Bilih Penyelamat Toba

Filed in Ikan konsumsi by on 05/12/2010 0 Comments

Megawati menebar ribuan bibit ikan bilih Mystacoleucus padangensis ke Danau Toba pada 2004. Bibit itu didatangkan langsung dari Danau Singkarak. Tak disangka ikan endemik danau terbesar di Sumatera Barat itu mampu bertahan hidup dan berbiak di Danau Toba. Setahun pascatebar warga sudah dapat memanen hasilnya.

Contoh Mardin Saragih. Warga Desa Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu selalu memperoleh banyak ikan bilih saat menjala di tengah danau. ‘Sebelumnya paling dapat mujair,’ katanya. Sejak itulah ikan bilih menjadi sandaran hidup Mardin. Pria paruh baya itu mampu menjala 50 kg ikan bilih per hari. Bahkan, saat musim hujan datang, panen melonjak hingga 2 kali lipat.

Mirip pora-pora

Sosok ikan bilih mirip pora-pora Puntius binotatus, ikan endemik Danau Toba. Karena itu warga di sana kerap menyebutnya sebagai ikan pora-pora. Padahal, menurut Prof Dr Endi Setiadi Kartamihardja MSc, peneliti Pusat Riset Perikanan Tangkap di Jakarta, keduanya dari spesies beda. Penampilan fisik pun tidak sama. Ciri khas bilih adalah ekornya kuning. Sedangkan tubuh pora-pora yang kini mulai langka terdapat bintik hitam.

Sejak 2005 bilih menjadi andalan baru warga sekitar Danau Toba selain nila. Bandar-bandar ikan asal Padang, Sumatera Barat, berdatangan menyusuri desa-desa di tepi Danau Toba. Mereka membeli bilih dari nelayan seharga Rp7.000/kg.

Di Desa Haranggaol, setidaknya ada 2 truk berukuran sedang yang selalu terparkir di tepi danau. Truk-truk itu akan mengangkut bilih ke Padang, Sumatera Barat. Para nelayan berbondong-bondong menjual hasil tangkapan ke bandar yang membuka lapak ‘dadakan’ di dekat truk. Baru pada sore hari mereka meninggalkan desa. Setiap hari paling sedikit 30 ton bilih diangkut ke Ranah Minang.

Hingga kini Sumatera Barat merupakan pasar terbesar bilih asal Danau Toba. Warga di sana mengolah anggota famili Poeciliidae itu menjadi penganan khas. Ikan bilih kering asal Sumatera Barat diekspor ke Malaysia dan Singapura.

Sebelum menyebar ke Danau Toba, seluruh pasokan bilih untuk ekspor berasal dari Danau Singkarak. Namun, tingginya permintaan ekspor justru memicu penangkapan bilih besar-besaran. Pada 2002, jumlah tangkapan ikan di Danau Singkarak mencapai 1.200 ton. Dari jumlah itu 85 – 90% di antaranya merupakan ikan bilih. Sementara itu, warga tak melakukan upaya khusus untuk menangkarkan bilih.

Akibatnya, populasi bilih menurun tajam. Kerabat ikan mas itu pun terancam punah.

Itulah sebabnya pada 2003 beberapa peneliti melakukan riset tentang penyebaran ikan bilih di berbagai danau besar di tanahair untuk mempertahankan populasinya. Salah satunya dilakukan Endi dan Kunto Purnomo, peneliti Loka Riset Pemacuan Stok Ikan di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Kedua peneliti itu menebar 3.400 bibit bilih asal Danau Singkarak berukuran 4 – 5,6 cm dengan bobot 1 – 1,5 g/ekor di kawasan Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, yang terletak di tepi Danau Toba.

Bertahan hidup

Bilih-bilih itu mampu bertahan hidup di Danau Toba. Dari jumlah yang ditebar, 75% atau 2.550 ekor di antaranya bertahan hidup. Bahkan, panjang bilih mencapai ukuran maksimal hingga 10,5 – 15 cm. Bilih sebesar itu banyak dijumpai di Danau Singkarak pada 1988. Sejak 2002 panjang bilih di Danau Singkarak rata-rata 6 cm. Anjloknya daya tumbuh ikan itu lantaran kualitas air menurun.

Menurut Endi, bilih bertahan hidup di Danau Toba lantaran habitatnya menyerupai Danau Singkarak. ‘Danau Toba berair jernih, temperatur relatif dingin yakni 25 – 27,50C, serta dasar danau berpasir dan berbatu,’ katanya. Di Danau Toba bilih tumbuh optimal karena fitoplankton melimpah. Populasi fitoplankton di danau yang terletak di ketinggian 800 m dpl itu mencapai 18.189 – 40.514 sel/liter. Tingginya populasi fitoplankton karena tersedianya unsur hara. Sumber hara berasal dari limbah pakan budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) yang tersebar di Danau Toba. Sebelum ramai KJA, populasi fitoplankton hanya 792 – 7.722 sel/l.

Ir Yoseph Siswanto, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Utara, menuturkan bilih mesti lestari di Danau Toba. Dengan begitu bilih bisa mengurangi cemaran limbah pakan yang tak termakan. Ia menyarankan agar bilih dikombinasikan dengan nila melalui konstruksi keramba bertingkat. Dengan begitu bilih menjadi ‘tim penyapu’ pakan yang tak termakan.

Populasi bilih di Danau Toba kini terus berkembang pesat. Hanya dalam waktu 2 tahun pascaintroduksi, produksi bilih di Danau Toba mencapai 653,6 ton atau 14,6% dari total produksi ikan di Danau Toba yang mencapai 4.462,2 ton.

Endi menuturkan bilih berkembang pesat karena di Danau Toba bermuara 152 sungai dan 212 anak sungai. Dari jumlah itu sebanyak 71 sungai di antaranya selalu dialiri air sepanjang tahun. Sungai yang masuk ke danau biasanya berair jernih, berbatu, dan berpasir. Kondisi itu disukai bilih untuk memijah. Dengan begitu, diharapkan populasi bilih terus bertambah. Berkat bilih warga sejahtera, air danau pun terjaga. (Imam Wiguna)

Mardin Saragih, warga Desa Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sandarkan hidup pada ikan bilih

Bilih kurangi limbah pakan yang tak termakan ikan di karamba jaring apung

Ikan bilih andalan baru warga pesisir Danau Toba

Bandar ikan pasarkan bilih asal Danau Toba ke daerah asalnya di Sumatera Barat

Foto-foto: Imam Wiguna

 

Powered by WishList Member - Membership Software