Bisnis Aroid

Filed in dari redaksi, Rubrik Tetap by on 01/09/2020

Bupati Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan, Kholid Mawardi, S.Sos. M.Si. (paling depan) dan wartawan Trubus Riefza Vebriansyah di belakangnya.

Banyak daerah menghadapi masalah alih fungsi sawah. Sawah berubah menjadi pemukiman atau industri sehingga mengancam ketahanan pangan. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, justru mencetak sawah baru. Petani-petani di Negeri Sebiduk Sehaluan—julukan Ogan Komering Ulu Timur—beramai-ramai mengubah kebun karet menjadi sawah. Itu antara lain terjadi di Kecamatan Semendai Barat, 2 jam perjalanan bermobil dari Kota Martapura, ibu kota Ogan Komering Ulu Timur.

Harap mafhum harga karet lesu. Harga di tingkat petani di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, hanya Rp5.000 per kilogram. Pada masa kejayaan harga getah pohon Hevea brasiliensis di tingkat petani mencapai Rp20.000 per kg. Kabupaten baru, lahir pada 17 Januari 2004, hasil pemekaran Kabupaten Ogan Komering Ulu, gencar membangun pertanian.

Di bawah kepemimpinan Bupati Kholid Mawardi, S.Sos., M.Si., Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur juga mengembangkan padi organik di Kecamatan Belitang dan bawang merah di Semendai Barat. Kedua komoditas itu, semula tak berkembang. Rintisan pertanian organik sejak 2010. Beragam kebijakan itu amat menarik. Itulah sebabnya redaksi mengirimkan wartawan Riefza Vebriansyah menelusuri sentra-sentra pertanian di OKU Timur.

Sarjana Sains alumnus Biologi Universitas Negeri Jakarta itu juga mengikuti kunjungan kerja bupati ke beberapa wilayah. Sekadar contoh pada 18 Agustus 2020, Riefza mengikuti kunjungan kerja ke Desa Trikarya, Kecamatan Belitang II, 2,5 jam bermobil dari Martapura. Liputan ke Negeri Sebiduk Sehaluan itu dilakukan di antara tenggat yang ketat. Redaksi tengah mengerjakan Majalah Trubus edisi September 2020 dengan laporan utama bisnis aroid.

Aroid, sebutan untuk tanaman hias anggota famili Araceae, seperti aglaonema, anthurium, monstera, dan philodendron tengah menanjak. Permintaan tanaman hias itu justru melonjak saat pandemi korona. Keempat komoditas itu mengisi pasar ekspor antara lain ke Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman. Itulah sebabnya petani berlomba-lomba memperbanyaknya. Harga jual tanaman juga melonjak 3—4 kali lipat.

Bahkan, beberapa jenis harga ditentukan per daun hingga Rp30 juta. Namun, berniaga tanaman hias bukan hal gampang. Serangan hama atau penyakit menjadi ancaman. Kelas Trubus mengundang para pembaca untuk bergabung dalam pelatihan budidaya aglaonema pada 12 September 2020. Materi pelatihan lain di Kelas Trubus adalah budidaya organik, magot, udang vanamei, dan minyak asiri.

Salam

Sardi Duryatmo

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software