Berkat Putri Sulung

Filed in Topik by on 01/02/2013 0 Comments
Bentuk umbi bulatmemanjang, dengankulit dan daging buahkekuningan

Bentuk umbi bulat memanjang, dengan kulit dan daging buah kekuningan

Irit bibit, hemat pupuk, tinggi produksi. Semua kebaikan itu ada pada nadia.

Membicarakan nadia berarti membahas kelebihan kentang baru hasil seleksi Wildan Mustofa, pekebun di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sejak 2007 Wildan rutin menanam nadia. Penanaman terakhir pada November 2012 di lahan 6 ha. Tanpa seabrek kelebihan, alumnus Institut Pertanian Bogor itu mungkin telah meninggalkan nadia.

Kelebihan pertama nadia, kebutuhan bibit yang hanya 1.200 kg per ha. Itu 300 kg lebih hemat setara Rp2,7-juta per ha. Harga benih kentang Rp9.000 per kg. Populasi nadia pun berkurang menjadi 35.000 tanaman per ha. Pekebun kentang di Garut, Jawa Barat, Ade Iin, membudidayakan kentang granola berjarak tanam 35 cm x 70 cm sehingga total populasi 40.000 tanaman per ha. Soal volume bibit, pekebun nadia terbukti menang.

 

Cukup ruang

Mengapa hemat bibit? Sosok tanaman nadia bongsor sehingga jarak tanam lebih longgar menjadi 40 cm x 70 cm. Maklum, diameter “batang” nadia bisa mencapai 2-2,5 cm pada umur 60 hari pascatanam. Bandingkan dengan varietas granola pada umur sama, 60 hari, diameter “batang” hanya 1,5 cm. Selain itu kentang nadia 20% lebih rimbun dibandingkan dengan granola. “Kalau tidak direnggangkan, daun akan saling bersentuhan saat tumbuh sehingga pertumbuhan tidak optimal,” kata pria berusia  45 tahun itu.

Menurut Prof GA Wattimena MSc PhD dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, tanaman memerlukan cukup ruang agar tumbuh optimal. Ruang itu terutama untuk memaksimalkan intensitas cahaya saat fotosintesis. Semakin bongsor tanaman, semakin banyak memerlukan ruang. Jika petani menanam kentang berdekatan, tajuk akan saling bersentuhan sehingga intensitas cahaya yang diserap masing-masing tanaman lebih sedikit. Meski demikian, bukan berarti petani harus menanam secara berjauhan. “Hasil per tanaman mungkin meningkat, tapi hasil total per luasan bisa jadi malah berkurang,” kata guru besar itu.

Kebaikan kedua nadia, irit pupuk. Wildan membenamkan pupuk dasar berupa 10-15 ton kotoran sapi dan 1 ton campuran pupuk Urea, SP 36 dan KCl per ha. Pada hari ke-25-30 pascatanam, ia tidak menambahkan 10 g NPK per tanaman seperti petani lain. Dengan harga pupuk NPK Rp2.500 per kg, artinya ongkos per musim tanam terpangkas Rp1.000.000 per ha. Meski pupuk minim, nadia mampu tumbuh optimal. ”Perakaran serta stolon lebih banyak sehingga tidak perlu pupuk tambahan,” tutur Wildan Mustofa.

Menurut Wattimena secara teori semakin banyak akar, maka kian baik tanaman menyerap unsur hara dengan jangkauan lebih luas. Selain itu akar merupakan pabrik sitokinin alias hormon pertumbuhan. Saat sampai di daun, hormon itu memicu produksi klorofil alias zat hijau daun sehingga daun tampak hijau. Tingginya jumlah klorofil menjadikan fotosintesis optimal. Ujung-ujungnya energi untuk mengisi umbi melimpah sehingga umbi menjadi bongsor.

Ini dia yang paling membanggakan pekebun, produksi nadia mencapai 30-33 ton; granola 20-25 ton per ha. Lebih dari 10 kali Wildan menanam nadia, hasilnya konstan, 30 ton per ha! Selisih 5 ton per ha jelas amat signifikan. Pada tingkat harga Rp5.000 selisih itu setara Rp25-juta per ha. Singkat kata nadia memang hemat bibit, hemat pupuk, tinggi produksi. Ideal benar bagi sebuah komoditas.

Hasil seleksi

Sebetulnya nadia masih “keturunan” granola, varietas asal Jerman yang dirilis pada 1975 oleh Pflanzenschut. Menurut Ir Kusmana, periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, bibit granola masih langka sehingga pada 2000 Indonesia mengimpor bibit dari Tiongkok dan Bangladesh. “Mungkin saat itu benihnya tercampur dengan benih lokal di negara itu sehingga tidak murni lagi,” kata Kusmana. Efeknya, kentang yang ditanam petani pun tercampur-baur, tidak hanya granola.

Pada saat bersamaan, Wildan justru menyeleksi berbagai bibit kentang granola yang biasa ditanam di lahannya seluas 20 ha. Wildan memilih 10 tanaman per ha berproduksi tinggi, yakni 11-14 umbi per tanaman, serta penampilan umbi bersih dan cerah. Ia lalu memperbanyak kesepuluh aksesi itu dan menyeleksi lagi sehingga memperoleh 10 yang terbaik. Demikian seterusnya sampai 4 generasi. Saat itu Wildan memperoleh 2 aksesi unggul, dengan nadia menunjukkan penampilan terbaik. Ia lantas memperbanyak nadia secara kultur jaringan.

