Bisnis Anthurium: Pasar Semu atau Nyata?

Filed in Tanaman hias by on 03/08/2013

Anthurium kobra salah satu yang banyak diminta konsumen

Anthurium kobra salah satu yang
banyak diminta konsumen

Bisnis anthurium menggeliat lagi setelah lima tahun kolaps.

Hasrat Nanang Koswara untuk memiliki anthurium itu tidak tertahankan. Di pelupuk mata pengusaha tanaman hias di Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, itu terbayang-bayang anthurium kobra yang ia lihat siang tadi. Pukul 02.00 dinihari matanya tak juga terpejam. Ia bangkit lalu berjalan ke arah sebuah anjungan di pameran Flora Fauna, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Kebetulan pemilik anjungan itu, Padmo Rawito, juga belum tidur.

Kedua orang itu tengah berpameran dan bermalam di Lapangan Banteng untuk menjaga anjungan masing-masing. Maka jadilah transaksi pada dinihari itu. Nanangmembeli 30 pot anthurium kobra milik Padmo seharga Rp20-juta. Saat itu juga ia memindahkan ke-30 pot anthurium—rata-rata terdiri atas2—3 daun—ke anjungannya di pameran yang sama. Setelah terbeli, barulah ia tidur lelap hingga pagi.

Pagi harinya, pengunjung dari Yogyakarta, datang ke anjungan Nanang. Ia adalah Aries Andi, pengepul tanaman. Aries hanya perlu waktu 15 menit untuk menawar tanaman hias anggota famili talas-talasan itu. Nanang menjual 30 pot anthurium itu Rp32,5-juta. Hanya dalam 6 jam, pemilik Nurseri Bogana itu meraup laba bersih Rp12,5-juta.

Persediaan kosong

Setahun terakhir bisnis anthuriummemang menggeliat lagi setelah kolaps pada 2008. Ketika itu harga anthurium di titik nadir. Anthurium kobra terdiri atas satu daun, misalnya, hanyaRp150.000 per pot.Jenis lain, seperti gelombang cinta malah cuma Rp10.000. Padahal, pada puncak kejayaan harga keduanya menembus puluhan juta rupiah. Setelah terpuruk, banyak orang meninggalkan anthurium. Namun, kini trauma enam tahun lalu seperti terhapus. Permintaan anthurium kini terkerek lagi.

Lihat grafik penjualan di Nurseri Bogana. Nurseri milik Nanang itu mengirimkan 170 pot anthuriumkobra per bulan ke berbagai wilayah seperti Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Nanang merasakan tingginya permintaan sejak Mei 2013 meningkat 70% dibanding enam bulan sebelumnya. Malah sebelum Januari 2013, permintaan anthurium di nurserinya paling banter hanya 5 pot.“Tahun ini permintaan anthurium benar-benar ramai,” kata Nanang.

Tingginya permintaan itu menyebabkan persediaan anthurium di Nurseri Bogana kosong. Sebagai gambaran, selama mengikuti pameran Flora Fauna sejak7 Juni—8 Juli 2013, Nanang menjual rata-rata 40 pot beragam ukuran per hari. Anthurium terdiri atas 2—3 daun setinggi 20—30 cm ia jual minimal Rp1,5-juta, sedangkan tanaman terdiri atas 4—5 daun setinggi 30—40 cm, Rp4-juta—Rp5-juta. Nanang mengatakan konsumen banyak meminta jenis kobra.

Selain jenis itu ia juga rutin mengirimkan 10 pot variegata setiap bulan ke Surakarta, Jawa Tengah, sejak Januari 2013. Wajar jika dalam sebulan, omzet penjualan anthurium Nanang fantastis, Rp300-juta. Bukan hanya Nanang yang mengalami lonjakan permintaan. Pemilik Del’s Nurseri, Adelia Sebastian, mengalami hal serupa. Sebelum Januari 2012, ia rata-rata menjual 25 pot anthurium per bulan. Namun, setahun belakangan permintaan meningkat signifikan, yakni rata-rata 50—100 pot per bulan.

Bahkan, saking menipisnya persediaan anthurium di nurserinya, bonggol pun laku Rp150.000. Sementara bonggol berdaun satu helai ia lepas dengan harga Rp700.000. Sementara itu selama mengikuti ekshibisi Flora Fauna, Adelia menjual minimal 350 pot anthurium jenis kobra dan black beauty. Itu untuk melayani permintaan konsumen di Yogyakarta dan Wonosobo, Jawa Tengah. Ia menjual kobra terdiri atas 8—10 daun Rp5-juta; black beauty dengan jumlah daun sama, Rp.8-juta.

Setelah ambruk pada 2008, bisnis anthurium bergerak naik lagi

Setelah ambruk pada 2008, bisnis anthurium bergerak naik lagi

Tren menyebar

Menurut Adelia persentase terbesar jenis anthurium yang diminta adalah kobra dan variegata. Tingginya permintaan menyebabkan Adelia acap kali mengambil tanaman ke nurseri lain. Kondisi seperti itu tak pernah ia alami sebelumnya sejak berbisnis tanaman hias pada 2006. Geliat bisnis anthurium bukan hanya terjadi di Jakarta. Para penangkar anthurium di kota lain seperti Karanganyar dan Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah,merasakan hal serupa.

