Bijak Durian

Filed in seputar agribisnis by on 02/04/2013 0 Comments

Berkhasiat bagi yang sehat dan mudarat bagi penderita hipertensi dan diabetesSelalu ada yang tewas tertimpa durian.  Untuk mencegah agar korban tidak terus berjatuhan, harus ditanam pohon durian yang pendek, berbuah lebat, dekat dengan tanah. Itulah tugas utama pembudidaya durian di Asia Tenggara sebagai pemasok durian ke seluruh dunia. Seruan itu dapat Anda temukan kalau masuk ke laman atau situs menyangkut durian.

 

Di Wonosobo, saya mengenal pensiunan petugas perpustakaan yang bisa mengirim ibunya naik haji, berkat sekali panen durian saja.  Di Ambon, ada seorang ibu cantik berseri dalam usia 85 tahun berkat senang menyantap buah durian. Penjelasannya sederhana. “Durian bikin cantik karena lemak tidak jenuh tunggal mono unsaturated fatty acid,” kata dokter Handrawan, seorang kritikus durian. Ditambahkan, “Tanpa kecukupan lemak yang menyehatkan, kulit akan kering. Kulit wajah yang indah itu agak lembap dan bercahaya. Di situ peran durian memposisikan manfaatnya!”

Manfaat & mudarat

Nah tentang peran durian di bidang ekonomi, lebih banyak contohnya. Di kawasan Gunungpati, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, seorang ibu duduk manis dengan tumpukan durian di tepi jalan. “Setiap akhir tahun saya memilih beberapa pohon durian yang mulai berbunga. Dengan modal Rp5-juta—Rp10-juta, kita borong beberapa pohon, kita awasi, dirawat sampai panen,” katanya. Perkiraan harga rata-rata per buah Rp10.000   setelah panen dijual antara Rp40.000—Rp60.000.

Kegiatan ekonomi berbasis durian boleh dikata merata di seluruh Sumatera, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Papua, seluruh Jawa, sebagian Bali dan Lombok. Cuma di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang sulit cari durian lokal. Kalau ada, biasanya datang dari luar, dengan harga mencapai Rp200.000 sebuah. Maka sudah jelas, raja buah bisa membuat ibu-ibu jadi cantik dan kaya.  Pertanyaannya, benarkah durian juga membuat manusia panjang umur?  Saya punya pengalaman sedih terkait ini. Seorang famili di Jakarta Utara, menelepon sambil menangis, ”Maaf Pak,  istri saya meninggal setelah makan durian.”

Aduh! Bagaimana bisa. “Pukul tiga sore pulang dari Rumahsakit Kemayoran. Di jalan melihat tukang durian minta dibelikan. Dengan senang hati kita belikan. Eh, habis makan malam yang ditutup dengan durian itu, dia kena serangan jantung. Kami larikan kembali ke rumahsakit dan meninggal pukul 8 malam.” Saya bergidik ketakutan. Kejam benar durian pada orang yang mengidap diabetes dan hipertensi. Peristiwa pada awal tahun itu membuat sanak-famili perlu bijak dan hati-hati.

Negeri durian

Meskipun begitu, durian terus maju dengan berbagai peran ekonomi, kesehatan, sosial politik, dan budaya. Festival Gunungan dengan 2013 buah durian diadakan meriah, di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.  Kita boleh berbangga bisa hidup senang dan membangun sebuah Republik Durian yang makmur sentosa.

“Jangan berebut, jangan korupsi, awas kolesterol. Jangan rakus, berbagi dengan yang lemah,” begitu nasihat pembawa acara di setiap pesta durian.  Saya ingat, Bung Karno beberapa kali mengirim durian Indonesia ke berbagai kepala negara, sampai untuk Kruschev di Moskow, Rusia. Sekarang, eksportir durian terbesar memang Thailand, yang banyak memasok ke Amerika Serikat. Namun, diplomasi durian pada awalnya dipelopori Indonesia, terutama ke Mesir, Timur Tengah, dan Eropa timur.  Jangan heran kalau penelitian mutakhir tentang durian justru dirilis dari Warsawa, Polandia.

Gus Dur—Presiden Abdulrahman Wahid almarhum, juga pendekar durian. Malam-malam dia menelepon Prof Emil Salim, minta agar lekas-lekas datang ke istana. Dengan tergopoh-gopoh ketua Tim Ekonomi kepresidenan membawa semua bahan laporan, dan bertanya-tanya, ”Ada apa malam-malam begini dipanggil?”

“Hallo Pak Emil, ini dia!  Kita pesta durian!” “Ondemande!” seru Emil Salim. Ternyata ia dipanggil mendadak bukan karena negara dalam gawat darurat atau krisis ekonomi akibat naiknya harga bawang, tapi karena istana dapat kiriman satu truk durian!  Mungkin dari Lampung, mungkin juga dari Jombang.

“Cepat panggil dokter,” pikir ekonom yang lahir dan dibesarkan dengan durian di Lahat, Sumatera Selatan itu.

