Bijak Investasi di Ladang Singkong

Filed in Perkebunan by on 02/10/2013
Singkong manggu banyak dimanfaatkan sebagai keripik.

Singkong manggu banyak dimanfaatkan sebagai keripik.

Ramai-ramai menanamkan modal di bisnis singkong. Laba bersih yang dijanjikan lebih dari 100% dalam 10 bulan.

Hakim Santosa di Malang, Jawa Timur, menyerahkan Rp50-juta untuk investasi singkong di lahan 2 ha. Ia tak perlu mengolah lahan, memupuk, atau membumbun. Singkat kata, Hakim tahu beres, karena semuanya ditangani oleh perusahaan yang menangani investasi itu.  Usai panen, panen terdekat pada Desember 2013, ia bakal memperoleh laba bersih menggiurkan 80% dari modal disetor. “Penanaman singkong hanya 10 bulan, tidak seperti tanaman kayu yang perlu minimal 5 tahun,” ujar Hakim.

Tiga tahun terakhir peluang pasar singkong memang cenderung meningkat. Industri olahan singkong—seperti keripik, tepung singkong atau mocaf (modified cassava flour), dan bioetanol—berkembang pesat. Menurut Dedi Suhendar, pemilik IndoagroCassava, pabriknya memerlukan 10 ton singkong setiap hari sebagai bahan baku tapioka. Padahal, di sekitar tempat Dedi terdapat  setidaknya dua pabrik berkapasitas hampir setara. Bukan hanya pasar domestik yang berkembang, pasar mancanegara pun berkilau.

Menurut Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), H Suharyo Husen BSc SE MBA, Korea Selatan membutuhkan 700.000 ton tepung singkong; Taiwan, 500.000 ton serat singkong per tahun. Sebuah industri  mocaf di Cina bahkan memerlukan 50.000 ton chip per bulan. Tingginya permintaan membuat harga singkong stabil pada kisaran Rp800—900 per kg. Kondisi itulah yang antara lain mendorong munculnya perusahaan-perusahaan investasi seperti AgroCassava Nusantara, MyCassava, Wahana Jaya Agro, dan Energi Karya Madani.

 

Mocaf, permintaan mencapai 1-juta ton per tahun.

Mocaf, permintaan mencapai 1-juta ton per tahun.

Tanpa repot

Hingga September 2013, lebih dari 1.000 pemodal menanamkan uang pada berbagai perusahaan investasi itu. Para investor bukan hanya warga negara Indonesia, tetapi juga dari negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam. Pendiri Koperasi AgroCassava Nusantara, Andi Bunyamin,  menawarkan paket investasi singkong Rp25-juta per ha. Menurut Andi Bunyamin biaya itu meliputi sewa lahan, penanaman, perawatan, dan pemanenan.

Menurut Andi, biaya lebih rendah karena ia menanam bibit produksi sendiri. Dengan demikian ia memangkas biaya hingga 12%. AgroCassava Nusantara membudidayakan singkong pangan jenis manggu berjarak tanam 1 m x 1 m sehingga populasi total 10.000 tanaman per ha. Setelah perawatan selama 10 bulan, Andi menjamin produktivitas tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu 60 ton per ha. Bila panen lebih besar daripada jumlah minimal, pemodal memperoleh tambahan sebanyak keuntungan penjualan dikalikan porsi pembagian keuntungan.

Andi mengatakan bahwa AgroCassava Nusantara membuka lahan lebih dari 300 ha di berbagai daerah seperti Sukabumi, Bogor, dan Bandarlampung. Agar investor yakin, perusahaan investasi memberi jaminan keamanan berbentuk sertifikat bermaterai yang membuktikan akad investasi. Berikutnya investor menyetor sejumlah uang usai menandatangani akad itu. Penanaman, perawatan, sampai pemanenan menjadi tanggung jawab perusahaan. “Pemodal bakal menerima keuntungan tanpa harus repot,’ ujar Andi.

Anggota staf bagian pemasaran MyCassava, Robert Tampubolon, menyatakan bahwa biaya investasi yang ditawarkan antara Rp36-juta—Rp40-juta per ha. Jika penanam modal berinvestasi hanya 1 ha, maka biaya Rp40-juta. Namun, jika investasi lebih dari 50 ha, maka biaya per ha hanya Rp36-juta. Menurut Robert komponen biaya terbesar untuk bibit dan pemupukan, mencapai 30% biaya total. Biaya perawatan per tanaman per tahun berkisar Rp3.000—Rp3.500.  “Investor tidak harus berinvestasi puluhan juta. Investasi Rp1-juta pun kami terima,” ujar Robert.

Andi Bunyamin, investasi singkong menguntungkan

Andi Bunyamin, investasi singkong menguntungkan

Namun, porsi pembagian hasilnya berbeda. Investor dengan modal kurang dari Rp40-juta hanya memperoleh 50% pembagian keuntungan. Sementara porsi pembagian hasil untuk investor yang menanamkan modal lebih besar sebanyak 70%. Sisanya menjadi bagian perusahaan sebagai pengganti biaya operasional. MyCassava menjanjikan produksi 120 ton per ha. “Kami menanam bibit singkong hibrida dari Taiwan yang potensi hasil tinggi, mencapai 200 ton per ha. Selain itu, kami juga meramu pupuk untuk memacu tanaman tumbuh lebih cepat,” ujar Robert.

