Bidara Musuh Malaria

Filed in Obat tradisional by on 05/10/2010 0 Comments

Demikian kepercayaan masyarakat Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat, (NTB) pada zaman dulu. Songga alias bidara pahit Strychnos lucida syn. S. ligustrina mencegah penyakit. Ir Rachman Effendi MSc, peneliti di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan, Bogor, mengatakan masyarakat NTB juga memanfaatkan kayu songga untuk mengobati malaria dan menambah stamina pria.

Menurut drh Zuraida MSi, peneliti songga di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Bogor, mereka memanfaatkan kayu songga menjadi gelas. Tujuannya agar mereka dapat menggunakan kayu songga berulang-ulang hingga sakit sembuh. Mereka kemudian menuang air hangat ke dalam gelas itu hingga air terasa pahit. Penderita malaria lantas meminum air itu sebagai obat. Cara lain dengan meminum teh serbuk kayu songga.

Teruji

Penduduk Pulau Timor juga memanfaatkan kayu songga sebagai obat malaria. Atas dasar itu pula Dr Aty Widyawaruyanti Apt MSi dan tim dari Fakultas Farmasi Univeritas Airlangga, Surabaya, melakukan uji khasiat ekstrak air kayu songga secara in vivo pada mencit yang terinfeksi Plasmodium berghei – parasit penyebab malaria pada mamalia itu.

Widyawaruyanti menggunakan ekstrak air kayu songga karena selama ini pemanfaatan secara empiris dengan perebusan kayu dalam air. ‘Selain itu kami juga melihat adanya kandungan bahan aktif berupa senyawa alkaloid strichnin dan brucin pada ekstrak air kayu itu,’ ujar alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga itu.

Ia membuat ekstrak dengan membersihkan kayu dari kulit batang, menyerut, dan membentuk serbuk. Serbuk berbobot 20 gram itulah yang ia ekstraksi dalam 200 ml air. Caranya, ia merebus serbuk kayu selama 10 menit, lalu mendinginkannya. Setelah disaring dan dikeringkan, hasilnya 1,33 gram ekstrak kering.

Untuk mendapatkan ekstrak kering, bahan disaring dengan corong buchner, kemudian dilakukan freeze drying selama 12 – 14 jam. Hasil ekstrak sebesar 1,33 gram. Uji aktivitas antimalaria dilakukan secara in vivo. Widyawaruyanti memberikan ekstrak itu pada mencit yang terinfeksi P. berghei. Frekuensi sekali sehari selama 4 hari.

Setelah 4 hari, ia mengambil hapusan darah tipis dari bagian ekor dan menghitung eritrosit (sel darah merah) dengan mikroskop perbesaran 1.000 kali. Lalu, ia mengamati tingkat parasitemia atau jumlah sel darah merah yang terinfeksi parasit. Tingkatan itu dibandingkan dengan kelompok yang tidak diobati dan dihitung hambatannya. Sebagai kontrol positif digunakan klorokuin difosfat – bahan obat antimalaria komersial. Untuk kontrol negatif mencit hanya diberi larutan pembawa yaitu CMC Na 0,5%.

Hasil penelitian itu menunjukkan ED50 alias dosis efektif yang dapat menghambat 50% pertumbuhan parasit adalah 0,45 mg. Artinya, pada dosis 0,45 mg/kg bobot tubuh ekstrak itu dapat menghambat 50% pertumbuhan P. berghei. Dengan kata lain, ekstrak air kayu songga dapat menghambat pertumbuhan parasit penyebab malaria pada mencit itu.

Strichnin yang terkandung dalam ekstrak kayu songga memiliki aktivitas antiplasmodium sehingga bisa menghambat pertumbuhan parasit itu dalam sel darah merah. Dalam dosis kecil, senyawa itu juga memiliki peran sebagai tonik yaitu merangsang saraf, dan tonik lambung yang membantu mengatasi sakit mag.

Toksik

Songga bukan hanya dikenal sebagai obat tradisional untuk malaria. Khasiat lain tanaman anggota famili Loganiaceae itu antara lain sebagai obat gatal-gatal, patah tulang, afrodisiak, antihipertensi, rematik, antidiabetes, hingga antikanker. Khasiat antimalaria dan hipoglikemik (antidiabetes) sudah terbukti secara ilmiah.

Meski berkhasiat obat, hindari konsumsi ekstrak songga berlebihan lantaran bisa berdampak negatif. ‘Efek jangka pendek konsumsi songga berlebihan antara lain jantung berdebar-debar dan pupil mata melebar,’ ujar Zuraida. Selain itu, juga bisa bersifat toksik dan konsumsi berlebih dalam jangka panjang songga mengakibatkan kematian.

Musababnya, strichnin bersifat racun terhadap sistem saraf pusat jika terakumulasi di dalam tubuh. Keracunan senyawa itu mengakibatkan seluruh otot kejang, dan muka seperti menyeringai. Kejang juga terjadi pada daerah perut sehingga bisa menyebabkan muntah. Oleh sebab itu jika tidak ditangani, keracunan senyawa itu bisa menyebabkan kematian. Namun, sejauh ini belum diteliti dosis pasti yang bisa mengakibatkan keracunan dan kematian.

Songga tersebar di Indonesia. Masyarakat Jawa menyebutnya kayu ular, dara laut, atau dara putih; Madura, bidara gunong; Bugis, aju mapai; Roti, hau feta; Timor, maba putih, elu atau ai baku moruk. Kayu yang kuning pucat dan keras itu berkhasiat mengatasi malaria. (Tri Susanti)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software