Berjasa Sedari Muda

Filed in Topik by on 01/10/2011

 

Xanthone terbentuk sejak buah berumur satu bulan setelah anthesis alias bunga mekar (BSA) (a) 1 BSA = 14,67 mg/g (b) 2 BSA = 16,21 mg/g (c) 3 BSA = 15,74 mg/g (d) 4 BSA = 15,68 mg/g (e) 4 minggu setelah simpan = 34,36 mg/gBuah: Serat Karbohidrat Vitamin A, B2, B6, dan C Mineral seperti zat besi, kalsium, kalium Xanthone - Kulit: Antioksidan Antibakteri Antifungi Antialergi Antitumor Antihistamin AntiinflamasiGJ Kartika dari Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mengamati, di sentra penanaman manggis di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, tingkat kejadian bunga menjadi buah-fruitset-mencapai 91,14%. Namun, kebanyakan buah pentil kemudian gugur hingga 41,05%.

Buah-buah muda berkulit hijau muda segar itu dibiarkan berserak di kebun. Paling banter dikumpulkan dan dipendam sebagai sumber hara organik, bersama buah-buah hasil panen tapi tak lolos sortir untuk pasar ekspor. Padahal riset Dr Ani Kurniawati menunjukkan buah-buah muda itu justru kaya xanthone.

Kulit hijau

Dalam riset sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar doktor pada Program Studi Agronomi, Faperta, IPB, itu terbukti xanthone pada kulit manggis sudah terbentuk sejak buah berumur satu bulan setelah bunga mekar (BSA). Pada umur satu BSA kadar xanthone sebesar 14,67 mg/g. Selanjutnya hingga umur empat BSA-saat buah dipanen-kandungan xanthone relatif sama (lihat ilustrasi).

Kadar xanthone justru meningkat hingga 4 minggu buah disimpan. Ani menduga peningkatan itu terkait perubahan kimiawi dalam buah terkait proses respirasi. Xanthone berperan sebagai antioksidan yang bertugas mengimbangi peningkatan radikal bebas karena adanya respirasi pada masa penyimpanan buah. Berbagai kualitas fisik buah (besar, kecil, mulus, bergetah, burik) tidak mempengaruhi kadar xanthone hasil ekstraksi kulit manggis kering. “Itu berita baik karena buah dengan kualitas buruk sekalipun masih dapat dimanfaatkan,” tutur dosen mata kuliah Tanaman Obat, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB itu kepada Tri Istianingsih, wartawan Trubus.

Riset itu juga mengungkap kandungan xanthone pada kulit manggis dari lima sentra di tanahair: Wanayasa (Purwakarta), Watulimo (Trenggalek), Kaligesing (Purworejo), Puspahiang (Tasikmalaya), dan Leuwiliang (Bogor) relatif sama. Aktivitas antioksidan tertinggi sebagai penangkap radikal bebas tercatat pada manggis dari Leuwiliang, Wanayasa, dan Kaligesing diikuti Puspahiang dan Watulimo.

Itu tergambar dari angka IC50, yaitu konsentrasi ekstrak yang menghasilkan 50% penghambatan berturut-turut sebesar 11,85 ppm, 12,21 ppm, 13,70 ppm, 14,61 ppm, dan 21,78 ppm dengan pengukuran menggunakan metode radical scavenging. Metode itu mengukur kapasitas ekstrak kulit manggis terhadap penangkapan radikal bebas 2,2-difinil-1-pikrilhidasil (DPPH). Semakin kecil angka IC50 semakin baik. Pembanding pada uji ini adalah standar senyawa antiokasidam alfa-tokoferol sebesar 10,43 ppm. Kemampuan menangkap radikal bebas pada buah muda lebih tinggi ketimbang buah tua yaitu 6,31 ppm pada satu BSA dan 6,79 ppm (dua BSA).

Dua keluarga

Xanthone merupakan kelompok senyawa bersifat antioksidan, antibakteri, antifungi, antialergi, antitumor, antihistamin, dan antiinflamasi. Antioksidan membantu mengenyahkan radikal bebas, menghambat penuaan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengontrol penyakit degeneratif seperti arthritis, sebagai terapi untuk penyakit kardiovaskular semisal hipertensi, penyakit jantung iskemik, dan atherosklerosis alias penyumbatan dalam pembuluh darah. Harap mafhum dengan struktur cincin 6 karbon dan kerangka karbon rangkap, xanthone sangat stabil dan serbaguna.

Bioflavonoid itu diduga merupakan komponen mekanisme pertahanan tanaman seperti dibuktikan riset pada kultur sel tanaman st john’s wort Hypericum perforatum. Pada riset yang dilaporkan oleh LFR Conceicao dan rekan pada 2006 itu, kandungan xanthone st john’s wort meningkat 12 kali ketika sel diberi perlakuan methyl-jasmonate (MeJ) atau asam salisilat (SA). MeJ senyawa yang mampu menginduksi tanaman menghasilkan berbagai jenis bahan kimia pertahanan tubuh.

Berbagai studi menunjukkan di alam xanthone hanya ditemukan pada dua famili: Clusiaceae dan Gentianaceae. Sebagai contoh senyawa 1,7-dihidroksixanthone, 1,3,6,7-tetrahidroksixanthone, dan 1,3,5,6-tetrahidroksixanthone yang diisolasi dari kulit batang gajah kandis Garcinia griffithii, serta 1,2,5,8-tetrahidroksixanthon yang ditemukan pada akar Swertia chirata alias gentian chirata, tanaman herbal endemik Himalaya.

Dari 200-an xanthone yang diisolasi dari alam, sebanyak 40-50 jenis ditemukan pada manggis Garcinia mangostana. Senyawa itu terdapat pada kulit buah dan biji, kulit batang, daun, serta sebagian kecil di daging buah manggis. Periset di Departemen Kimia, National University of Singapore, mengisolasi senyawa mangoxanthone, xanthones dulxanthones D, 1,3,7-trihidroksi-2-meth-oksixanthone, 1,3,5-trihidroksi-13, 13-dimetil-2H-pyran [7,6-b], dan xanthone-9-one pada inti batang pohon manggis.

“Pemanfaatan kulit manggis untuk produksi xanthone lebih didorong karena ketersediaannya melimpah dan selama ini terbuang,” tutur Prof Dr Roedhy Purwanto, periset di Pusat Kajian Buah Tropika IPB. Roedhy yang juga ketua komisi pembimbing pada riset Ani Kurniawati menyebut sebanyak 30-40% produksi manggis tanahair tidak lolos pasar ekspor maupun lokal. Dari setiap buah sebanyak 70% berupa kulit. Di antara jenis xanthone pada manggis, yang digadang-gadang paling bermanfaat adalah alfa mangostin dan gamma mangostin.

Kandungan beragam senyawa bermanfaat membuat berbagai bagian tanaman manggis dimanfaatkan sebagai herbal sejak lama. Dalam ilmu pengobatan tradisional China, kulit buah yang namanya diambil dari nama penjelajah Perancis Laurent Garcin itu dibuat menjadi salep untuk mengobati eksem.

Masyarakat Filipina merebus daun dan kulit batang sebagai obat penurun panas, diare, disentri, dan sulit berkemih. Bukti ilmiah kini mengerucut pada khasiat xanthone di kulit buah untuk mengatasi beragam penyakit maut seperti jantung, kanker, diabetes, dan HIV/AIDS. Herbalis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati menyarankan pasien tumor dan kanker untuk mengonsumsi seduhan kulit manggis sebagai sumber antioksidan. (Evy Syariefa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software