Bisnis Basah Nata Kelapa

Filed in Uncategorised by on 01/08/2012 0 Comments

Omzet Konang Sri Hartono Rp200-juta per bulan dari nata kelapa.

 

Istilah tempat basah cocok bagi bisnis yang digeluti Konang Sri Hartono. Ia memang berbisnis air kelapa yang acap membuat basah ketika mengolahnya menjadi nata kelapa atau nata de coco. Setelah menjual hasil olahan mencapai 2 ton per hari, ia kembali “basah” dengan omzet menggunung. Produsen di Desa Tirtomulyo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu memang mengirimkan nata kelapa ke pabrik minuman di Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Cirebon dan Bogor-keduanya di Jawa Barat.

Hartono memproduksi bahan minuman segar itu hingga 2 ton per hari. Satu kg nata berasal dari 1 liter air kelapa. Menurut Hartono biaya produksi per kg nata kelapa saat ini Rp500. Selain itu ia juga menyerap produksi 50 plasma di wilayah Yogyakarta, Bantul, Klaten, Purworejo dan Banyumas. Ia membeli satu kilogram lembaran nata seharga Rp1.000. Total jenderal, ia mampu memasarkan 25-30 ton potongan nata setiap pekan. Hartono menjual potongan penganan kaya serat itu Rp1.800 per kg.

Tinggi permintaan

Meski bermitra dengan para plasma, tetapi Hartono belum mampu melayani semua permintaan. Saat ini 37 ton permintaan nata belum ia penuhi. Permintaan melonjak hingga 3 kali lipat saat kemarau dan Ramadan. Itulah sebabnya Hartono berencana meningkatkan produksi hingga 60 ton nata potong per pekan. Begitu juga dengan produsen di Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahmad Ringin. Ia hanya sanggup memenuhi 60 ton nata potong permintaan per bulan.

Itu pun sebagian hasil bermitra dengan 11 plasma di Cibinong. Produksi sendiri cuma 15 ton sebulan. Sementara permintaan rutin dari Riau dan Jambi total 10 ton setiap pekan atau 40 ton sebulan belum sanggup ia layani. Sebab, kapasitas produksi plasma rata-rata 4 ton nata per bulan. “Kalau ada kelebihan produksi barulah dikirim ke luar Jawa,” kata Ringin. Bukan hanya Hartono dan Ringin yang kelimpungan memenuhi permintaan nata kelapa.

Agus Arifin di Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, menghadapi hal serupa. Agus mempekerjakan 8 orang untuk membantu produksi 1 ton lembaran nata setiap hari. Selain memproduksi sendiri, Agus juga menampung produksi 37 plasma untuk memenuhi permintaan konsumen. Ia mengumpulkan rata-rata 500 kg lembaran nata setiap pekan dari plasma.

Sayang, jumlah sebanyak itu pun belum mampu menutup kebutuhan. Sebut saja permintaan industri makanan di Kota Malang, Jawa Timur, yang mencapai 28 ton lembaran nata per pekan. Agus hanya sanggup memenuhi seperempat permintaan itu lantaran ia juga mesti memasok 6 ton nata ke Cirebon, Jawa Barat, dan 13 ton ke Medan, Sumatera Utara. Ia menjual nata kelapa Rp1.400 per kg.

Hambatan

Sekilas berbisnis nata kelapa selezat menikmati minuman itu ketika hari terik. Padahal, beragam kendala menghadang para pebisnis seperti Agus. Ia kerap mendapat protes warga di sekitar lokasi produksi karena limbah nata mengeluarkan bau tidak sedap. Aroma itu akibat penggunaan asam cuka yang beraroma menyengat dalam proses produksi. Padahal, peningkatan produksi mau tidak mau akan kian banyak melibatkan cuka.

Demi menggenjot produksi, Agus berpindah ke sebuah desa kecil di pinggir Kabupaten Sleman. Di lokasi baru, tak ada protes warga karena jarak antarrumah berjauhan. Jarak rumah Agus dengan rumah terdekat lebih dari 100 meter. Aroma tak sedap yang memicu protes warga bukan satu-satunya masalah yang menghadang produsen nata. Hambatan lain adalah kelangkaan air kelapa. Hartono, misalnya, mesti mendatangkan air kelapa dari luar kota seperti Kebumen dan Banyumas. Adapun Agus mendatangkan bahan baku dari Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta, serta Purworejo dan Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

Para produsen itu menginginkan air kelapa yang murni bebas campuran, bersih dari pengotor, dan berumur tidak lebih dari sepekan sejak buah kelapa terbelah dan air ditampung. Produsen menolak air kelapa berumur lebih dari sepekan sebab kemanisannya turun. “Itu bisa menambah biaya produksi sebab lebih banyak gula yang mesti diberikan,” tutur Agus Arifin. Itu sebabnya para produsen di Yogyakarta atau Bogor tidak bisa mengambil dari tempat yang terlalu jauh, seperti di Sulawesi atau Manado.

