Berhidroponik di Halaman

Filed in Komunitas, Majalah by on 13/05/2016

Komunitas menggerakkan warga untuk berbisnis sayuran hidroponik.

Komunitas Hidroponik Karawang kini membentuk Koperasi Tani Karawang.

Komunitas Hidroponik Karawang kini membentuk Koperasi Tani Karawang.

Pekarangan Nia Kurniawan berukuran 3 meter x 4 meter tak lagi kosong. Warga Desa Kiarapayung, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu membudidayakan beragam sayuran seperti selada di 270 lubang tanam dan pakcoy (180 lubang tanam) yang tertata apik di beberapa talang sepanjang 2 m. Pria 42 tahun itu menanam sayuran anggota Brassicaceae itu menggunakan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT).

Kang Opus—nama panggilang Nia—mampu memanen sayuran hidroponik itu setiap pekan. Ia menanam dan menyemai rutin kedua komuditas itu pada hari Senin sehingga tidak ada talang yang kosong. Setiap pekan ia mampu menghasilkan masing-masing 90 batang pakcoy dan selada dengan bobot total 18 kg. Dengan harga jual Rp15.000 per kg, omzet Nia Kurniawan mencapai Rp270.000 sepekan. Padahal, semula halaman itu kosong belaka.

Hobi hidroponik

Selada hidroponik hasil budidaya Komunitas Hidroponik Karawang siap pasok sayuran di Hypermart Karawang.

Selada hidroponik hasil budidaya Komunitas Hidroponik Karawang siap pasok sayuran di Hypermart Karawang.

Kang Opus tidak perlu repot menjual sayurannya ke pasar. Setiap panen petugas koperasi mengambil hasil panen dan menjual ke pasar swalayan di Karawang. Harap mafhum, Kang Opus menjadi anggota Koperasi Tani Karawang sekaligus Komunitas Hidroponik Karawang atau Asosiasi Hidroponik Karawang (AHIK). Begitu juga yang dirasakan oleh 24 anggota lain koperasi yang terdaftar sebagai produsen sayuran.

Sebelum bergabung dengan komunitas hidroponik, Kang Opus dan beberapa rekannya aktif mengikuti kegiatan di AHIK. Komunitas yang lahir di jejaring sosial facebook pada 23 Agustus 2014 itu kini sudah memiliki 2.836 pengikut dari Kawarang, Depok, Bekasi, dan Jakarta. Menurut ketua komunitas AHIK, Ajud Tajrudin, komunitas itu mengajak masyarakat Karawang memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran secara hidroponik.

Semula Ajud membuat instalasi hidroponik sederhana di rumahnya sebagai tempat percontohan dan belajar setiap anggota komunitas. “Setelah belajar hidroponik biasanya setiap anggota komunitas langsung tertarik dan membuat hidroponik sederhana di rumahnya,” ujar Ajud. Sekarang ada lebih dari 300 orang yang memiliki instalasi hidroponik sederhana di rumahnya.

Instalasi hidroponik di Hypermart Karawang berisi sayuran hidroponik segar dan hidup.

Instalasi hidroponik di Hypermart Karawang berisi sayuran hidroponik segar dan hidup.

Selain belajar hidroponik secara langsung, komunitas itu juga kerap menjual hasil sayuran hidroponik di pasar pagi setiap pekan. “Kegiatan menjual hasil panen itu sekaligus mengedukasi ke orang lain tentang hidroponik,” ujar bapak dua anak itu.

Usaha Ajud dan rekannya untuk mensosialisasikan hidroponik di Karawang membuahkan hasil. Sekarang sudah ada 16 kecamatan dari 30 kecamtan di Kabupaten Karawang yang memiliki kebun percontohan hidroponik. “Kebun itu tidak harus besar. Yang penting sistem hidroponik yang tersedia harus sesuai dengan prosedur standar operasional yang susuai di Karawang,” ujarnya.

Koperasi
Produksi sayuran hidroponik yang tersedia setiap hari membuat komunitias itu memerlukan pasar lebih besar. “Sekitar 1 tahun kami mencoba menawarkan sayuran hidroponik ke beberapa pasar swalayan besar,” ujar Ajud.

Koperasi Tani Kawarang juga menyediakan nutrisi hidroponik berbentuk cair dan granul.

Koperasi Tani Kawarang juga menyediakan nutrisi hidroponik berbentuk cair dan granul.

Akhirnya mereka diberikan kesempatan untuk memasok sayuran hidroponik di Hypermart dan Yogya—keduanya di Karawang. Ajud dan rekannya pun berinisiatif membentuk Koperasi Tani Karawang untuk mengatur harga dan sistem pemasokan sayuran hidroponik ke dua pasar swalayan itu. Koperasi itu memiliki 65 anggota dan hanya 25 orang yang mendaftarkan diri sebagai produsen sayuran hidroponik.

Menurut Sekertaris Koperasi Tani Karawang, Yayang Sofyan, semua produsen sayuran hidroponik memiliki jadwal semai dan panen tertentu agar pasokan sayuran ke dua pasar swalayan itu dapat terpenuhi setiap hari. Selain jadwal semai dan panen, masing-masing petani hidroponik juga memiliki komoditas tertentu untuk ditanam. Seperti Reza Heryanto, bendahara Koperasi Tani Karawang sekaligus produsen sayuran hidroponik yang hanya menanam pakcoy.

Mereka menjual sayuran hidroponik dengan instalasi hidroponik yang terpasang di dalam pasar swalayan. “Jadi tidak hanya segar tapi juga sayuran hidup yang kami jual,” ujar Yayang. Seperti yang terdapat di Hypermart Karawang, satu instalasi hidroponik dengan sistem NFT diletakkan di dekat rak sayuran. Sekitar 120 lubang tanam setiap hari diisi beberapa sayuran hidroponik seperti pakcoy, selada, dan bayam merah.

Reza Heryanto, menanam pakcoi di pekarang berukuran 1 meter x 2 meter.

Reza Heryanto, menanam pakcoi di pekarang berukuran 1 meter x 2 meter.

Menurut Sofian Noval dari Divisi Manajer Hypermart Karawang, sayuran hidroponik lebih diminati pembeli daripada sayuran konvensional. Selain harga yang tidak jauh berbeda dengan sayuran lainnya, sayuran hidroponik lebih tahan lama. “Jika sayuran konvensional hanya bertahan satu hari untuk dipajang, sayuran hidroponik kuat hingga sepekan,” ujarnya. Harga jual sayuran hidroponik Rp 2.500 per batang. (Ian Purnama Sari)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software