Besarnya Boleh Diadu

Filed in Buah by on 01/02/2009 0 Comments

 

Begitu datang, mahathir langsung ditimbang. Bobotnya mencapai 2,75 kg. Daging buah tebal berwarna kuning. Sensasi manis sedikit asam menyerbu rongga mulut waktu daging yang juicy disantap. Seratnya halus, jadi tak perlu takut terselip di gigi.

Sosok dan rasa mahathir itu seperti yang diceritakan Lutfi Bansir, penangkar buah kolega Tryman, yang mendapatkan Mangifera indica itu dari Malaysia. Pantas bila pria asal Purwodadi itu segera memesan bibit. Kini ada 5 bibit berukuran 15 cm di kediamannya. Tiga tahun mendatang Tryman berharap menuai mahathir dari halaman rumah.

Mengkal enak

Mangga bersosok jumbo memang punya daya magnet. Buktinya terlihat di pameran Seminar Nasional Perlindungan Varietas Tanaman di Departemen Pertanian. Pengunjung tumplek di stan Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Mereka takjub melihat mangga seukuran kelapa. Bobotnya 1 kg per buah.

Pujian pun terlontar waktu mereka mencicip daging berwarna putih yang tebalnya melebihi kue brownies kukus yang banyak dijual di Bandung – biji tipis. Rasa buah manis meski mengkal. Mangga alor memang tergolong manenda alias mangga panen muda. Buah enak dinikmati ketika mengkal. Buah matang tetap manis, tapi terlalu becek dan berserat sehingga lebih cocok dijus atau dibuat sirup. Manenda lain yang lebih dulu populer ialah khioe sawoi dan khiojay dari Th ailand, serta manalagi (Indonesia).

Sosok raksasa membuat warga di sana menyebutnya mangga kelapa. Uniknya, keunggulan mangga alor hanya ditemukan di Kecamatan Alor Barat Laut – meski juga ditanam di Alor Barat Daya, Teluk Mutiara, dan Kabola. Di luar Alor Barat Laut rasanya menjadi sedikit masam dan ukuran lebih kecil. Menurut Johanis Francis dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Alor, Kecamatan Alor Barat Laut bertanah andosol dan inseptisol yang berbahan induk volkan. Tekstur tanah debu berpasir atau pasir berdebu yang dominan di kedua tanah itu paling baik untuk pertumbuhan mangga.

Penduduk memiliki 3 – 5 pohon di pekarangan. Ada juga yang menanam 4 – 10 pohon di kebun, tapi tidak dirawat intensif. Terkadang pohon hanya dijadikan rambatan lada. Pohon berumur 10 tahun menghasilkan 120 kg/ pohon.

Truk pengangkut

Karena buahnya yang raksasa, dr Kerry R Kartosen SpOG, juga mengoleksi pedro. Mangga bulat berbobot maksimal 1,3 kg itu aslinya dari Meksiko. Kulitnya memikat dengan semburat merah di pangkal. Satu dompol bisa menggendong 7 buah hingga rantingnya kerap patah karena tak kuat menopang buah.

Di tanah air hanya 3 orang yang punya. Pantas Kerry rela menggali sendiri tanaman umur 10 tahun di kebun kolega di Surabaya. Lalu dengan menyewa truk, tanaman berlingkar batang 40 cm itu diboyong ke kediaman di Sidoarjo.

Kini setiap musim sang dokter memanen 30 – 75 buah. Buahnya sangat juicy. Begitu daging yang jingga dibelah, air langsung bercucuran. Seratnya banyak mirip kweni. Rasanya pun sama: masam, tapi menyegarkan. ‘Rasa yang bagi orang luar (negeri, red) excellent!’ tutur Kerry seraya mengacungkan jempol.

Dari Thailand

Di Bogor, Ricky Hadimulya, mendatangkan mangga jumbo dari Thailand. Namanya sama dengan mangga asal negeri Siam yang lebih dulu popular, nam dok mai. Bedanya di belakang pendatang baru itu ditambah kata man yang berarti besar. Sosoknya memang jauh lebih besar ketimbang nam dok mai biasa yang seukuran arumanis. Bobot nam dok mai man mencapai 1,2 kg/buah.

Sayang daging buahnya berair dan rasanya agak masam. ‘Mungkin karena ditanam di Bogor yang bercurah hujan tinggi sehingga becek,’ ujar penangkar yang pernah magang di nurseri di negeri Paman Sam itu. Makanya nam dok mai man kini dicoba ditanam di Karawang yang relatif lebih kering.

Dari negara Gajah Putih ada pula cingnangwah. Mangga berbobot hingga 950 g itu manenda juga: manis dan renyah meski belum matang benar. Saat matang daging buah jingga. Rasanya bercampur masam, tetapi lebih manis ketimbang pedro. (Imam Wiguna/Peliput: Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software