Besar Berkat Bibit

Filed in Majalah, Profil by on 05/04/2016

Penyedia lebih 50 jenis bibit tanaman buah.

Eko Tri Sulistyo rintis bisnis bibit sejak masih pelajar.

Eko Tri Sulistyo rintis bisnis bibit sejak masih pelajar.

Eko Tri Sulistyo masih belia ketika coba-coba membibitkan sengon. Usianya masih 16 tahun. Ia membenihkan sengon Paraserianthes falcataria. Saat itu ia memajang bibit sengon di halaman, menumpang di lapak ayahnya berdagang bibit tanaman buah. Sukses membibitkan tanaman anggota famili Fabaceae itu, ia mencoba mengembangkan bibit rambutan. Ketebetulan di halaman rumahnya tumbuh beberapa pohon rambutan jenis lebak dan rapiah.

Kelebihan rambutan itu bercitarasa manis, daging tebal, dan ngelotok atau daging buah mudah dipisahkan dari biji. Eko mengokulasi bibit dengan memanfaatkan rambutan itu sebagai batang atas. Ia belajar memperbanyak tanaman dari ayahnya. Konsumen pun meminati bibit produksinya. Buktinya semua produksinya mencapai puluhan bibit per bulan habis terjual. Sejak itu, dialah yang memproduksi bibit untuk dijual ayahnya.

Beragam bibit

Lebih 50 varietas disediakan bagi pedagang bibit.

Lebih 50 varietas disediakan bagi pedagang bibit.

Eko, penangkar bibit tanaman buah di Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, itu melipatgandakan volume produksinya. Dari bibit rambutan itu, Eko lalu merambah ke jenis-jenis bibit buah lain seperti mangga, avokad, durian, lengkeng, nangka, dan jambu air yang laku di pasaran. Ia pun berinovasi dengan menanam bibit di polibag baru kemudian disambung varietas baru. Semula ia menanam bibit di tanah sehingga sulit menggali, terutama pada musim panas. Dampaknya banyak bibit mati. Usaha pembibitan tanaman buah itu kian berkembang.

Kini Eko mengelola bibit lebih 30 jenis tanaman buah setara 70-an varietas di atas lahan 6 hektar. Setiap jengkal lahan itu penuh bibit. Ia melengkapi setiap jenis tanaman dengan beragam varietas. Untuk bibit mangga, misalnya, ia mengoleksi lebih 50 varietas, 20 di antaranya kulit merah. Adapun jambu air terdiri atas 20 varietas dengan 3 varietas berukuran sangat jumbo, dan lengkeng (10 varietas).

Eko mengatakan permintaan bibit terus membubung. Kini rata-rata ia memenuhi permintaan puluhan ribu bibit per bulan. Konsumen banyak meminta bibit jambu air madu deli hijau, jambu air kusumah merah, srikaya new varietas, mangga kiojay, dan sawo jumbo. Itulah lima besar bibit yang diminta konsumen pada 2015. Anak ke-2 dari 3 bersaudara itu mengatakan konsumen bibitnya para pedagang dari berbagai kota di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.

Mangga mahatir, salah satu percobaan Eko, berhasil berbuah lebat.

Mangga mahatir, salah satu percobaan Eko, berhasil berbuah lebat.

Ada pedagang skala besar yang membeli per truk kapasitas 6.000 bibit aneka jenis, pedagang menengah dengan 500—600 tanaman, hingga pedagang keliling dengan sepeda motor. Mereka menjualnya dari rumah ke rumah. Adapun pedagang besar menjual lagi bibit produksi Eko ke pedagang lain, hingga keluar pulau.
Selain itu ia juga membidik pehobi rumah tangga. “Kita membidik konsumen akhir yaitu pehobi rumah tangga yang menanam di halaman,” kata Eko. Menurut Eko pasar untuk pehobi itu masih besar. Buktinya, penjualan pada 2015 tetap melebihi tahun-tahun sebelumnya.

 

Strategi bisnis
Salah satu strategi bisnis bibit adalah selektif memilih varietas. Ia hanya memasarkan bibit tanaman buah unggul yang permintaannya tinggi. Setelah melalui proses seleksi dan pengamatan, barulah ia memperbanyak sebuah varietas, terutama jenis dengan permintaan paling banyak. Volume tanaman pun harus mencapai jumlah tertentu agar siap jual. Ia memutuskan untuk memperbanyak hingga 1.000—3.000 bibit per varietas.

Eko Tri Sulistyo (kiri) dan Sahid Subhan 2 bersaudara kelola UD Lana Usaha.

Eko Tri Sulistyo (kiri) dan Sahid Subhan 2 bersaudara kelola UD Lana Usaha.

Tujuannya agar kesinambungan penjualan terjaga. Selain itu ia juga tidak tergesa-gesa menjual bibit varietas baru meski jumlahnya telah mencapai ratusan. Ketika lengkeng varietas rubi naik daun, harganya fantastis yakni Rp5-juta per bibit setinggi 60—70 cm. Penangkar lain berlomba menjual secepatnya walau hasil perbanyakannya baru belasan tanaman.

