Berkelit dari Risiko Busuk

Filed in Trubus kids by on 01/08/2009 0 Comments

 

Momon Sodik Imanuddin SP, MSc, menyebut, haworthia cuma butuh air sedikit. Itu sejalan dengan kondisi habitat di gurun yang minim air. ‘Karena itu sukulen lebih tahan kondisi stres kering dibanding stres basah,’ kata ahli fisika tanah, irigasi, dan drainase di Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, itu. Maksudnya, sukulen lebih tahan kekurangan air dibanding kelebihan air.

Menurut Momon tanaman hanya mengambil air saat media pada kondisi di antara kapasitas lapang dan titik layu permanen. Kapasitas lapang ialah air yang tertahan di media setelah air yang berada pada pori makro tanah hilang oleh gaya gravitasi. Bila setiap hari disiram, maka kondisi media jenuh air. Artinya pori makro dan mikro media terisi air. Sedangkan titik layu permanen ialah kondisi media yang sangat kering sehingga akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Tanaman layu dan tak dapat pulih kembali.

Ketika air di daerah perakaran berlebih, ‘Kondisinya menjadi anaerob alias miskin oksigen,’ ujar Ir Edhi Sandra MSi, pakar fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan IPB. Kondisi itu ideal untuk tumbuh-kembang cendawan dan bakteri merugikan. Repotnya lagi pada sukulen proses transpirasi-penguapan air dari jaringan tanaman-sukulen sangat kecil.

Tak ingin pengalaman buruk terulang. Angelina memindahkan sukulen dari halaman belakang ke balkon tingkat 2 rumahnya. Tanaman disiram sendiri supaya pemberian air terkontrol. Frekuensinya cukup seminggu sekali menggunakan gembor hingga media campuran pasir malang, sekam mentah, dan pupuk kandang basah.

Daya kapiler

Dr Budiardjo punya cara lain mengamankan koleksi sukulennya dari risiko busuk. Hobiis di Tomang, Jakarta Barat, itu bahkan melakukan percobaan kecil-kecilan hingga menemukan cara ideal. Budiardjo menggunakan pot ganda berbeda ukuran. Pot pertama-sebagai wadah menanam-di dasarnya diberi pasir halus setinggi 3 cm sebelum diisi media. Pasir halus berperan menyerap kelebihan air di media.

Pot itu lalu dimasukkan ke dalam pot kedua yang ukurannya lebih besar tapi ceper. Dasar pot kedua juga diisi pasir halus setinggi 6 cm. Posisi pot pertama terbenam 1-2 cm ke dalam pasir di pot ke-2. Pasir halus di pot pertama pun bersentuhan dengan pasir di pot kedua. Ketika penyiraman, air yang tertahan di media ‘diserap’ pasir halus pot ke-2 karena adanya daya kapiler yang lebih besar. Sisa air di pori mikro media di pot 1 hilang, sukulen busuk akibat kelebihan air pun bisa dihindari.

Teknik serupa diterapkan Linda Wijaya di Surabaya, Jawa Timur. Linda meletakkan pot-pot tanaman sukulennya di atas rak beton beralaskan pasir malang setebal 1 cm. Prinsip daya kapiler itu tak hanya berlaku untuk tanaman sukulen dalam pot, tapi juga yang ditanam di lahan.

Menurut Erminus Temmy dari nurseri Venita di Lembang, Jawa Barat, untuk mengecek kapan waktu tepat menyiram sukulen bisa dengan melihat media. Bila butiran media kering keluar dari dasar pot saat diangkat, itulah waktu tepat penyiraman sukulen. ‘Umumnya penyiraman dilakukan 4 hari sekali di musim kemarau dan setiap 1-2 minggu pada musim hujan,’ tambah Temmy.

Untuk kebun dengan populasi massal bisa saja digunakan alat penyiram otomatis supaya praktis. Cukup menyetel waktu dan lama penyiraman, seluruh sukulen mendapat air siraman yang sama banyak secara bersamaan. Alat serupa, tapi lebih sederhana, bisa juga dipakai oleh hobiis sibuk seperti Angelina. Jika sering berada di rumah, hobiis cukup bersenjatakan gembor untuk menyirami tanaman satu per satu.

Sesuaikan pilihan

Menurut Momon frekuensi penyiraman itu terkait jenis media yang dipakai. Itu karena setiap media memiliki kemampuan memegang air berbeda. Contohnya pasir dan tanah liat. Yang disebut pertama memiliki sedikit pori-pori mikro sehingga air yang tertahan di media rendah. Beda dengan tanah liat-yang mempunyai pori-pori mikro banyak-sehingga mampu memegang air lebih tinggi. Media yang kuat memegang air ialah moss dan cocopeat. Karena perbedaan itu frekuensi penyiraman tanaman pun beda. ‘Jika menggunakan media berpasir, penyiraman dilakukan 4 hari sekali. Sementara jika pakai tanah liat, 7 hari sekali,’ kata Momon.

Pemilihan media juga sebaiknya disesuaikan dengan lokasi penanaman. Media yang cocok di dataran tinggi belum tentu baik di dataran rendah. Endang Werdiningsih di Sleman, Yogyakarta, selalu mengganti media sukulen yang dibeli dari Kopeng, Semarang, Jawa Tengah-berketinggian 800 m dpl. Endang menggunakan media pasir malang dan sekam bakar dengan perbandingan 1:2. Kedua media itu porous alias mudah mengalirkan air.

Andri Listyawan di Kebumen, Jawa Tengah, memakai 1 bagian pasir malang dan 2 bagian pasir sungai halus. Untuk mengikat air, pemilik nurseri Sekarbinangun itu menambahkan pupuk kandang dan sekam bakar dengan komposisi masing-masing 10-20% dari volume media. Penyiraman hingga basah dilakukan 3 hari sekali di musim kemarau. Musim hujan, 5 hari sekali. Dengan pemberian air secara tepat kematian sukulen akibat busuk pun dapat dihindari. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Destika Cahyana, Faiz Yajri, Imam Wiguna, dan Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software