Biskuit Pengganti Hijauan

Filed in Laporan khusus by on 09/10/2010 0 Comments

 

Mochammad Sobri membuat biskuit pada 2009Pelet buatan Sukarto tingkatkan bobot rex umur 5 bulan menjadi 3 - 4 kgSebelum memakai biskuit, peternak di Desa Landungsari, Kecamataan DAU, Malang, Jawa Timur, itu membutuhkan 75 kg rumput untuk 100 kelincinya. Agar kontinuitas ketersediaan pakan terjaga Sobri perlu mencari hingga ke wilayah Batu – berjarak 10 km dari kediamannya. Sudah jauh, tapi belum tentu rumput yang didapatnya higienis. ‘Rata-rata tercemar pestisida dari lahan pertanian. Kelinci yang memakannya berisiko mencret dan kembung,’ ujar Sobri. Kedua penyakit itu momok menakutkan bagi peternak.

Kelinci lepas sapih sekitar umur 2 bulan paling rentan mencret dan kembung. ‘Pencernaannya masih lemah,’ kata kelahiran Malang 45 tahun lalu itu. Ujung-ujungnya sebanyak 50% anakan mati. Bahkan angka kematian melejit hingga 80% saat musim hujan. Kalaupun lolos hidup, bobotnya tidak bisa lebih dari 400 g.

Keluhan Sobri berganti senang setelah ia memakai pakan biskuit. ‘Tingkat kematian turun. Paling pol 1 – 2 dari 8 ekor yang dilahirkan dan bobot anak bisa mencapai 450 g/ekor,’ ucap Sobri. Induk betina pun jadi lebih maksimal beranak, sekitar 8 – 12 ekor tergantung jenis. Rata-rata kelinci beranak 5 – 6 ekor. Pun jarak bunting menjadi pendek, sekitar 45 – 50 hari dari semula 60 hari.

Ramu bahan

Biskuit yang mirip pakan konsentrat unggas itu merupakan utak-atik Sobri sejak 2007. Sobri meramu biskuit itu memakai bahan biji-bijian dari jagung dan kedelai. Bahan lain adalah polar, bekatul, menir, minyak tumbuhan, vitamin, dan feed aditif.  Awalnya campuran itu dibentuk seperti tepung. Namun, pakan menjadi cepat lembap saat disimpan, sehingga daya simpannya pendek, sekitar 1 bulan. Berikutnya Sobri mengubah tepung menjadi biskuit. ‘Biskuit bisa tahan disimpan selama 6 bulan,’ ujar Sobri. Itu karena kadar air biskuit yang rendah sekitar 10 – 14%.

Kandungan nutrisi pakan biskuit itu sudah dirancang sesuai kebutuhan kelinci. Nutrisi itu antara lain: serat kasar, protein, lemak, dan mineral abu. Terdapat pula vitamin E, sumber antioksidan untuk memperkuat daya tahan kelinci. Bobot tubuh kelinci naik karena ada penambahan 100 ppm growth promotor. Pada pakan juga dicampurkan anticendawan, antimikotoxin, dan fitobiotik. ‘Tujuannya supaya kelinci terhindar dari mencret dan kembung,’ kata alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Setelah memakai biskuit, Sobri tidak perlu memberi pakan tambahan. Ia cukup memberikan 50 g/hari biskuit untuk kelinci berbobot 1 kg. Yang penting air minum harus selalu tersedia untuk mencegah dehidrasi dan memperlancar metabolisme.

Butuh serat

Menurut Dr Yono C Raharjo, peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi, Kabupaten Bogor, kelinci dapat mengkonsumsi pakan minus hijauan, asal nutrisi dan kebutuhan energi terpenuhi. ‘Kelinci dewasa membutuhkan pakan yang menghasilkan energi 2.500 kalori/hari,’ kata Yono.

Pakan tanpa hijauan juga harus mudah dicerna. Yono menyarankan daya cerna pakan buatan harus di atas 70%. Musababnya, ‘Kelinci memiliki sistem metabolisme komplek sehingga tidak semua bahan makanan dicerna baik,’ imbuh ketua Himpunan Masyarakat Perkelincian Indonesia (Himakindo) itu.

Biskuit memiliki serat kasar. Serat itu diperoleh dari dedak dan polar. Pada dedak, misalnya, kandungan serat kasar mencapai 6 – 7%. Sayang, kelinci tidak dapat mencerna serat kasar sebaik keluarga ruminansia sehingga banyak nutrisi terbuang. Maka dari itu kelinci menjaga kecukupan nutrisi dengan mengkonsumsi pakan lebih sering sehingga food conversion ratio (FCR) kelinci rendah, sekitar 2,3 – 2,5.

Protein tinggi

Munurut Sukarto Nio, peternak di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, kunci dari pakan buatan adalah terpenuhinya kebutuhan protein. ‘Kadar protein dalam pakan bervariasi, dari 15 – 20%,’ kata Sukarto yang membuat pakan pelet kelinci. Kadar protein dibedakan tergantung kebutuhan. Kelinci bunting perlu pakan mengandung 18% protein, betina menyusui 20%, dan pemeliharaan sehari-hari 16%.

Perawatan sehari-hari dengan pemberian protein 18% menunjukkan hasil luar biasa. Menurut Sukarto kelinci berumur 5 bulan bobotnya bisa mencapai 3 – 4 kg. Padahal bobot itu lazim dicapai saat kelinci minimal berumur 7 bulan. ‘Saat dilombakan banyak orang mengira kelinci ini berumur setahun,’ kata Sukarto yang memperoleh sumber protein dari bungkil kedelai dan tepung ikan. Bungkil kedelai mengandung 18 – 19% protein; tepung ikan mencapai 60%. Bahan lain yang  memacu bobot adalah daun tebu, dedak kacang hijau, dedak padi, feed aditif, anticendawan, dan antioksidan.

Nun di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Asep dari Asep Rabbit Farm memilih pakan pelet buatan CP Prima. Dengan pelet pabrik itu Asep memang tak perlu repot mencari hijauan. Asep hanya mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp19.000 per kg pelet. ‘Tidak mengapa, asalkan perawatan mudah dan kelinci senang,’ ucap Asep yang memberikan pelet 10% dari bobot kelinci.

Kelebihan lain penggunaan pelet: kandang selalu bersih. Pelet juga tidak terlalu menimbulkan bau amonia yang menyengat. Gejala keracunan itu antara lain malas bergerak dan nafsu makan turun. Beragam keuntungan dimiliki pakan biskuit membuat peternak tidak perlu lagi direpotkan mencari hijauan. Itulah yang kini dilakoni Sobri. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

Bentuk dan tekstur biskuit dirancang sesuai kebiasaan kelinci yang suka mengerat

Pelet buatan Sukarto tingkatkan bobot rex umur 5 bulan menjadi 3 – 4 kg

Mochammad Sobri membuat biskuit pada 2009

 

Powered by WishList Member - Membership Software