Biru Baru Seru!

Filed in Tanaman hias by on 01/07/2009 0 Comments

Pantaslah Husny jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat paku biru itu di sebuah nurseri di Batu, Jawa Timur. ‘Ternyata ada daun berwarna biru seperti itu ya. Kalau perak kebiruan sih banyak,’ gumam kolektor ratusan tanaman hias sejak 2002 itu.

Warna biru paku berdaun seperti sereh – panjang daun 20 – 30 cm, lebar 1 – 2 cm – itu muncul jika dilihat miring atau dari samping. Dari atas, warnanya hijau tua. Jadinya bak 2 tanaman berbeda. Pantas pengusaha sarung itu langsung menyodorkan Rp300.000 untuk 3 pot berisi tanaman masing-masing 3 – 4 daun – lebih mahal 5 kali lipat daripada jenis biasa.

Sesampai di kediaman di Surabaya, ketiga paku biru itu digabung jadi satu dalam pot keramik sehingga penampilannya lebih eksklusif. Husny meletakkan thailandicum di dekat aglaonema dengan naungan jaring peneduh 60%. Kini paku biru yang dibeli 3 tahun silam itu lebih menarik lantaran rimbun dengan lebih dari 50 daun.

Refleksi cahaya

Paku biru itu pula yang Trubus lihat di kediaman J.M Wijesinghe, kolektor tanaman hias di Yatiyantota, Sri Lanka. Di tangan Wijesinghe ada 2 pot waew peek maeng thub – nama di Thailand. Penampilannya rimbun dalam pot gerabah. Paku rane itu diletakkan di samping rumah yang teduh – karena banyak pohon besar – dengan kelembapan 80 – 85%. Itu sama dengan habitat asli paku biru di hutan hujan, sehingga daun lebih biru. Warna biru metalik tampak mulai dari daun muda hingga tua.

Menurut Gregori Garnadi Hambali, ahli botani yang punya 1 pot thailandicum, paku rane termasuk iridescent plant. Tanaman iridescent memperlihatkan warna berbeda pada intensitas cahaya dan sudut pandang yang berbeda. Maksudnya, ‘Jika dilihat pagi saat intensitas cahaya rendah, warna daun lebih gelap dibandingkan siang – intensitas cahaya tinggi – di hari yang sama,’ kata Novi Syatria, dosen bioteknologi di Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Sudut pandang berbeda, dari depan dan samping, juga menghasilkan efek warna berbeda. Misal dari depan tampak hijau sementara dari samping, biru.

Efek iridescent terjadi karena lapisan kutikula tanaman berlilin. ‘Cahaya matahari yang datang dipantulkan kembali pada sudut tertentu,’ ujar Novi. Menurut Prof Dr Sri Setiati, guru besar emiritus Institut Pertanian Bogor, efek yang ditimbulkan oleh lapisan kutikula itu bersifat seperti prisma. Cahaya matahari yang mengenai lapisan kutikula diurai jadi warna pelangi dan beberapa dipantulkan kembali. ‘Contohnya cemara genus Thuja yang daun jarumnya berlilin sehingga memantulkan sinar, termasuk warna biru,’ kata Ir Hapsiati, alumnus Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor.

Yos Sutiyoso menambahkan, warna yang dipantulkan daun tergantung dari kebutuhan setiap tanaman. Umumnya tanaman memiliki klorofil. Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya biru (panjang gelombang 400 – 450 nm) dan merah (650 – 700 nm) dibandingkan hijau (500 – 600 nm). Itu karena sinar merah dibutuhkan pada proses fotosintesis asimilasi karbon, sedangkan sinar ultra violet – panjang gelombang 280 – 400 nm – untuk asimilasi protein. Oleh karena itu tanaman hanya menyerap sedikit cahaya hijau, sementara sebagian besar dipantulkan kembali. ‘Cahaya yang dipantulkan itulah yang ditangkap mata kita sehingga terlihat daun berwarna hijau,’ tambah praktisi tanaman hias di Jakarta itu. Pada daun biru, tanaman hanya membutuhkan sedikit cahaya biru sehingga sebagian besar dipantulkan kembali.

Di kebunnya, di Bogor, Greg punya 2 tanaman iridescent lain: Mapania sp dan Selaginella wildenovii. Yang disebut pertama sepintas mirip thailandicum. Namun, daun lebih tipis, panjang, dan berlekuk di bagian tengah seperti membentuk huruf V. Selaginella wildenovii tumbuh merambat di bawah pohon.

Atraktif

Tanaman berdaun biru juga bisa sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Sebut saja thailandicum, mapamia, dan wildenovii yang tumbuh di bawah kanopi pohon pada hutan hujan. Di tempat seperti itu, cahaya yang diterima sangat minim. ‘Tanaman beradaptasi dengan merefleksikan warna tertentu, salah satunya biru,’ ujar Novi. Tujuannya untuk menarik perhatian serangga penyerbuk seperti lebah.

Fungsi lain, refleksi warna biru jadi pelindung dari paparan cahaya ultraviolet di dataran tinggi. ‘Cahaya ultraviolet tinggi dapat merusak kloroplas pada tanaman tertentu,’ kata Stewart McPherson, pencinta tanaman asal Inggris, alumnus University of Durham. Itu karena pigmen klorofil di kloroplas tidak kuat terhadap panas sehingga rusak. ‘Suhu tinggi menyebabkan susunan atom yang membentuk klorofil terputus,’ kata Dr Susiani Purbaningsih, DEA, ahli fisiologi dan kultur jaringan tumbuhan dari Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia.

Itulah yang Stewart temui pada Stegolepis hitchcockii di dataran tinggi Guyana di perbatasan antara Brazil dan Venezuela. Di sana sinar ultraviolet lebih tinggi dibandingkan dataran rendah. Makanya hitchcockii – yang bentuknya seperti anggrek vanda, panjang daun 30 – 60 cm – merefleksikan cahaya biru dari sinar matahari. Ah, entah di Batu, Bogor, atau Guyana tanaman biru sama mempesonanya. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Niken Anggrek Wulan)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software