Bijak Agro

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 23/12/2019

Bulan Desember 2019 ini genap 50 tahun Majalah Trubus. Bulan sebelumnya, genap 18 tahun saya ikut mengisi kolom Seputar Agribisnis. Bermula dari masalah Ruminansia (edisi November 2001) sampai Melon Cerdas November 2019. Mengapa kita perlu setia? Begitu pentingkah literasi pertanian? Setiap bangsa, punya cara untuk bijak bertani. Amerika Serikat punya Almanak Petani Tua (Old Farmer’s Almanac) yang terbit sejak 1792– lebih dari dua abad silam.

Eka Budianta

Namun, yang muncul belakangan juga banyak di antaranya Farm Journal, Agri News, Dairy Today, dan belasan lainnya yang sangat bergengsi di dunia pertanian. Bisa triwulan, bulanan, pekanan, maupun dua Jumatan semisal Farm & Ranch Guide dengan oplah stabil 38.000 eksemplar. Uniknya masyarakat tetap setia dengan Almanak Petani Tua. Mengapa almanak tahunan itu laris-manis sampai sekarang? Karena membantu banyak orang.

Tradisi

Semua ingin bijak bertani dan beternak. Kita pun bisa membeli secara daring seharga Rp185.000 per eksemplar. Almanak itu dipasarkan dalam bahasa Inggris ke seluruh muka bumi. Begitu juga kalau kita membaca Trubus. Boleh melanggan, edisi daring atau online maupun beli eceran. Cita-citanya sama: menumbuhkembangkan bijak bertani. Semua bangsa ingin hidup sehat, cerdas mengolah lahan, merawat dan memanfaatkan lingkungan.

Itulah cara melanjutkan sadar bertani berkelanjutan. Tentu saja bukan hanya pasokan informasi. Permodalan untuk pertanian, peternakan, dan perikanan juga sangat penting. Oleh karena itu, ada koperasi tani dan nelayan. Tiongkok punya Agricultural Bank of China yang terkenal paling getol mendidik petaninya. Jadi, permodalan memang penting. Namun, yang lebih penting adalah program-program pengembangan sumber daya manusia.

Satu di antara yang paling rutin diadakan adalah pelatihan agribisnis, agrowisata ke sentra-sentra pertanian dunia, pameran, baik ekspedisi maupun karnaval pertanian. Di dalamnya kita menyaksikan lomba dan berbagai macam cara memacu cinta pada pertanian, perkebunan, peternakan. Belakangan ini ekshibisi dan kompetisi pertanian boleh dikata mulai merata di tingkat kabupaten dan kota.

Indonesia punya Trubus, sebagaimana India punya Agriculture Today. Meskipun berfokus pada masalah hari ini, tradisi masa lalu tetap diutamakan. Kearifan lokal adalah kekayaan sejati. Tradisi adalah kekayaan kita yang sebenarnya. Adapun modern adalah keadaan yang ingin kita miliki. Di Indonesia Trubus berarti tunas baru yang selalu tumbuh. Tradisi apakah yang telah diciptakan selama 50 tahun terbit rutin setiap bulan?

Yang paling menonjol adalah tradisi untuk selalu mencari, menemukan, dan melaksanakan inovasi. Trubus mendorong selalu ditemukan cara-cara baru dalam bertani, berkebun, beternak. Boleh hobi maupun profesi. Oleh karena itu, setiap bulan kita selalu disuguhi kabar baru. Ada cara bagus merawat burung, budidaya udang, penggemukan sapi, varietas unggul tanaman hias, dan seterusnya.

Selama 18 tahun mengisi rubrik Seputar Agribisnis, saya juga terpacu untuk mendapat cara pandang baru. Pertanian–agrikultur–adalah ibu peradaban. Dari agrikultur lahir bermacam kultur. Tidak mengherankan kalau agrikultur melahirkan agribisnis, agroindustri, dan semua yang terkait mulai dari persiapan lahan sampai pemanfaatan hasil panen. Dalam hal ini Trubus memilih peran sebagai agromedia, perantara informasi dunia pertanian.

Majalah Trubus melaporkan inovasi pertanian seperti hidroponik bertingkat di luar ruangan.

Maka pekerjaannya mencakup agrokomunikasi, menyampaikan pesan, menjembatani semua pemangku pertanian. Mulai dari agroteknologi sampai agroastronomi, bahasa dan filsafat pertanian. Maka jangan heran kalau sebenarnya Indonesia perlu banyak Trubus untuk berbagai bidang. Kita memerlukan agrofotografi yang andal serta berbagai ekspresi dan produk seni pertanian.

Tantangan

Di sinilah tantangan bagi agromilenial terbuka lebar. Tradisi yang bertumpu pada inovasi selalu membuka lahan-lahan baru yang tidak terhingga. Selama ini kita memilih fokus pada komoditas untuk memudahkan penyebaran informasi,. Kita didorong untuk memperhatikan satu per satu produk dengan bijak dan saksama. Bisa durian, ikan nila, melon, atau papaya. Slamet Suseno, pemimpin redaksi dan penulis Trubus selama dua dasa warsa pertama menyajikan kisah aneka produk dengan sangat piawai.

Namun, menangani masalah tentu tidak cukup pada komoditasnya. Kita juga rindu pembahasan terkait pengolahan dan pemanfaatan komoditas. Itu yang kita baca selama dasawarsa ketiga dan keempat, ketika Floribertus Rahardi memimpin pelaksanaan sehari-hari majalah ini. Sekarang, memasuki dasawarsa keenam, Dr. Sardi Duryatmo menghadapi perkembangan bisnis yang berbeda.

Diseminasi informasi pertanian, seperti halnya informasi bidang lain, mengalami disrupsi dengan munculnya media sosial. Media cetak dihadapkan dengan teknologi baru yang bersifat daring, maya, dan super cepat. Dalam berbagai tahapan ini, Trubus bisa berdiri berkat konsistensi pemimpin umum dan pendirinya. Mereka adalah orang-orang yang patut didukung, dihormati karena kesetiaan dan integritasnya.

Kita perlu menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya pada Koeswandi dan teristimewa: Bambang Ismawan untuk merayakan 50 tahun majalah ini. Berkat keuletan mereka di lapangan dan di dalam konseptual, kita bisa membaca Trubus terus-menerus setiap bulan selama 50 tahun. Semoga ia tetap hidup untuk menyebarkan bijak pertanian pada masa-masa yang akan datang. Selamat Ulang Tahun! Salam bahagia untuk pengelola, kontributor, semua pendukung, dan pembacanya. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software