Berkembang Bersama Jambu Kristal

Filed in Buah, Majalah by on 06/05/2022

Lahan Juhri Julpikar semula hanya 2.400 m2, kini meluas hingga 3 hektare.

TRUBUS — Pasokan 30 ton jambu kristal per bulan belum mencukupi permintaan pasar. Itulah sebabnya Juhri Julpikar akan memperluas lahan penanaman. Padahal, ketika memulai agribisnis, luas lahan hanya 2.400 m².

Banyak orang kehilangan omzet atau pekerjaan saat pandemi korona. Itulah sebabnya Juhri Julpikar senang bukan kepalang mendapat omzet Rp240 juta saat pandemi korona. Saat itu pada Desember 2021 Juhri memanen dan menjual 30 ton jambu kristal seharga Rp8.000 per kilogram (kg). Hasil panen itu berasal dari kebun seluas 3 hektare (ha). Jadi, 1 ha lahan menghasilkan sekitar 10 ton jambu kristal setiap bulan. Setelah dikurangi ongkos produksi, Juhri mengantongi laba bersih sekitar Rp105 juta.

Tentu pendapatan Juhri lebih besar jika harga jual lebih tinggi. “Hasil panen itu untuk memenuhi permintaan pasar tradisional dan pesanan secara daring,” kata pekebun jambu kristal di Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.

Permintaan tinggi

Pekebun jambu kristal di Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Juhri Julpikar.

Sebenarnya penghasilan Arba—panggilan akrab Juhri Julpikar—dari penjualan jambu kristal bisa lebih banyak. Alasannya ia juga mengelola kebun seluas 12 ha bekerja sama dengan seorang rekan. Belum lagi pendapatan dari penjualan bibit. Ia menjual minimal 200 bibit seharga Rp15.000/tanaman saban bulan. Dengan kata lain omzet perdagangan bibit mencapai Rp3 juta.

Kapasitas produksi jambu kristal di lahan Arba jauh lebih kecil dibandingkan dengan permintaan. Hitungan kasar Arba permintaan yang belum terpenuhi mencapai 15 ton per bulan. Itu termasuk permintaan beberapa pasar swalayan di Jakarta. Kriteria jambu kristal permintaan mereka yakni mulus, manis, berukuran seragam, dan pasokan kontinu. Menurut Arba Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) masih kekurangan pasokan jambu kristal hingga 3 ton per hari.

Itu baru permintaan dalam negeri. Ia mendapatkan tawaran untuk mengekspor 5 ton jambu kristal per pengiriman ke Timur Tengah pada Juni 2022. “Bisnis jambu masih bagus. Selama ada manusia, jambu masih dicari. Yang penting jaga kualitas,” kata ketua Kelompok Kharisma Tani itu. Para konsumen mengakui jambu kristal produksi Arba memang bagus. Menurut Arba konsumen menghendaki jambu kristal yang renyah dan manis. Oleh karena itu, ia merawat betul-betul kebun jambu kristal miliknya.

Arba menyarankan agar mencari lokasi kebun yang memiliki akses jalan memadai. Tujuannya memudahkan distribusi pupuk dan mengangkut hasil panen. Pastikan juga sumber air relatif mudah untuk penyiraman. Yang tidak kalah penting pilih bibit berkualitas dan jelas tanaman induknya. Dapatkan bibit dari penangkar terpercaya. Populasi tanaman di kebun milik Arba sekitar 1.000 batang per ha dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Ia menanam bibit setinggi 40—50 cm di lubang tanam berukuran 50 cm x 50 xm x 30 cm.

Sebelum bibit masuk, Arba memasukkan 5—10 kg pupuk kandang, 1 sendok makan insektisida, dan 1 genggam garam kasar. Diamkan hingga sepekan. Tiga hari menjelang penanaman, aduk rata media tanam. Arba menganjurkan penanaman di musim kemarau. Tujuannya agar tanaman lebih tahan banting dan beradaptasi lebih awal dengan perubahan lingkungan. Syaratnya ada sumber air yang memadai untuk penyiraman. Toh ketika menanam di musim hujan, nantinya tanaman beradaptasi lagi ketika musim kemarau.

Sentra produksi

Jambu kristal termasuk tanaman yang genjah karena mulai berbuah pada 5 bulan setelah penanaman. “Sebaiknya tidak dibuahkan dulu agar fokus ke pertumbuhan,” kata pekebun jambu kristal sejak 2008 itu. Arba selalu membuang bakal buah hingga tanaman berumur setahun. Sebagai sumber nutrisi, ia memberikan 200 g Urea atau Phonska per tanaman yang belum menghasilkan. Jika tanaman mulai berbuah, Arba menyediakan 300 g Phonska, KCl, dan TSP per tanaman.

Ia juga memberikan pupuk organik cair berbahan urine kambing. Pemberian pupuk itu per 3 bulan. Selain itu Arba rutin menyemprotkan insektisida dan fungisida untuk mencegah dan menanggulangi organisme pengganggu tanaman (OPT). Agar penampilan buah mulus, ia membungkus jambu kristal berukuran bola bekel satu per satu dengan kantong plastik bening plus kertas koran di dalamnya. Pilihan lain menggunakan kantong plastik berwarna putih tanpa kertas koran.

Budidaya jambu kristal menguntungkan karena pasar menunggu pasokan.

