Berjaya di Sayuran Organik

Filed in Majalah, Muda by on 03/06/2017
Pertanaman tomat ceri di kebun Sayur Organik Merbabu Farm.

Pertanaman tomat ceri di kebun Sayur Organik Merbabu Farm.

Omzet hingga Rp80-juta sebulan hasil perniagaan sayuran organik.

Sepanjang manusia butuh makan, pertanian memiliki peluang bisnis yang menjanjikan. Shofyan Adi Cahyono bukan hanya mengatakan hal itu. Mahasiswa semester ke-7 di Jurusan Agroteknologi, Universitas Kristen Satya Wacana, itu juga membuktikannya. Shofyan berkebun sayuran organik di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pemuda berusia 22 tahun itu membudidayakan sayuran organik lantaran eksklusif dan berdaya jual lebih tinggi. Di bawah bendera Sayur Organik Merbabu Farm ia menanam aneka selada, kale, dan tomat. Luas lahan sekitar 1,1 hektare dan tersebar di 5 lokasi. Total panen sayuran mencapai 300 kg setiap hari. Anak muda itu lantas mengirim sayuran segar ke sejumlah disributor langganan.

Meninggalkan kedokteran
Shofyan Adi Cahyono menuturkan, “Distributor tersebar di beberapa kota seperti Yogyakarta, Salatiga, Temanggung, Magelang, dan Semarang.” Dari perniagaan sayuran itu, Shofyan meraup omzet Rp60-juta—Rp80-juta setiap bulan. Ia tertarik menanam sayuran lantaran tumbuh di lingkungan keluarga besar pekebun sayuran. Ayahnya kerap mengajak Shofyan kecil pergi ke kebun. Di sana Shofyan belajar meracik pupuk, menyiangi gulma, atau mengenal jenis sayuran.

Shofyan Adi Cahyono meraup omzet puluhan juta rupiah dari hasil berkebun sayuran organik.

Shofyan Adi Cahyono meraup omzet puluhan juta rupiah dari hasil berkebun sayuran organik.

Usai lulus dari sekolah menengah atas, Shofyan melanjutkan pendidikan di kampus pertanian. Ia bertekad menguasai ilmu pertanian secara menyeluruh untuk memajukan bisnis keluarga. Padahal, pada waktu yang bersamaan pula ia diterima di fakultas kedokteran. Namun, ia menolak kesempatan itu. Alasannya biaya yang diperlukan setara dengan tanah seluas 2.000 m² .“Uang sebanyak itu bisa digunakan untuk mengembangkan kebun,” katanya.

Shofyan bertekad untuk menjadi petani sukses yang menguasai teori dan lapangan. Pada 2014 saat menjadi mahasiswa tingkat pertama ia mantap berkebun sayuran organik. Pemuda itu tidak menggunakan bahan kimia apa pun. Untuk pupuk dasar ia mengandalkan kotoran sapi atau ayam, dolomit, dan kompos.

Adapun untuk pupuk susulan ia memanfaatkan urine sapi hasil fermentasi sebagai sumber nitrogen. Sementara sumber fosfor dan kalium berupa fementasi pelepah pisang dan kroton. Begitu pula dengan pengendalian hama. Shofyan tidak menggunakan pestisida kimia. Pemuda itu mengendalikan hama dengan 3 cara, yakni fisik, kultur teknis, dan biologis. Ia juga meracik pestisida alami sendiri.

Teknik budidaya tumpangsari juga salah satu cara untuk menekan populasi hama dan penyakit.

Teknik budidaya tumpangsari juga salah satu cara untuk menekan populasi hama dan penyakit.

Bahan-bahan pestisida itu antara lain titonia, babadotan, dan kenikir. Cara membuatnya cukup gampang. Shofyan mengumpulkan semua bahan lalu memfermentasikannya selama sepekan. Setelah itu pestisida siap pakai. Sebelum aplikasi ia melarutkan ke dalam air dahulu. Shofyan juga menanam sayuran dengan cara tumpangsari sebagai upaya untuk menekan pertumbuhan hama dan penyakit.

Media sosial

Shofyan menanam selada berdampingan dengan kale. “Selada kurang disukai ulat sehingga kale pun aman,” katanya. Ia paham betul masyarakat sangat membutuhkan sayuran organik. “Penggunaan bahan-bahan kimia lambat laun membahayakan bagi kesehatan manusia,” katanya. Perlahan tanah dan lingkungan pun tak lagi subur. Dengan budidaya organik secara tidak langsung merupakan upaya untuk menjaga kelestarian alam.

Namun, jalan Shofyan berniaga sayuran organik tak semulus yang dikira. Yang paling membekas di ingatan ketika ia mengalami penolakan saat mengikuti sebuah kompetisi kewirausahaan. Ketika itu ia mengajukan dana Rp10-juta untuk membangun greenhouse sebagai instalasi untuk berkebun sayuran organik. Sayang pemilik dana menolak proposal itu karena menganggap pertanian organik tidak menguntungkan. Pemilik dana hanya memberikan Rp1,5-juta.

Shofyan Adi Cahyono

Shofyan Adi Cahyono

Shofyan lantas menggunakan uang itu untuk membeli mesin wrapping. Shofyan menuturkan selama ini penanganan pascapanen komoditas pertanian kurang baik. “Pengemasan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual produk,” katanya. Pada 2014 Shofyan mengikuti pesta agrikultur di kampus. Ia menjual sayur-mayur hasil kebunnya dengan kemasan apik berbobot 300 gram dan 500 gram.

Harga jualnya antara Rp7.000 sampai Rp15.000 tergantung jenis sayuran. Sayang dari hasil penjualan itu ia hanya memperoleh pendapatan Rp400.000. Pendapatan itu hanya pas untuk membayar stand. Shofyan lantas berinisiatif untuk mempromosikan produk lewat media sosial. Berkat promosi yang gencar di media sosial akhirnya ia bertemu dengan distributor sayuran di Yogyakarta dan Salatiga pada 2015.

Ia juga membuka layanan pesan antar ke konsumen. Dengan menggunakan sepeda motor ia menempuh perjalanan Kopeng—Salatiga setiap pagi. Ia menjalani aktivitas itu selama setahun. Bukan pekerjaan mudah sebab ia harus pandai membagi waktu dengan jadwal kuliah. Rupanya cara itu cukup jitu. Shofyan mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1,2-juta setiap bulan. Seiring dengan peningkatan permintaan omzet Shofyan pun kian besar. (Andari Titisari)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software