Besar Berkat Koi

Filed in Info Khusus, Majalah by on 17/10/2019

Koi di ruang pamer milik Sugiarto berkualitas unggul tangkaran penangkar koi di Jepang, Manabu Ogata.

 

Hobi memelihara ikan hias mengantarkan Sugiarto Boediono membidani kelahirkan ekshibisi berskala internasional.

Tiga tahun terakhir para penggemar ikan hias menyaksikan Nusantara Akuatica (Nusatic), ekshibisi ikan hias terbesar di Indonesia yang berlangsung di Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan, Banten. Pehobi bisa menemukan beragam ikan hias pada pameran tahunan sejak 2016 itu. Salah satu pemrakarsanya adalah pehobi koi di Jakarta, Sugiarto Boediono.

Sugiarto Boediono, pembaca Trubus sejak tahun 1980.

Menurut alumnus Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer itu embrio Nusatic adalah Ogata Koi Festival di Surabaya, Jawa Timur, pada 2011. Perhelatan itu rutin diselenggarakan setiap tahun hingga 2014. Setahun kemudian banyak komunitas ikan hias bergabung pada perhelatan itu. Oleh karena itu, nama acara berubah menjadi Jakarta Ornamental Fish Festival. Para pencinta ikan hias di tanah air sepakat untuk membuat pameran berskala internasional, yakni Nusatic.

Hobi ikan

Para penggemar ikan hias mendaulat Sugiarto sebagai ketua panitia Nusatic. Acara sukses, hingga kini para pencinta ikan hias tanah air menanti Nusatic. Acara makin meriah setiap tahun. Pada 2017 dan 2018 misalnya, pejabat setingkat menteri kerap menghadiri acara. Menurut Sugiarto sukses menyelenggarakan festival klangenan skala internasional karena memang memiliki hobi memelihara ikan.

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 54 tahun silam itu menyenangi ikan sejak kecil. “Rumah di Semarang memiliki luas hingga 2.000 meter persegi dan terdapat kolam ikan, sehingga memungkinkan memelihara aneka jenis klangenan,” kenangnya. Beragam jenis ikan hias favortinya dulu yakni ikan mas jumbo dan cupang alam. Pada 1977 Sugiarto pindah ke Jakarta ikut bersama sang paman.

“Hobi memelihara klangenan sempat terhenti, karena rumah di Jakarta lebih sempit,” katanya. Salah satu penyaluran hobi dengan membaca Majalah Trubus. Sejak 1980-an keluarga Sugiarto berlangganan Majalah Trubus karena tertarik dengan tanaman. Majalah pertanian yang terbit perdana pada 1969 itu mengulas beragam ikan hias seperti koi, cupang, dan lou han. Menurut Sugiarto Trubus adalah majalah hobi pertanian nomor satu di tanah air.

Media yang kini genap berumur 50 tahun itu kerap menjadi acuan para pehobi dan pebisnis pertanian karena menyajikan peluang bisnis dan mengikuti tren. Harapan Sugiarto, Majalah Trubus kembali aktif menyelenggarakan pemeran rutin setiap tahun. Tujuannya mempromosikan komoditas pertanian Indonesia ke mata dunia. Seperti halnya ikan hias dan pameran Nusatic.

Pada 1995 kali pertama Sugiarto mengenal koi. Setelah menikah dan punya rumah sendiri Sugiarto mengisi kolam di rumah berukuran 1—2 meter dengan koi. Beberapa kali ikan mati karena belum memahami filter yang cocok untuk koi. Setelah mengerti perawatan, Sugiarto makin gandrung ikan keluarga karper-karperan itu. Total jumlahnya mencapai 50 koi yang hidup di bak fiber.

Populasi ikan makin banyak, sehingga pada 1999 mendirikan Sunter Koi. “Setelah mendirikan Sunter Koi, barulah berani mencoba beriklan di media massa,” kata Sugiarto yang kerap memasang iklan di Trubus. Responnya cukup baik. Namun, keuntungannya cukup untuk membiayai pemeliharaan koi. “Sedikit laba yang diperoleh untuk beli koi jenis baru,” kata Sugiarto yang pernah berbisnis pupuk cair pada 1990. “Pupuk cair itu sempat ekspor ke Taiwan meski tidak dalam jumlah besar,” kata Sugiarto.

Dimulai hobi sejak tahun 1995 kini mengelola 6 ruang pamer koi di beberapa kota besar di tanah air.

Internasional

Sugiarto juga mengikuti kontes ikan koi di Bandung, Jawa Barat, pada 2000. Koi peliharaannya menang mesti belum meraih grand champion. Saat yang sama pula ada seminar dari Jepang mengenai kriteria penilaian koi unggul. “Saat tes saya salah satu peserta yang tepat menialai koki unggul, padahal belum tahun kriteria penilaian koi,” katanya. Itu membuat Sugiarto makin percaya diri memelihara koi.

Pada 2001 Sugiarto berkenalan dengan kolega di Bali. Sugi tidak punya modal. Namun, memiliki pengalaman mengenai koi. Akhirnya mereka sepakat berkongsi untuk mengimpor koi berkualitas unggul. Tujuannya sebagai penyegaran genetika indukan koi di Indonesia. Sugiarto juga mulai aktif Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI). Tahun itu masa kelam peternak koi akibat Koi Herves Virus (KHV).

Selama 2 tahun pada 2003—2004 total 6 klub anggota APKI vakum dan jarang melangsungkan kontes. Sugiarto terpiilih menjadi ketua APKI pada 2005. Tahun yang sama pula mendapat mandat dari koleganya, Darmawan, melanjutkan Jakarta Koi Center dengan lisensi impor koi tangkaran Manabu Ogata. Diawali dengan melanjutkan 100 ekor koi dikombinasikan dengan indukan di Sunter Koi.

Meskipun sempat keterbatasan modal di awal mulai mengembangkan koi, bermodal kecintaan dan tekun bisnis justru berkembang. Kini ada 6 ruang pamer koi di 6 titik, di beberapa kota besar seperti Jakarta, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Kota Bandung (Jawa Barat), Kota Surakarta (Jawa Tengah), dan Kota Surabaya (Jawa Timur). Semua berlabel Ogata. APKI pun kini makin besar sudah ada 34 klub koi di berbagai kota besar di Indonesia berpartisipasi. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software