Peneliti singkong dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, Kartika Noerwijati SP MSi, menuturkan, singkong jenis tertentu mampu menghasilkan umbi hingga 120 kg per ha. Namun, hasil sebanyak itu dalam jangka panjang akan menurunkan kesuburan tanah sehingga tanah perlu pemupukan tanah intensif setelah panen.

 

Intelejen pasar

Jika kebanyakan perusahaan menawarkan investasi jangka pendek, Masyarakat Singkong Indonesia justru membuat paket investasi jangka menengah selama 5 tahun. MSI menawarkan paket investasi selama 5 tahun. Biaya  investasi Rp32-juta untuk lahan 1 ha. Menurut Suharyo, pada tahun pertama tanaman dianggap belum menghasilkan karena masih tumpangsari dengan jagung. Oleh karena itu pembagian hasil baru diterima investor pada tahun kedua, yakni 70% untuk pemodal dan 30% untuk MSI.

Penjemuran irisan singkong sebagai bahan baku mocaf

Penjemuran irisan singkong sebagai bahan baku mocaf

Adapun pada tahun ketiga hingga kelima, pembagian hasil itu dibalik. “Pemodal mendapat 30%, sedangkan petani MSI 70%,”  kata Suharyo. “Tujuannya, untuk menyejahterakan petani karena investor sudah balik modal pada tahun kedua,” ujar Suharyo. Perusahaan itu menjanjikan produktivitas 100 ton per ha. Perusahaan investasi yang baru berdiri pada 2013, Wahana Jaya Agro (WJA), menawarkan harga Rp8.000 per bibit. Jika populasi sehektar 10.000 tanaman, berarti pemodal harus merogoh kocek Rp80-juta untuk berinvestasi. “Namun, kami berani memberi garansi keuntungan 75%,” ujar Benny Wisnu Jaya dari WJA.

Menurut ahli Manajemen Bisnis dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto, investasi singkong marak karena permintaan singkong melonjak tajam. Pada 2012, Indonesia mengimpor 2-juta ton singkong dari Thailand. Padahal, pada tahun yang sama produksi singkong Indonesia 23-juta—35-juta ton dari 1,2-juta lahan. Fenomena itu terjadi akibat tumbuhnya kelas menengah yang mencapai 45-juta orang. Namun, untuk berinvestasi masyarakat harus memiliki intelejen pasar atau kemampuan unuk mengetahui apa yang diinginkan pasar.

“Masyarakat yang ingin berinvestasi sebaiknya mengetahui calon pembeli singkong. Pasalnya, jika hanya menjual singkong segar khawatir harga singkong berfluktuasi atau jatuh saat panen raya. Jika sudah ada kontrak dengan industri pengolahan singkong harga bisa relatif stabil,” kata Arief. Selain itu calon investor harus memperhatikan angka return of investment (ROI). “Investasi dikatakan menarik jika nilai ROI lebih besar daripada suku bunga bank atau lebih besar dari 7,1%. Nilai ROI untuk investasi singkong idealnya di atas 15%,” kata Arief.

Tepung singkong bahan multiguna untuk membuat beragam penganan

Tepung singkong bahan multiguna untuk membuat beragam penganan

Investor juga harus memperhatikan skala ekonomi dari investasi singkong. Semakin luas lahan yang digarap, biaya rata-rata produksi semakin berkurang. Skala ekonomi juga berarti semakin banyak usaha yang dijalankan, maka semakin berkurang biaya rata-rata produksinya. Artinya, perusahaan investasi yang memiliki pabrik pengolahan chip atau mocaf lebih efisien dibanding yang hanya sekadar menjual umbi singkong. Yang terpenting, lihat sepak terjang perusahaan investasi.

Menurut Okah Andrian, investor singkong sejak 2 tahun lalu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mencemplungkan modal untuk investasi singkong. “Pertama, pastikan kebun benar-benar ada dan ditanami singkong,” ujar ayah dua anak itu. Peninjauan lokasi penting untuk mengetahui keamanan lahan serta kesuburan tanah. Selain itu, lihat jaminan hasil panen yang ditawarkan. Angka 120 ton/ha masih bisa diterima, lebih dari itu perlu curiga.

Risiko investasi di bidang pertanian tetap besar. Sebab, perubahan cuaca ekstrem, serangan hama dan penyakit, serta bencana alam dapat mengandaskan impian meraih laba. Simak pengalaman Andi Bunyamin,  pada Juni 2013, hampir separuh dari 3 ha lahan singkong dimakan babi. Hewan itu menggali tanah dan merusak umbi. Andrea Wicaksono, investor yang lahannya terserang babi, sampai nyaris stres. Beruntung biaya produksi masih tertutup sehingga modalnya kembali tetapi dengan keuntungan yang lebih kecil.

Perusahaan investasi yang baik menanam lebih dari luasan seharusnya untuk mengantisipasi rendahnya hasil. Jika terjadi sesuatu di luar kendali, perusahaan akan mengomunikasikan penyebab rendahnya produksi pada pemodal. Pasalnya, hingga saat ini belum ada perusahaan asuransi yang bisa menutupi biaya jika terjadi gagal panen. Padahal, biaya investasi harus dikembalikan 100% kepada para pemodal. Jadi, tidak boleh ada istilah pemodal merugi saat investasi singkong. Meski menggiurkan, investasi singkong mesti dibarengi kewaspadaan dan kehati-hatian agar tidak merugi. (Kartika Restu Susilo)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software