Yang paling bagus menggunakan jaring stirofoam, tetapi harganya relatif mahal. Tanda buah siap panen yakni berwarna hijau muda dan ketika diketuk terdengar penuh dan berat. Cara panen dengan menggunting tangkai buah, bukan ditarik dengan tangan. Cara panen memengaruhi masa simpan buah. “Masa simpan jambu hingga 2 pekan jika digunting. Sementara tanpa gunting kesegaran buah bertahan sekitar 2 hari,” kata pria berumur 51 tahun itu.

Dengan perlakuan itu, banyak konsumen yang tersengsem jambu kristal produksi Arba. Keunggulan jambu kristal di Desa Bantarsari dibandingkan dengan daerah lain yakni lebih renyah dan manis. Ia meyakini tanah di Desa Bantarsari juga lebih subur daripada tempat lain sehingga cocok untuk pengembangan jambu. “Saat ini ada sekitar 20 ha lahan yang ditanami jambu kristal,” kata Arba. Bisa dibilang desa berpopulasi sekitar 6.239 jiwa itu salah satu sentra produksi jambu kristal di Kabupaten Bogor.

Arba merupakan pelopor pekebun jambu kristal di desa itu. Kini ia juga merangkap menjadi pengepul jambu kristal. Ia mengelola kelompok tani yang beranggotakan 59 orang. Semua anggota kelompok juga menanam jambu kristal. Perkenalan Arba dengan jambu kristal terjadi pada 2007. Saat itu ia mendapatkan informasi bahwa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan jambu taiwan. Ia pun mencari tahu dan bertemu dengan perwakilan Taiwan yang mengembangkan jambu baru itu.

Menguntungkan

Arba meyakinkan pihak perwakilan Taiwan agar diberikan bibit untuk kebun percontohan di Desa Bantarsari. Semula mereka enggan memberikan karena Arba berasal dari desa lain. Melihat kegigihan Arba, mereka pun memberikan sekitar 240 bibit yang ditanam di lahan 2.400 m². Pembayaran bibit setelah panen (yarnen). Sepekan setelah penanaman, tetangga Arba juga tertarik menanam jambu kristal. Tidak disangka, penanaman jambu kristal di Desa Bantarsari mencapai 20 ha pada 2008.

Pihak perwakilan Taiwan pun kaget dengan pencapaian itu. “Saya tertarik menanam jambu kristal saat itu karena harganya bagus dan harga jambu merah turun,” kata pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, itu. Sebelum mengebunkan jambu kristal, Arba menjadi pekebun jambu merah sejak 1990-an. Jadi sebenarnya ia berpengalaman menanam jambu. Ia optimis tren bisnis jambu kristal pada masa mendatang masih bagus. Oleh karena itu, Arba berencana menambah kebun seluas 5—10 ha demi memenuhi permintaan.

Ia mendorong masyarakat membudidayakan tanaman anggota famili Myrtaceae itu. Harap mafhum banyak permintaan dan potensi pasar yang belum tergarap. Arba siap menerima hasil panen sesuai ketentuan. Jadi, calon pekebun tidak perlu khawatir tentang pemasaran. Yang paling penting menanam jambu kristal menguntungkan. Arba menuturkan, kebun 1 ha menghasilkan 10—15 ton jambu kristal.

Harga jual fluktuatif, tetapi kita asumsikan Rp8.000 per kg sehingga omzet Rp80 juta. Ongkos produksi mencapai Rp45 juta/ha sehingga pekebun mendapatkan profit Rp35 juta. Untuk pekebun pemula, Arba menyarankan minimal penanaman 300 tanaman di lahan 3.000 m². Jika itu berhasil, pekebun baru bisa menambah lahan jika berkenan.

Penyemprotan pestisida menggunakan alat bantuan Bank BRI.

Kesuksesan Arba membudidayakan jambu kristal tidak terjadi dalam semalam. Yang pasti usaha budidaya jambu kristal Arba terus berkembang. Semula ia hanya memiliki kebun jambu seluas 2.400 m², kini ia mengelola 12 ha lahan jambu. Bahkan kebun berpotensi meluas di masa mendatang.

Bank Rakyak Indonesia (BRI) salah satu pihak yang membantu kelancaran budidaya dan bisnis jambu kristal Arba. Ia mengenal BRI sejak 2008. “Kredit usaha rakyat (KUR) sangat membantu operasional kebun jambu saya,” kata Arba. BRI memang berkomitmen untuk terus berkontribusi memajukan usaha masyarakat.

Sejatinya KUR merupakan salah satu program pemerintah dalam meningkatkan akses pembiayaan kepasa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang disalurkan melalui lembaga keuangan dengan pola penjaminan. BRI salah satu lembaga keuangan yang menangani KUR. Selain KUR, bank milik pemerintah itu juga memberikan bantuan berupa sarana produksi pertanian (saprotan) seperti alat penyemprot pestisida, tangga, dan gunting pada 2021.

Bantuan itu termasuk bagian corporate social responsibility (CSR) BRI. “Senang sekali mendapatkan bantuan itu. Jelas sangat menguntungkan,” kata anak ke-3 dari 8 bersaudara itu. Anggota kelompok yang aktif bisa menggunakan saprotan bantuan itu. BRI juga memafasilitasi Arba untuk mengikuti pameran di kantor pusat pada 2021. Kegiatan itu sangat bermanfaat karena ia bisa mempromosikan jambu produksinya yang berkualitas prima. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software