Iswan di Kudus, Jawa Tengah, hanya bisa menggemukkan 5—8 sapi PO dalam setahun. “Berebut dengan peternak lain,” keluhnya. Padahal dengan lahan 1.000 m2 yang dimiliki, Iswan ingin membesarkan 20—30 sapi.

Seretnya jumlah bakalan tak lepas dari beberapa faktor. Setiap tahun paling tidak 200.000 betina produktif dipotong. Belum lagi keengganan peternak besar untuk terjun ke bisnis bakalan. “Secara hitung-hitungan rugi, kecuali yang memelihara secara tradisional,” kata Achmad. Sebagai gambaran untuk pemeliharaan pedet sejak lahir (bobot 28 kg) hingga umur 2 bulan (bobot 86 kg) butuh biaya sekitar Rp3,4-juta. Harga pedet sendiri Rp35.000/kg per bobot hidup. Jadi bila dijual pada umur itu pembibit rugi Rp300.000-an.

Menurut Bonny Irvan Faizal, masuknya sapi impor cukup memukul peternak lokal. Harga sapi impor yang lebih murah membuat sapi lokal kalah bersaing di pasar daging untuk memenuhi kebutuhan harian. “Selisihnya bisa mencapai Rp4.000 per kg,” ujar peternak di Bandung itu. Maka dari itu sejak 2008 Bonny lebih fokus menggemukkan untuk memenuhi pasar Idul Fitri dan Idul Adha masing-masing sebesar 175 ekor dan 350 ekor. Di luar itu Bonny hanya memasok 2 ekor per hari ke rumah potong hewan.

Hal sama dikeluhkanoleh Agus Arifudin. “Jagal lebih memilih sapi impor,” katanya. Penyebabnya antara lain harga sapi impor lebih murah sekitar Rp20.700/kg; lokal Rp22.000—Rp23.000/kg. Pun harga karkas impor Rp40.000/kg; lokal Rp46.000/kg. Sebab itu pula banyak pembesar di sekitar Yogyakarta, Solo, Temanggung, dan Wonosobo sementara tiarap dengan mengurangi populasi hingga kondisi membaik.

Menurut Fauzi keran impor sapi tak selalu dibuka. Pada Januari 2010 impor sapi hidup sempat ditutup lantaran harganya menyentuh level Rp19.000—Rp20.000/kg. Padahal lokal bertengger di angka Rp24.000—Rp25.000/kg sehingga kemudian ditinggalkan pembeli. Harga ternak lokal pun terjun bebas hingga menyentuh Rp21.000/kg. “Untuk menstabilkan, keran impor ditutup sehingga harga berada pada tingkat ekonomis sekitar Rp23.000—Rp24.000/kg,” ujar Fauzi.

Toh meski penuh gejolak, Agus Arifudin tetap yakin usaha penggemukkan sapi tetap memberi untung asalkan semua pihak terkait pemerintah dan peternak lokal bisa saling menguatkan. “Prospek di sapi selalu bagus karena menjawab beberapa hal seperti antisipasi krisis pangan,” kata Ir Bambang Purwohadi, ketua Forum Peternak Sapi Indonesia. Mafhudz Sungkar di Cirebon sudah memulainya, Anda? (Dian Adijaya S/Peliput: A. Arie Raharjo, Faiz Yajri, Imam Wiguna, dan Lastioro Anmi T)

 

 

 

  1. Brahman berbobot 500 kg digemukkan 5—6 bulan dari bobot 250 kg
  2. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI gencar menyukseskan program swasembada sapi pada 2014
  3. Mahfudz sukses raih laba hingga Rp9,6-juta per 120 hari dari penggemukan sapi
  4. Harga sapi impor yang lebih murah membuat sapi lokal kalah bersaing di pasar daging untuk memenuhi kebutuhan harian
  5. Ir Fauzi Luthan
  6. Achmad SH

 

Powered by WishList Member - Membership Software