Sejatinya peluang tanaman bermutasi karena faktor alam sangat kecil. Menurut Kusmana faktor lingkungan seperti iklim, struktur tanah, cahaya matahari yang mengandung sinar ultraviolet dapat menjadi mutagen yang membuat tanaman bermutasi. “Peluang tanaman bermutasi tanpa campur tangan manusia hanya satu banding sejuta,” tutur Kusmana. Terbukti saat uji DNA, hasil analisis RAPD (random amplified polymorphic DNA)-metode untuk mendeteksi DNA secara cepat-struktur genom nadia berbeda dengan granola.

Sebelum dilepas sebagai varietas unggul, nadia mesti melewati uji BUSS (baru, unik, seragam, dan stabil). Baru, artinya belum pernah terdaftar sebelumnya. Unik memiliki perbedaan mencolok dengan varietas sebelumnya. Seragam artinya memiliki penampilan sama dalam setiap populasi dan bebas dari campuran benih lain. Adapun sifat stabil berarti hasilnya konsisten di berbagai tempat, musim, sampai saat dibenihkan kembali.

Lebih lama

Uji multilokasi nadia di Majalengka, Garut, dan Bandung-semua di Provinsi Jawa Barat-sejak November 2006-September 2007 cukup memuaskan. Produksi stabil dengan rata-rata 30,89 ton per ha. Itu melampaui granola yang hanya 28,83 ton. Sebagai gambaran Wildan menuai 30-33 ton nadia per ha. Selain unggul, cita rasa nadia juga top: 20 petani dan 20 penguji rasa dari perusahaan makanan di Bandung menyatakan puas.

Sebanyak 66,7% menyukai rasanya dan 33,3% petani menyatakan sangat suka. Adapun di tingkat penguji rasa 50% responden berkata suka dan 50% berkata sangat suka. Tidak ada responden yang menyatakan tidak suka. Dengan kelebihan itu, pantas saja nadia menjadi buah bibir di kalangan petani. Penanaman nadia meluas sampai ke Wonosobo dan Brebes, keduanya  di Jawa Tengah, serta Probolinggo di Jawa Timur.

Kualitas umbi nadia pun prima. Sebanyak 30% hasil panen Wildan termasuk kelas AL dengan bobot lebih dari 200 g; 60% kelas AB (bobot 60-200 g); 10% sisanya yang berbobot kurang dari 60 g masuk kelas DN. Bandingkan dengan granola yang hanya menghasilkan 20% kelas AL, 60% kelas AB, dan 20% di kelas DN. Jika harga kelas AL Rp6.000 per kg, kelas AB Rp5.000 per kg, dan kelas DN Rp4.000 per kg, maka omzet per ha mencapai Rp156-juta.

Saat menanam granola, Wildan hanya meraup omzet Rp125-juta. Adapun biaya produksi menanam nadia per ha mencapai Rp36,8-juta terdiri atas biaya tenaga kerja dari tanam sampai panen Rp15-juta, pupuk kandang dan kimia Rp8,5-juta, pestisida Rp2,4-juta, retardan Rp150.000, dan bibit Rp10,8-juta. Retardan senyawa yang dapat menghambat sintesis asam giberelin pada tanaman, sehingga ukuran organ tanaman menjadi kerdil tetapi tidak menghambat laju pertumbuhan tanaman.

Pekebun perlu memberi retardan ketika tanaman berumur 50 hari karena nadia tumbuh bongsor. Sebanyak 10 g retardan dilarutkan dalam 600 l air untuk sehektar lahan. Kerepotan itu menyebabkan sebagian petani enggan menanam nadia. “Padahal, sekali menanam pasti ketagihan,” kata Soheh Sopandi, pekebun di Pangalengan. Adapun biaya produksi granola relatif sama, kecuali  biaya pengadaan bibit lebih tinggi Rp2,7-juta untuk bibit dan Rp875.000 untuk pupuk susulan tanpa perlakuan retardan.

Betul, tak ada gading yang tak retak. Nadia juga memiliki “kelemahan” yakni umur panen lebih lama, 120-125 hari; granola 105-110 hari setelah tanam. Musababnya, masa vegetatif nadia lebih lama. Namun, apalah arti menunggu 2 pekan panen demi laba berlipat-lipat. Semua itu berkat nadia-nama varietas itu diambil dari nama putri sulung Wildan Mustofa, sang pemulia. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Kentang nadia hasil seleksi dari kentang granola
  2. Bentuk umbi bulat memanjang, dengan kulit dan daging buah kekuningan
  3. Ir Kusmana, peluang terjadi mutasi di alam satu banding sejuta
  4. Sepintas penampilan umbi nadia (kiri) susah dibedakan dengan granola (kanan)
  5. Wildan Mustofa bisa memanen sebanyak 30 ton umbi kentang per ha, biasanya hanya 25 ton
  6. Awalnya nadia diperbanyak secara kultur jaringan
 

Powered by WishList Member - Membership Software