Bikin Nutrisi Siap Santap

Filed in Fokus by on 05/10/2010 0 Comments

Heri Hartono di Bogor, Jawa Barat, kecewa karena pohon berumur 5 bulan itu seperti tak merespon pupuk. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah tiadanya bahan organik di sekitar pohon. Dampaknya mikroorganisme yang mengubah Urea menjadi nitrat pun tak ada sehingga tanaman tak mampu menyerap. Bakteri dan spora cendawan yang hinggap dari udara bisa hidup lantaran kandungan bahan organik di permukaan tanah.

Menurut Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, periset di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, bahan organik adalah menyelaraskan muatan ionik dalam tanah. Muatan ionik syarat terjadinya interaksi tanaman dan nutrisi tanah. Tanaman mampu menyerap hara tanah, jika nutrisi berbentuk ion. ‘Tanaman tidak ‘makan’ bahan organik ataupun pupuk kimia,’ kata Iswandi. Tugas penguraian bahan organik atau pupuk kimia menjadi ion-ion jatuh ke mikroorganisme.

Kuncinya: akar

Wajar kalau tanaman tidak mampu menyerap unsur fosfor dari potasium dan kalium KCl, jika di sekitar perakaran tak ada bahan organik. Sebab, dalam KCl terdapat ikatan antara kalium dan klor begitu kuat sampai-sampai tidak mempan dipanaskan. ‘Untuk menyerap mineral (fosfor, kalsium, magnesium), bulu akar membungkus diri dengan elektron (biasanya dalam bentuk ion hidroksida, OH -) dari ujung daun,’ kata Ir Yos Sutiyoso, pakar nutrisi tanaman.

Penumpukan elektron di akar menyebabkan bulu akar bermuatan negatif sehingga ion-ion mineral yang bermuatan positif bergerak mendekat. Tanaman menyerap ion mineral itu melalui bulu akar dan membawanya ke pembuluh xilem sampai pucuk daun. Penyerapan ion bermuatan negatif (air – dalam bentuk ion hidroksida, fosfat, nitrat, amonia) terjadi dengan cara sebaliknya. Akar mengosongkan ion hidroksida sehingga terjadi kekosongan muatan alias bermuatan positif.

Akibatnya, ion negatif di tanah bergerak mendekati bulu akar dan terserap masuk untuk selanjutnya mengulang proses sama dengan ion positif. ‘Proses itu terjadi bergantian sampai kebutuhan nutrisi tercukupi,’ kata Yos. Kunci permainan muatan itu terletak pada akar. Akar sehat memerlukan tanah beraerasi baik sehingga sel-sel akar bisa melakukan respirasi. Akar berespirasi melalui rongga udara yang tercipta antarbutiran tanah, yang memungkinkan udara dari luar masuk menggantikan udara di dalam tanah.

Jika tanah memadat, akar tidak bisa memperoleh oksigen atau mengeluarkan udara sisa pernapasan – berupa karbon dioksida, hidrogen sulfida, sampai metana. Akumulasi gas-gas itu meningkatkan keasaman tanah. Akibatnya, ‘Pertumbuhan tanaman terganggu,’ kata Iswandi. Jadi, meski pekebun memberi pupuk dalam jumlah besar pun, tanaman tak akan mengambilnya sehingga pertumbuhan seperti stagnan.

Tukar kation

Menurut Dr IGP Suryadarma MS, pakar Ilmu Lingkungan dari Jurusan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta, peran bahan organik memang sangat vital. Semua bahan yang berasal dari makhluk hidup seperti serasah daun, kotoran makhluk hidup, dan limbah rumahtangga tergolong bahan organik. Ketika pekebun membenamkan ke tanah, bahan organik terurai menjadi zat-zat yang lebih sederhana karena bantuan mikroba seperti cendawan Streptomycin sp atau Verticillium sp.

Makhluk mungil itu mengubah gula menjadi alkohol, lalu asam. ‘Asam itu yang menimbulkan bau menguar,’ kata Ir Endang Dwi Siswani MT, pengajar di Jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta. Pembusukan yang terjadi bertahap menyisakan sebagian gula pada posisi terbuka sehingga mudah diambil makhluk yang lebih besar seperti semut, lalat, sampai kupu-kupu. Prinsipnya, tanah kaya bahan organik menjadi hunian makhluk hidup.

Selain itu bahan organik juga mencegah tanah padat. Pasalnya, aktivitas mikroba dan hewan memunculkan rongga sehingga aerasi tanah terjaga. Dampaknya bahan organik mempertahankan perbedaan muatan dan memudahkan akar menyerap nutrisi. ‘Kapasitas tukar kation tanah terjaga oleh bahan organik,’ kata Iswandi. Kapasitas tukar kation menggambarkan kemampuan suatu bahan untuk mengganti ikatan dengan ion yang berbeda muatan tapi berukuran hampir sama.

Contohnya penggantian ion aluminium – yang toksik bagi tanaman karena mampu memblokade jaringan akar – dengan magnesium yang berguna membentuk klorofil. Menurut Iswandi normalnya nilai kapasitas tukar kation tanah liat berkisar 20 – 30 miliekuivalen per 100 g tanah. Kehadiran bahan organik meningkatkan kapasitas itu sampai 200 – 300 miliekuivalen per 100 g tanah. Itulah sebabnya sifat granulasi menjadi lebih bagus karena tanah mampu mencengkeram unsur-unsur hara seperti mineral, nitrogen, atau fosfor.

Keruan saja unsur hara berlimpah sehingga tanah subur. Selain itu unsur-unsur toksik seperti besi, mangan, dan aluminium terbungkus rapat dengan ikatan kelat sehingga tidak terserap akar. Tak kalah penting, bahan organik mampu mengikat air sehingga tanah menjadi gembur. ‘Setiap gram bahan organik mampu menyerap 4 ml air,’ kata Iswandi. Namun, tidak sembarang bahan organik berkhasiat bagi tanah. ‘Syaratnya harus sudah terdekomposisi,’ tutur doktor bidang Mikrobiologi Tanah alumnus University of Ghent, Belgia itu.

Begitu pentingnya bahan organik terhadap kesuburan tanah sehingga di pasaran banyak produk yang menawarkan bahan organik sebagai pendongkrak kesuburan tanah. Sebut saja Ultratrend Biotech Indonesia, CV Bangkit Jaya, Jimmy & Co, PT Kalatham, atau Tropical Nursery. Salah satu pupuk hayati yang penggunaannya luas untuk beragam tanaman adalah feng shou produksi terbaru Tiens. Pupuk organik itu terdiri atas 8 mikroba yang mampu meningkatkan kesuburan lahan. Pada akhirnya, penggunaan pupuk cair itu meningkatkan produksi. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sardi Duryatmo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software