Pebisnis anthurium di Solo Jawa Tengah, Sri Hastuti, misalnya, kewalahan melayani banyaknya permintaan tanaman hias daun itu. Setiap bulan ia memasarkan 300 pot anthurium rata-rata terdiri atas 2—5daun. Jenis yang banyak diminta antara lain kobra, variegata, mangkuk, dan tanduk. Menurut Srimelonjaknya permintaan itu terasa sejak Mei 2013. Sebelum itu, ia rata-rata menjual hanya 50 pot per bulan.Pebisnis anthurium sejak 1999 itu beruntung karena ketika permintaan sepi pada 2009—2012 tetap memperbanyak anthurium. Ketika permintaan meningkat, ia memiliki cadangan tanaman yang siap jual.

Apa penyebab permintaan anthurium meningkat lagi? Menurut Budi Tjahyana, pengamat dan pelaku bisnis anthurium di Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, gairah bisnis anthurium mulai meningkat sejak kontes anthurium di Surakarta pada Mei 2013. Ketika itu sekitar 100 anthurium beradu molek. Peserta kontes berasal dari berbagai kota seperti Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta. Itulah kontes antuhurium pertama sejak bisnis tanaman hias itu meredup pada 2009.

Sebulan pascakontes permintaan tanaman hias kerabat talas itu perlahan meningkat. Pemilik Nurseridi Sawangan, Depok, Deni Lacon, misalnya, melayani lonjakan permintaan signifikan. Ketika itu dalam sebulan ia menjual rata-rata 150 pot anthurium. Padahal, sebelum kontes berlangsung, permintaan paling pol hanya 60 pot. Harga jual pun perlahan meningkat. Kobra terdiri atas 7 daun ia jual Rp3-juta—Rp4-juta, semula hanya Rp250.000 per pot.

Usai kontes, kemudian berlangsung ekshibisi besar, yakni pameran Flora Faunan pada Juni 2013. “Perayaan Flora dan Fauna turut berperan dalam kenaikan permintaan anthurium,” kata Zulfan Siregar, pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Setidaknya sepertiga dari total anjungan tanaman hias di pameran Flora Fauna 2013 yang berjumlah 300 stan menyediakan anthurium. Jenis anthurium yang mendominasi di setiap stan adalah mangkuk, kobra, variegata, dan tanduk.

“Penurunan jumlah pemain sejak anjloknya harga anthurium, karena tak semua menyukai karakteristik tanaman itu tetapi lebih ke nilai jualnya” kata Adelia

“Penurunan jumlah pemain sejak anjloknya harga anthurium, karena tak semua menyukai karakteristik tanaman itu tetapi lebih ke nilai jualnya” kata Adelia

Pasar semu?

Menurut Ir Dwi Bintarto S, kolektor anthurium di Sawangan, Depok,salah satu pemicu melonjaknya permintaan adalah keinginan konsumen memiliki anthurium yang bagus. Anthurium yang bagus adalah yang berkarakter. Contohnya jenis variegata yang mulai ramai sejak 6 bulan terakhir. Kobra dengan lekukan daun dan tonjolan tulangnya yang eksotis tetap jadi primadona. Kolektor atau pehobi baru sebagai konsumen berperan dalam menggiring arah pasar. “Ada kolektor atau pelaku usaha yang berani membeli dengan harga tinggi hingga 3 kali lipat daripada harga sebelumnya,” kata Budi.

Sementara anggota staf pengajar dan peneliti program Pascasarjana Magister Bisnis Institut Pertanian Bogor, Drs Yudha Heryawan Asnawi, MM mengatakan bahwa kenaikan permintaan anthurium karena adanya provokasi harga. Menurut Heryawan, anthurium tidak termasuk komoditas langka dan komoditas yang memerlukan perawatan ekstra. “Biaya perawatan per tahun mungkin Rp2-juta sehingga jika dijual 20-an kali lipat, tidak masuk akal,” kata Heryawan.

Penelusuran Trubus menunjukkan bahwa pembeli anthurium masih didominasi pedagang, sekitar 60—70%. Selebihnya kolektor dan pehobi pemula. Artinya gairah pasar masih belum sempurna karena geliat sebenarnya terletak pada aktivitas konsumen akhir sebagai pengguna sebenarnya. Menurut pebisnis tanaman hias, dr Purbo Djojokusumo, selama persentase pembelian di kalangan pedagang masih di atas 50% maka pasar anthurium masih semu.

“Sebab, pasar yang sebenarnya itu terletak pada penikmat sesungguhnya yaitu end user—kolektor dan pemula. Kalau di tingkat pedagang itu masih adanya provokatif harga—harga yang tidak real,” kata Yudha. Harga yang tidak realistis itu dimanfaatkan untuk mengganggu psikologis karakter konsumen Indonesia. Artinya geliat bisnis anthurium masih menunggu wajah sesungguhnya. (Pressi HF/Peliput: Kartika Restu Susilo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software