Selain itu mutu rendah bakteri starter juga acap menjadi kendala yang berdampak pada rendahnya mutu nata. “Baru 2-3  hari fermentasi, lembaran nata menjadi berair dan berbau,” tutur Agus yang pernah mengalami bakteri starter bermutu rendah. Untuk mengatasi itu ia kemudian menyeleksi setiap bibit yang akan digunakan. Caranya, usai merebus bahan nata kelapa, Agus memasukkannya ke dalam botol lantas menutupnya. Selang dua hari, ayah satu putri itu mengamati permukaan bakal bibit.

Bibit yang dipakai adalah bibit kenyal dan bebas buih. Dengan cara itu hambatan itu kini tak pernah terulang. Menurut Agus yang menjadi anggota Paguyuban Nata De Coco Indonesia,  “Risiko kegagalan lebih dari 5%. Padahal dengan menjaga kualitas produksi, risiko itu dapat ditekan hingga kurang dari 1%,” katanya.

Mustakim, pembuat nata di Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pernah menghadapi nata kelapa yang buruk, yakni bertekstur lembek. Akibatnya produksi hingga 500 kg tak dapat terjual. “Nata berkualitas rendah akan menjadi bubur bila disimpan lebih dari tiga hari,” tutur Mustakim. Setiap hari ia mengambil 50 jerigen air kelapa berkapasitas 30 liter seharga Rp7.000 per jerigen dari 3 pasar besar di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur.

Prospektif

Jika beragam hambatan teratasi, produsen pasar nata yang membentang bakal menanti. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, produksi nata untuk industri minuman di tanahair pada 2005 menyerap 905 ton dengan nilai lebih dari Rp4-miliar. Tahun berikutnya, angka itu naik menjadi 2.325 ton senilai Rp30-miliar dan meningkat lagi menjadi 8.660 ton tahun berikutnya. Menurut Masyarakat Perkelapaan Asia Pasifik, pada 2007 luas penanaman kelapa di tanahair mencapai 3.859.970 ha. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya seluas 3,8-juta ha. Sumatera sentra kelapa terluas 1,3-juta ha, Jawa  839.636 ha, sedangkan peringkat ketiga diisi Sulawesi 740.566 ha.

Menurut Agus, peluang nata tetap prospektif. “Berapa pun hasil produksi plasma pasti diterima, asal berkualitas baik. Pasalnya, permintaan yang datang kerap melampaui produksi yang dihasilkan,” ujar Agus. Ia mensyaratkan mutu nata pasokan plasma harus berwarna putih keruh, mulus, dan kenyal. Hingga kini para plasma mampu memenuhi kriteria itu. Selain pasar domestik, mancanegara juga memerlukan nata kelapa. PT Niramas Utama, produsen di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, rutin mengekspor nata kelapa ke berbagai negara seperti Jepang dan Hongkong. Sejak 1993 pasar Jepang meminta pasokan berton-ton setiap tahun. “Nata de coco menjadi produk andalan kami,” kata Erijanto D. Lukman, direktur Pemasaran PT Niramas Utama. Sayang, Erijanto enggan menyebut angka tepat produksi nata yang dihasilkan setiap tahun oleh pabrik makanan di kota Bekasi itu. (Andari Titisari)

Keterangan Foto :

  1. “Mutu bahan baku dan proses produksi harus dijaga untuk menghasilkan nata de coco berkualitas,” tutur Erijanto D. Lukman.
  2. “Pada bulan ramadhan, permintaan nata meningkat hingga dua kali lipat,” tutur Agus Arifin
  3. Lembaran nata yang bagus berwarna agak keruh, bertekstur kenyal, dan tidak berbau
  4. Nata de coco dalam varian rasa (leci, stroberi, dan jeruk)
  5. Bibit yang baik kenyal dan bebas buih
 

Powered by WishList Member - Membership Software