Eko memilih untuk tetap menahan dan terus terus memperbanyak bibit. Ia sama sekali tidak khawatir harga jual lengkeng asal Vietnam itu jatuh. “Kalau harga sudah turun Rp250.000—Rp500.000 per bibit, tapi saya sudah punya 1.000—2.000 bibit. Hasilnya tetap sama kan?” ungkap ayah 2 anak itu. Itulah sebabnya Eko menjual bibit setelah harga jual di pasaran stabil atau relatif terjangkau masyarakat.

Eko yang mengibarkan bendera UD Lana Usaha itu mempekerjakan puluhan pekerja harian. Pada pukul 06.45 semua pekerja di UD Lana Usaha siap dengan segala perlengkapan berkebun. Ada yang membawa cangkul, golok, gunting, dan pisau kecil untuk okulasi. Mereka terbagi dalam 5 kelompok, yakni kelompok penyiram, penanam, pemasar, keamanan, dan keuangan.

Adopsi dari Korea

Permintaan bibit durian tidak pernah lesu.

Permintaan bibit durian tidak pernah lesu.

Sebanyak 18 pekerja bagian penyiraman menuju ke sebuah embung kecil seluas sekitar 300 m². Mereka membuka kran sehingga air keluar menggenangi ladang dan bedengan selama 20—30 menit. Mereka pun menyemprot tanaman yang jauh dari embung dengan 8 buah mesin pompa. Setelah penyiraman selesai, pekerja yang semuanya laki-laki itu memupuk atau menyemprotkan pestisida.

Pekerja di bagian penanaman mencampur media dan penanaman. Setelah tercampur, bagian pengantar segera mengantar media ke area yang akan ditanami. Di situ telah menunggu seorang pekerja yang akan menanam ratusan bibit yang tersedia, atau mengganti media atau wadah tanaman. Media berupa sekam, tanah, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1/5, lalu pekerja menambahkan kapur dolomit dan furadan.

Pada pukul 09.00 semua pekerja kembali ke kantor untuk sarapan pagi bersama. Pengunjung atau pembeli, disilakan melihat-lihat tanaman sambil menunggu karyawan selesai makan pagi. Pada pukul 09.30—13.30, semua karyawan kembali bekerja. Semua kegiatan kerja dan istirahat berlangsung pada jam tertentu. Mereka tidak diperkenalkan beraktivitas di luar jam yang telah ditetapkan, termasuk jam pulang, yaitu pukul 15.30.

Jika waktu pulang tiba, mereka harus menghentikan semua kegiatan. Pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan oleh pekerja berikutnya. Namun, mereka dibolehkan untuk menambah jam kerja dengan mendapat upah lembur. Dengan sistem kerja seperti itu, UD Lana Usaha, yang merupakan perusahaan keluarga, memproduksi dan merawat ratusan ribu bibit per tahun. Bibit yang tidak terjual, kembali dirawat bersama produksi baru. Sehingga jumlah tanaman yang dirawat semuanya lebih satu juta bibit per tahun.

Konsumen menggemari buah jambu air madu deli hijau. Permintaan bibit pun sangat besar pada 2015.

Konsumen menggemari buah jambu air madu deli hijau. Permintaan bibit pun sangat besar pada 2015.

Eko Tri Sulistyo menerapkan sistem kerja ala Korea Selatan. Ia memang pernah menjadi tenaga kerja di di Negeri Gingseng itu pada 2001—2013. Jebolan Universitas Mercu Buana Yogyakarta itu sempat bekerja sebagai buruh di beberapa perusahaan telepon genggam. Selain itu ia pun melakukan pekerjaan paruh waktu pada hari libur, dengan ikut panen buah pir. Dari sanalah, Eko mengadopsi kedisiplinan bekerja.

Pria 42 tahun itu kemudian menerapkan sistem ala Korea itu di perusahaannya berupa jam kerja ketat untuk pekerja kebun. Ilmu lain diterapkan adalah pengelolaan keuangan. Sebagai perusahaan keluarga, semua masalah keuangan harus dilaporkan, mencakup harta kekayaan serta pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Membangun rumah dan membeli kendaraan pun harus dilaporkan ke perusahaan.

Bahkan bila mempunyai kelebihan dana, diharuskan menyimpan di perusahaan. Kini ia mengelola perusahaan keluarga bersama Sahid Subhan, yang menggantikan Agus Yahya, kakak yang wafat 6 tahun silam. Ayahnya membuka usaha pembibitan di halaman rumah pada 1993. Setelah ayahnya wafat, Agus Yahya, anak tertua, melanjutkan usaha itu bersama Eko, keduanya menangani perusahaan keluarga itu setelah pulang dari Korea Selatan pada 2003. (Syah Angkasa)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software