Bermula dari Kamar Kos

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 10/10/2019

Tujuh varian rasa Hakko Kombucha.

 

Anak muda berbisnis minuman kesehatan kombucha.

Kamar kos Eric Prasetya tak seberapa luas, hanya sekitar 12 m². Di kamar sempit itulah Eric membuat kombucha atau teh fermentasi. Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor itu berkongsi dengan dua sejawatnya, Ignatia Herti Ranthy Ully dan Aldrian Kuswandi. Mereka bertiga mahasiswa di fakultas yang sama.

Ignatia Herti Ranthy Ully, S.T.P, CEO Hakko Kombucha.

Panen perdana pada Mei 2016 setelah fermentasi 7 hari. Mereka hanya membagi-bagikan hasil panen kepada rekan mahasiswa dan warga dekat kos-kosan secara gratis. Setelah mencicipinya, tanggapan mereka positif. Beberapa orang kerap menagih untuk merasakan kembali kombucha buatan Eric dan Rian. Eric mencium peluang bisnis kemudian serius menekuni produksi kombucha.

Produksi tumbuh

Bandung menjadi pilihan Herti dan kawan-kawan untuk mendirikan tempat produksi yang lebih layak. Herti mengatakan, Hakko Kombucha sudah lolos pemeriksaan sarana bangunan (PSB). Rumah produksi Hakko Kombucha berukuran 6 m x 6 m. Hakko hanya memanfaatkan bahan-bahan alami dan tanpa zat aditif, yakni teh, gula, scoby atau bibit, dan bahan perasa alami seperti potongan buah, bunga, dan rempah.

Herti mengatakan, Hakko hanya memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti teh organik dari perkebunan di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Pasokan teh mencapai 10 kg setiap 2—3 bulan sekali. Hakko Kombucha juga menjalin kerja sama dengan petani besar mangga Mangifera indica di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, yang sohor sebagai sentra.

“Buah mangga terlalu masak masih bisa kami terima, karena diproses sehingga tidak bermasalah,” kata perempuan 25 tahun itu. Herti menuturkan, Hakko masih mencari komoditas buah lain yang kelebihan pasokan saat panen. Lazimnya harga jatuh. Oleh karena itu, Hakko membantu petani dengan menaikkan nilai jual komoditas dan mengolahnya menjadi kombucha yang lebih tahan simpan.

Varian rasa

Ruang fermentasi Hakko Kombucha.

Kapasitas produksi Hakko Kombucha juga bertambah. Ketika masih mahasiswa Herti dan kawan-kawan hanya mampu membuat 100 botol kombucha per bulan. Kini Hakko memproduksi rata-rata 1.800 botol per bulan. Menurut Herti kenaikan produksi setiap bulan 5—10%. Hakko Kombucha memproduksi 2—3 kali setiap bulan.

Setiap kali produksi kurang lebih 200 liter atau setara 600 botol kaca berukuran 330 ml. Herti dan tim menjual kombucha secara daring untuk konsumen langsung. Selain itu mereka juga bekerja sama dengan pedagang yang tersebar di Bogor, Bekasi, Bandung, semua di Jawa Barat, Surabaya (Jawa Timur), Denpasar dan Nusa Dua (Bali), Medan (Sumatera Utara), dan Balikpapan (Kalimantan Timur).

Setelah 2 tahun berusaha, omzet Hakko Kombucha, “Sudah di atas Rp15 juta per bulan dan masih di bawah Rp50 juta,” kata Herti. Hakko Kombucha pada bulan pertengahan Agustus resmi memiliki perusahaan bernama CV Fermentasi Indonesia Sehat. Permintaan yang tumbuh mendorong peningkatan produksi. Oleh karena itu, tim Hakko Kombucha juga bertambah menjadi 5 pemuda pengurus manajerial dan 3 pekerja sebagai staf produksi.

Bibit kombucha atau scoby agen fermentasi teh dan gula.

Eric dan kawan-kawan juga berkreasi dengan menambah varian kombucha, yakni cita rasa mangga dan daun poko atau mint. Adapun varian rasa Hakko Kombucha yang menjadi favorit konsumen adalah buah naga, mangga mint, rosela melati favorit para perempuan, jahe, nanas, teh hitam, dan teh hijau. Selain varian rasa, varian ukuran juga beragam, yakni 80 ml, 330 ml, dan 1.000 ml.

Bukan obat

Menurut Herti konsumen dapat memesan kombucha ukuran 80 ml hanya di pasar daring Sayurbox. Harga per botol kombucha 80 ml hanya Rp10.000, 330 ml (Rp35.000), dan 1.000 ml (Rp65.000). “Para pelaku vegetarian dan laktosa intoleran mencari pengganti produk-produk fermentasi susu yang mengandung prebiotik,” kata Herti.

Hal itu peluang pasar bagi kombucha. Namun, Hakko juga mengalami hambatan. “Kombucha belum ada kategori pangannya di BPOM, sehingga kami belum bisa mendapat izin MD (makanan dalam) dari BPOM,” kata Herti. Kini Herti mengurus pembuatan kategori pangan baru untuk kombucha di BPOM.

Herti (tengah bawah) bersama tim Hakko Kombucha.

Tidak mudah prosesnya. “Waktu itu kombucha sempat dikategorikan sebagai obat, padahal mengonsumsi kombucha tidak perlu dosis seperti halnya mengonsumsi yoghurt,” kata Herti. (Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software