Musim buah tahun ini saya dapat dua undangan pesta durian di Gunungpati, Ungaran, Jawa Tengah, bersama ibu pehobi durian yang sederhana tapi sukses itu. Sponsornya Paulus Tjahjono, penikmat durian petruk dengan rasa pahit. Ia datang dari Kelapagading, Jakarta, membawa saya ke sentra durian di Ungaran.

Jadi benarkah durian hanya membawa ancaman stroke dan kolesterol melonjak tinggi sampai bikin pingsan? Supaya semua ikut merasakan dan memikirkan, langsung saya tanyakan “Apa manfaat durian bagi kesehatan kita?”  Sekitar 30 teman menjawab pesan singkat saya dari seluruh penjuru tanahair. “Durian itu berfungsi sebagai penghangat, menyehatkan badan di tengah udara dingin,” kata budayawan Gayo, L.K. Ara yang menjawab dari jantung Nangroe Aceh Darussalam. Seorang tokoh sastra, Korrie Layun Rampan di Samarinda, Kalimantan Timur, menyatakan durian bagi masyarakat kita berfungsi seperti anggur, melancarkan peredaran darah.

“Musim durian kami antara Desember hingga Februari.  Yang paling disukai durian intu lingau, long iram, dan dempar.  Ada yang kecil bundar jatuh dari pohon yang sudah tua,”  tulis Korrie. “Durian kecil-kecil dengan nuansa pahit adalah yang nomor wahid,” tambah Suryo Prawiroatmodjo, pendekar lingkungan di lereng Gunung Penanggungan, Trawas, Jawa Timur.  Sementara seorang teman di Pulau Timor menandaskan, “Tidak usah survei, bawa saja durian langsung ke Nusa Tenggara Timur. Pasti disambut dengan bahagia.”

Durian runtuh

Sudah jelas, istilah paling didambakan semua orang adalah “mendapat durian runtuh”.  Hal itu tidak terkait langsung dengan tanaman maupun buah Durio zibethinus, tetapi dengan rezeki besar yang tidak disangka-sangka.  Bisa dapat rumah, mobil, naik gaji, atau kejutan lain yang menyamai nikmatnya durian, ciptaan Tuhan terlezat di bumi maupun di surga. Pejuang kerukunan di Ambon, Farsijana Risakotta, mengirim beberapa pesan panjang, mengisahkan pentingnya durian dalam menyehatkan anak-anak di Sebua, Maluku. ”Pada masa remaja, kita dilatih sabar menunggu durian jatuh,” katanya.

Pada musim durian, anak-anak didorong suka makan durian karena menyehatkan dan menambah energi. Maklum, durian mengandung tembaga, fosfor, dan besi        10 kali lebih banyak daripada pisang. Kadar vitamin B-kompleks dan mineralnya sangat tinggi, seratnya baik untuk pencernaan.

Penjelasannya, diberikan oleh Hanrina Isneningsih dari Yogyakarta. “Secangkir durian mengandung vitamin C yang dapat memenuhi kebutuhan harian sebanyak 80%. Vitamin itu sangat berperan dalam pembentukan kolagen yang menjaga kehalusan dan peremajaan kulit,” katanya. Durian tidak hanya melahirkan penggemar, tapi juga penghindar. Penyair dan dokter hewan Taufiq Ismail punya kenangan yang pahit.  “Pada semester terakhir ketika kuliah di Bogor, saya harus membawa teman yang mabuk durian ke rumahsakit.  Ia sangat menderita dan membuat saya menghindari durian sampai sekarang,” katanya.

Bukan hanya pada durian, pada rokok pun ia takut.  Belakangan, konon ada rumor sedang dirancang tanda larangan merokok sambil makan durian.  Kalau hal itu benar, para pelobi dan duta besar negeri durian harus waspada.  Jangan sampai muncul wacana bahwa telah terjalin persatuan antara penentang rokok dan yang antidurian. Yang paling bijak barangkali keterangan Dewi Turgarini, pembeli durian musiman dari Bandung.  “Maklum saja, semua durian harus didatangkan ke kota ini. Durian itu mengandung beragam vitamin yang bisa menonaktifkan sel kanker, menurunkan risiko jantung dan hipertensi dan katarak,” katanya.

Memang buah yang kaya vitamin juga berfungsi sebagai antioksidan yang bisa menangkal zat-zat radikal bebas.  Perkaranya, seperti digaris bawahi para uztad dan pendeta, porsinya jangan berlebihan. Pendeta terkenal, Natan Setiabudi berpesan, “Kontroversi sekitar durian bukan tanpa alasan ‘intrinsik’. Dalam segala sesuatu, kita harus ingat doa: Berilah makanan kami secukupnya hari ini.”  Uztad Zawawi Imron dari Sumenep, Madura menegaskan, “Kalau kita rakus dan menghabiskan terlalu banyak durian, pasti dihukum Tuhan.”***

 

Powered by WishList Member - Membership Software